HANDSOME GHOST

HANDSOME GHOST
Terbang



Ketika itu Maira dan Nina dengan girangnya terbang dengan sapu Si Kakek Penyihir itu.


"Ahahaha...ada gunanya juga sapu penyihir ini" tawa Maira sambil merentangkan tangannya di udara.


Sementara Beni, dia terlihat tidak suka dengan ini,


"Hei, heiii kalian berdua bisa diam gak? Kalian ini seperti orang gak waras. Jaga keseimbangan, nanti bisa-bisa kita jatuh, beruntung kalo jatuh disediain kasur, nahh gimana kalo kalian nyungsep ke taik sapi, mau hahh?" ungkap Beni, dia sedikit risih mendengar mereka teriak-teriak.


"Ya elah Ben, gitu aja kok marah, dasar kamu itu setan apa hantu sih? sensi banget" ungkap Maira dengan nada kesal.


"Emang beda ya hantu sama setan?" tanta Beni dengan nada kesal pula.


"Ya jelas beda dong, masa kamu gak tau, kamu kan hantu, masa kamu gak tau perbedaan kamu sama sodara sendiri" ungkap Maira yang saat itu juga tak tau apa yang dikatakannya sendiri.


"Ayo katakanlah, nyonya yang maha tau, apa perbedaannya?" ungkap Beni teriak dari depan.


"Ya gitu deh, hantu itu biasanya baik dan setan biasanya kan jahat, sedangkan kamu tidak terlihat seperti hantu, kamu malah terlihat seperti setan ketiban duren, jadinya kamu seperti hantu jadi-jadian" ungkapnya dengan sinis, padahal Maira ngaco berkata seperti itu, dia tidak tau sama sekali tentang dunia perhantuan.


Sementara Beni tertawa terkekeh-kekeh mendengarnya.


"Sok tau kamu, Mai. Aku dari dulu emang gini" ungkap Beni sambil menahan tawanya.


Lalu dari belakang, Nina berteriak "Beni, kita mau kemana lagi setelah ini?" tanya Nina.


"Entahlah aku juga gak tau" jawab Beni.


"Kita pulang aja dulu yu! Kita udah berapa hari disini? Pasti orang tuaku khawatir" ungkap Maira mengingatkan.


"Iya Mai, aku sampai lupa pulang ke rumah" sahut Nina sambil berteriak di belakang. Membuat telinga Maira hampir pecah dibuatnya.


"Biasa aja kali Na, jangan teriak suaramu itu cempreng kau akan merusak telinga indahku" ucap Maira sambil mendelik.


"Iya baiklah, kita pulang aja" Beni menuruti permintaan mereka berdua.


"Eh, tapi bagaimana caranya kita keluar dari hutan ini?" Nina bertanya sembari menggelengkan kepalanya.


Mereka yang melayang terbang di udara, langsung berpikir sejenak untuk keluar dari hutan ini.


"Ahhhhh, coba liat lagi buku itu, Mai" Perintah Beni.


"Oke" ungkap Maira mengangguk sambil membuka lembaran buku.


Nina membaca dengan seksama sisa lembaran buku.


"Apa katanya, Mai?" Beni bertanya dari depan sambil menoleh ke arah Maira.


"Apa ini, Ben? Aku gak ngerti tulisannya" ungkap Maira. Dia terlihat bingung dengan tulisannya. Lalu Nina dari belakang merebut buku itu.


"Sini biar aku yang baca" Ungkap Nina.


"Bahasa apa ini? Ini seperti bahasa alien" ungkap Nina sambil memperhatikan tulisan di buku.


"Kayak pernah denger aja bahasa alien. Sini biar ahlinya saja yang baca" ucap Beni mendelik sambil merebut buku dari Nina.


" Pantes aja, kalian gak bakalan ngerti bahasa beginian, ini kan bahasa hantu" ungkap Beni sambil terkekeh.


"Ya udah, ayo baca, tunggu apa lagi" ucap Nina tak sabar.


"Oke-oke" Kata Beni.


Kemudian, Beni membaca dengan seksama. Tulisannya itu sangat panjang hingga membuat Maira dan Nina menunggu lama. Maira dan Nina terlihat bosan dan sesekali mereka menguap mendengarkan Beni yang masih saja belum selesai membaca.


"Hoammmm" Maira menguap sembari menutupi mulut terbukanya.


"Ayolah Ben, lama banget kamu bacanya" ungkap Maira sambil menarik baju Beni.


"Kalo begini bisa-bisa kita gak nyampe-nyampe rumah, keburu mati kita, Ben" sambung Maira sembari mendelik


"Bisa diam gak sih, kalian berisik" ketus Beni.


"Cepat katakan, apa maksudnya, Ben?" Maira bertanya tidak sabar.


"Ya ampun, semudah itu? tapi kenapa kamu tadi bacanya lama banget?" tanya Maira merasa dibodohi.


"Biar bisa lama-lama terbangnya" jawab Beni sambil tertawa.


"Dasar kau modus ya?" ungkap Nina mencurigai Beni.


"Apaan sih lo, ngajak berantem?" ungkap Beni seolah menutupi kebenaran.


"Sudahhhh, kapan dong nyampenya kalo berantem terus" ucap Maira melerai.


"Ayo, Ben tunggu apalagi, baca dong mantranya" desak Maira.


"Iya, iya sabar dikit" Beni mengiyakan.


Beni membaca isi halaman tersebut. Dia berkomat-kamit gak jelas, namanya juga bahasa hantu ya hanya hantu saja yang mengerti kata apa yang dikeluarkan mulut Beni. Setelah Beni selesai membacakan, dengan sekejap mereka sudah ada di sunia normal. Mereka sudah berada di kamar Maira kembali. Mereka akhirnya lega. Tak beberapa kemudian, Dona memanggil-manggil Maira dari bawah.


"Maira...Maira...cepat turun nak sudah pagi, sini kita sarapan, ajak Nina juga" teriak Dona dari ruang makan.


"Ehh...itu ibuku udah manggil-manggil, kayaknya ibuku baik-baik aja deh, gak keliatahan marah juga, padahal kita disana lama loh, kok aneh ya" ungkap Maira sambil menggelengkan kepala.


"Iya kita gak bakalan kena marah, karena waktu disini dan disana itu beda, satu jam disini tuh sama dengan 1 hari di sana" ucap Beni sambil melipatkan tangan di dada.


"Hahhh, yang bener kamu, jadi di sana kita seminggu disini 7 jam dong" ungkap Maira sedikit lantang.


"Ya gitu lah, duniaku itu emang luar biasa" ucap Beni sambil tersenyum jahat.


"Ahh apaan, tapi kamu kok gak ada luar biasa-biasanya" ucap Maira sambil menahan senyumnya.


"Belaga kamu Mai, awas ya, hikss" ucap Beni tersedu.


"Ayo dong ah, kalian lama banget, ayo kita turun, aku udah laper" ajak Nina yang dari tadi hanya menyaksikan Maira dan Beni.


"Ya udah, ayo guys" ajak Maira pula.


Mereka pun menuruni tangga menuju ke ruang makan. Kali ini Beni menampakkan dirinya, karena dia ingin mencicipi makanan manusia normal. Setelah itu, mereka duduk di kursi makan masing-masing. Setelah mereka duduk, mereka mengambil nasi beserta lauk-lauknya. Saat itu, Dona hanya memandangi Beni.


"Mai, siapa temanmu yang satu itu?" tanya Dona pandangannya tertuju ke arah Beni.


"Oh iya bu, aku lupa dia namanya Beni, dia teman baru kita ya kan Na" ungkap Maira meminta persetujuan dari Nina.


"E, eh, iya tante dia temen baru kita" ucap Nina sambil mengangguk.


"Oh, apa jangan-jangan semalam dia nginep disini ya?" tanya Dona mencurigai.


"Ya nggaklah bu, mana ada, dia baru dateng tadi, kita kan mau pergi hari ini" jelas Maira menutupi.


"Oh gitu, tapi awas ya Beni jangan apa-apain anak tante" ucap Dona.


"Eh, ya nggak lah tante, nggak akan aku apa-apain kok, malah akan ku jaga dia" ucap Beni sambil tertawa kecil.


"Hehehe, lucu juga kamu" sahut Dona sembari tertawa pula.


Mendengar hal itu Maira dan Nina sesekali bertatap-tatapan. Maira merasa jijik dengan ucapan Beni, dia menutupi mulutnya karena menahan senyum. Setelah itu mereka dengan lahapnya melanjutkan makan sampai habis.


**Hai, hai, hai aku kembali lagi nih guys😘


Makasih buat para readers yang masih setia membaca cerita matirku ini😍


Gimana cerita kali ini bagus gak?


Mohon kritik dan sarannya ya.


Jangan lupa juga tinggalin jejak, like, vote, dan kasih nilai juga ya🤗


Semangat bacanya ya💜


author masih kesepian**