
Setelah sarapan, mereka bertiga pergi keluar. Pagi itu Beni terlihat percaya diri dengan menampakkan dirinya. Mereka pergi mengendarai mobil sedan milik Nina yang masih parkir di depan garasi mobil Maira. Mobil yang mereka kendarai maju dengan kecepatan sedang. Kini mereka telah akrab, bahkan di dalam mobil mereka terlihat asyik mengobrol, ketawa-ketiwi. Mereka mulai menampakkan kegesrekkannya satu sama lain😂.
Sementara Nina yang menyetir, dia melihat Maira dan Beni yang terlihat asyik selfie dari kaca depan. Dia merasa risih dengan kelakuan mereka.
"Ih apaan sih selfie-selfie gak ngajak-ngajak aku lagi" ungkap Nina dengan suara keras sambil mendelik kebelakang.
Mendengar hal itu Maira membalas, "Yaellah Ben, syirik bilang aja" ungkap Maira sambil mendelik pula.
"Heh Na, kamu kalo lagi nyetir fokus aja, nyari mati lo yah" ungkap Beni kesal.
"Ihh kalian kok pada ngegas, biasa aja kali ah, aku kan sakit hati" lirih Nina mengerutkan wajah.
"Ya maaf Na, kamu mau selfie ya? entar deh kita selfie bareng ya. udah kamu jangan murung gitu, entar cantiknya ilang" canda Maira sambil menenangkan Nina.
"Ah lu cengeng Na, gak seru" celoteh Beni.
"Iya aku diem nih, kita mau kemana sekarang?" ungkap Nina menyudahi.
"Oh iya kita dari tadi ngobrol mulu, gimana kalo kita ke pameran yang ada di alun-alun yuk" ajak Maira.
"Pameran itu apa?" ungkap Beni sambil menggelengkan kepalanya.
"Astagaaa, ya ampunn Ben, kamu gak tau pameran? Pameran itu pertunjukkan, ada wahana, tempat makan, tempat belanja, masih banyak lagi deh" ungkap Maira.
"Kamu juga salah Mai" ucap Nina tiba-tiba.
"Terus apa dong yang bener?" tanya Beni.
"Ya gak tau lah" ungkap Maira sambil terkekeh.
Sepanjang perjalanan mereka diisi dengan perdebatan dan candaan. Tanpa terasa akhirnya mereka pun sampai di alun-alun kota. Mereka ternganga dengan kecantikan suasana di pameran itu.
Mereka pun memasuki pemeran yang ramai itu. Di dalam terdapat banyak sekali wahana dan tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Mereka bingung mau naik wahana apa dan akan mengunjungi tempat yang mana terlebih dulu.
"Wah, rame banget" ungkap Beni ternganga.
"Kita mau naik apa dulu nih?" tanya Maira.
"Ah, gimana kalo kita makan dulu, mmm" ajak Nina.
"Ih, nanti dong makannya, kita naik dulu wahananya, kamu ini makan mulu yang dipikirin" ungkap Maira kesal.
"Ya udah kita naik kuda berputar aja yuk" ajak Beni sambil menunjuk komidi putar.
Mendengar ucapan Beni, Maira dan Nina terkekeh, Beni dengan polosnya mengatakan komidi putar itu dengan kuda berputar.
"Hahahaha, kamu itu lucu, Ben" ungkap Maira terkekeh.
"Apanya yang lucu, aku gak lagi ngelawak?" ucap Beni kesal.
"Itu namanya bukan kuda berputar tapi komidi putar" ungkap Maira sambil memegang perut yang sakit karena tawaannya.
"Dasar hantu, gitu aja gak tau" celoteh Nina tersenyum sinis.
Setelah perdebatan selesai, mereka pun naik komidi putar. Mereka menaiki kudanya masing-masing. Maira, Beni, dan Nina terlihat sangat senang. Namun, beberapa lama wajah senang Beni berubah menjadi wajah yang kusut. Dia merasa pusing. Namun, selama wahana berputar Beni menahan mulutnya yang ingin muntah. Setelah berhenti, mereka turun. Beni turun dengan kecepatan kilat. Beni segera ke belakang wahana lalu muntah disana. Maira dan Nina melihat Beni saat itu. Maira dan Nina menghampiri Beni.
"Ben, kamu gak apa-apa?"tanya Maira. Beni yang saat itu masih muntah-muntah, mata dan wajahnya memerah.
"Aduh, wahana itu mengerikan, aku gak mau naik itu lagi" ungkap Beni lesu.
"Jangan nyalahin komidi putarnya, kamunya aja yang lemah" ungkap Nina sambil terkekeh.
"Kok bisa hantu bisa pusing, muntah lagi" ucap Maira mencoba menahan tawanya sambil mengurut bagian belakang leher Beni.
"Apaan sih kalian, bukannya kasian malah ngetawain" lirih Beni sambil mendelik.
"Iya maaf, kamu masih pusing?" tanya Maira.
"Udah agak mendingan sih, tapi masih mual" ungkap Beni yang masih merasa mual.
"Ahh malessinn" ungkap Nina sambil memanyunkan bibir.
"Buruan ahhh" desak Maira.
"Iya-iya" ungkap Nina lesu.
Setelah menunggu, Nina akhirnya membawa minuman.
"Nih, kembaliannya buat aku, kan ada ongkirnya" kata Nina sambil menyakui uang kembalian.
"Ya udah deh, ambil aja, kasian kamu buat makan besok" ungkap Maira.
"Nih minum, Ben" ucap Maira sambil mengasongkan minum. Beni pun meminumnya dengan legukan seperti orang yang kehausan.
"Makasih ya Mai" ucap Beni sambil memberikan botol minumnya.
"Sama-sama, Ben" ungkap Maira tersenyum.
"Ahh, cuma ke Maira doang? ke aku nggak kan aku yang beli minumannya" ucap Nina sambil mendelik.
"Ya udah makasih deh" ucap Beni pula.
"Sama-sama" ungkap Nina terkekeh.
Setelah kejadian itu, mereka merasa lapar. Mereka pun mencari tempat yang cocok untuk menghilangkan rasa lapar. Mereka menuju warung bakso dekat toko mainan. Mereka pun masuk ke warung itu, lalu duduk di bangku. Mereka memesan bakso 3 mangkok. Maira dan Beni memesan bakso versi normal. Sedangkan Nina, dia memesan bakso versi jumbo, seimbang dengan badannya yang cukup berisi, bisa dibilang gembul sih. Mereka mulai melahap bakso. Maira melahap bakso dengan keanggunannya. Dan Nina melahap bakso dengan lahapnya seperti balapan motogp. Sedangkan Beni, dia hanya memandangi bakso, memutar balikkan bakso, dia seperti kebingungan.
"Ini apaan kok bulat-bulat sih? gak apa-apakan kalo kumakan?" tanya Beni sambil memutar balikkan bakso.
"Ini namanya bakso, ini makanan, makan lahh, ini enak banget tau, ini favorit aku" jelas Maira sambil menyuapi Beni bakso dengan di tekan-tekan.
"Aduh sakit ini, biasa aja jali, kalo gemes bilang" ungkap Beni sambil mengunyah bakso.
"Idihh, apaan, aku tuh kesal, kamu itu banyak gak taunya, emang di dunia kamu gak ada bakso apa?" ungkap Maira kesal.
"Di duniaku ada sih yang bentuknya kayak gini, tapi warnanya hitam dan rasanya sedikit pahit, tapi namanya bukan bakso" ungkap Beni.
"Terus apa?" tanya Nina menyambar.
"Namanya itu Choro" jelas Beni.
"Tapi bakso lebih enak kan dari choro?" tanya Maira meyakinkan.
"Iya enak banget, tapi rasanya mulutku mau terbakar" ungkap Beni lagi.
"Itu namanya rasa pedas, pedas ini berasal dari sambalnya" jelas Maira lagi.
"Oh, tapi enak bangett, beda banget sama choro, aku harus jualan bakso di dunia hantu pasti laku deh" ungkap Beni yakin.
"Haha, bagus tuh nanti kamu bisa buka beberapa cabang "Bakso Beni" di sana" ungkap Nina terkekeh geli.
"Nanti aku mampir sekalian deh" ungkap Maira juga tertawa.
**Hallo aku kembali lagi nih guys💜
Gimana lanjutannya ceritanya seru gak?
Typo dikit gak papa lah ya😁
Kritik dan saran selalu aku harapkan dari kalian🤗
Jangan lupa juga selalu tinggalin jejak ya, like, vote dan beri rating🙏
Semangat bacanya ya💜
author halu**