
لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَهَا ؕ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا اكۡتَسَبَتۡؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِيۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَاۤ اِصۡرًا كَمَا حَمَلۡتَهٗ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚرَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهٖ ۚ وَاعۡفُ عَنَّا وَاغۡفِرۡ لَنَا وَارۡحَمۡنَا ۚ اَنۡتَ مَوۡلٰٮنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَى الۡقَوۡمِ الۡكٰفِرِيۡنَ
Selamat Membaca
Hari ini, Ghassan sudah mulai dengan kembali pada aktivitasnya. Sebagai mahasiswa tingkat tiga, membuatnya tak berhenti untuk memutar jadwal kesehariannya. Ia harus membagi waktunya dengan segudang tugas dan kerjaannya.
Untuk semester ini memang banyak SKS-Satuan Kredit Semester yang ia tempuh. Mengingat semester kemarin ia mendapat IPK cum laude, jadi ia bisa nambah mata kuliah yang seharusnya ia tempuh di semester depan.
Ia baru saja selesai mengikuti mata kuliah Struktur Baja I, yang ia ampu di semester tingkat lima. Hanya dua orang yang kenal di kelas ini, selebihnya ia tidak tahu karena memang kelas kakak tingkatnya. Kalau saja Andri bisa ikut menempuh di mata kuliah ini, bisa di pastikan ia tidak merasa sendiri.
Ia menunggu kelas sepi, sebelum ia keluar. Terlihat banyak mahasiswa atau mahasiswi berdesakan untuk keluar. Mungkin saja ada mata kuliah lain. Ia menggedikkan bahu acuh.
Hari ini ia merasa tidak fokus, sesekali tadi, sewaktu kelas berlangsung ia terus-menerus memijit pelan kedua alisnya. Ia masih pusing, karena masalah di Jakarta kemarin yang membuat isi kepalanya hampir pecah. Ia benar-benar suntuk hari ini. Butuh kesejukan untuk menjernihkan pikirannya.
Apalagi di dukung dengan semalam yang tidurnya kelewat tengah malam. Berakibat paginya terasa berat. Ia mengecek gawainya. Melihat banyak chat yang masuk. Ia gulirkan untuk melihat.
Andri
Bos, enek matkul neh ora? lek ora tak tunggu neng ngarep perpus. Penting
Tanpa pikir panjang langsung ia balas. Melirik jam yang sudah memasuki ashar lalu mengedarkan pandangannya. Sudah mulai sepi. Ia pun bersiap untuk keluar.
"Wih, pak bos. Mau balik lo?"
Ia melihat dua perempuan di depannya ini. Ia hanya mengangguk sekilas, sambil tangannya memasukkan buku kedalam ransel.
"Gue udah tahu kemaren dari Jaka. Oke, jadi kapan nih kita di traktir?"
"Kapan-kapan." jawabnya singkat
"Dih, sok sibuk lo San. Gue gak mau tahu harus traktir kita entar malem, di resto tempat Tsana kerja. Awas lo sampek gak dateng." ancam Jalyn
"Lyn, jangan mahal!!" bisik Tsana yang masih ia dengar
"Tenang aja deh Tsan. Pokoknya entar kita makan-makan enak." jawab Jalyn
Ia hanya diam mendengar perdebatan kecil diantara mereka. Ia pun beranjak, dengan ranselnya ia kaitkan di sebelah bahu. Lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Jawab dulu kek!!" omel Jalyn
Ia hanya mengacungkan jempolnya ke atas.
"YES!! AKHIRNYA MAKAN MEWAH. UDAH LAMA JADI ANAK KOS, ENTAR MALEM JADI ANAK SULTAN." ucap Jalyn yang keras masih terdengar di inderanya.
"Lyn, aku takut. Muka Ghassan gak bersahabat banget." rengek Tsana.
"Lah, si Ghassan kan emang mukanya gitu. Udah deh tenang aja, uangnya gak akan abis buat nraktir kita."
Ia menggeleng mendengar percakapan mereka. Perasaan ia tidak pernah saling bertegur sapa dengan Jalyn, tapi semenjak kerja kelompok kemarin, mereka semua mulai mengakrabkan diri padanya.
Apa karena Jalyn mengenal latar belakangnya mangkanya dia bersikap seperti itu? Selama ini memang ia dikenal bersikap dingin dan cuek, bahkan temannya hanya Andri.
Entah keputusan benar atau tidak, dengan mengiyakan permintaan Jalyn. Ia tidak pernah seakrab ini dengan perempuan yang bukan mahramnya.
*******
"Aku wes entok infone, cumak kok jenenge pondok e bedo yo?" ucap Andri
"Bedo piye Ndri?"
"Neng alamat seng sampeyan kirim kuwi pondok Al-Munawir kan? tapi jare Firman uduk. Malah jenenge pesantren Miftakhussalam." jelas Andri
"Emang Firman eroh langsung?"
"Yo mesti eroh lah, dekne kan mondok neng kunu, San. Jare Firman alamate bener, tapi pondok e uduk Al-Munawir. Neng sekitar kunu yo ora enek jenenge pondok Al-Munawir."
Ia terdiam memikirkannya. Sepertinya ia harus cross check sendiri.
"Piye San?"
"Engko tak rembukan disek karo Mas Muadz."
"Jane enek opo to? Kok Gus Muadz ngongkon sampeyan goleki alamat." tanya Andri bingung.
Ia sebenarnya juga tidak tahu, tapi Mas Muadz sudah menjelaskan secara garis besarnya. "Aku ora ngerti jelase. Cuma sek enek dulur kaliyan Abah Nawawi."
"Helah!! putus komunikasi ngunu tah?"
Ia menggeleng lemah, ia juga tidak tahu. Cuma di kasih intruksi dari Mas Muadz untuk mencarikan alamat itu.
"Emang engko bengi enek opo San?" tanya Andri tiba-tiba
Ia menoleh, melihat Andri dengan tatapan bertanya sambil memegang gawainya.
"Jalyn karo Tsana njalok traktiran." jawabnya
"Helah!! pantes ae Hus-hus ngechat aku. Jare sepurane ngrepotne engko bengi. Kok iso? tumben akrab karo hawa?"
Ia hanya menggedikkan bahu, "Jalyn ngerti lek aku direk." Andri mengangguk-angguk mengerti. Lalu mengernyit, "Sajak e komunikasi intens ngunu karo hawa?" tanyanya
Ia dan Andri sudah terbiasa menyebut perempuan dengan sebutan hawa, begitu juga dengan laki-laki menyebutnya adam.
"Ora seh, cumak lek enek seng penting baru chat aku." jelas Andri
Ia mengangguk lalu mencari gawainya yang ia simpan di ranselnya. Membuka resleting ransel, netranya langsung menangkap lipatan sticky note berwarna biru terang. Ia mengernyitkan dahi. Ini jelas bukan sticky note yang kemarin, karena warnanya sudah berbeda. Ia mengambil membolak-balikkan. Perlahan ia membuka lipatan itu.
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya...."
So, calm down San. Mintalah ampun, karena itu bisa jadi penolong.
~53~
"Al-Baqarah ayat 286." gumamnya sendiri. "Lima tiga."
"Opo seh iku?"
Mendengar ucapan Andri, ia segera melipat lagi. Ia menjadi penasaran siapa yang mengirimkan ini. Setiap kata-katanya seakan-akan penulis surat ini tahu bagaimana keadaannya.
Padahal selama ini, ia tidak dekat dengan siapapun. Apa Andri? ia menatap lekat Andri memindainya, lalu menggeleng kepalanya. Sepertinya tidak mungkin kalau Andri. Tapi siapa?
"Opo to kuwi mau? koyok uduk tulisanmu?"
Ia menggeleng, "Ancen uduk."
Andri lalu merebut lipatan sticky note itu. Ia bisa melihat kerutan di dahi Andri yang tampak berfikir.
"Aku koyok tau eroh iki tulisane sopo?"
Ia langsung menatap Andri, menunggu hasil galian ingatan Andri.
"Tapi aku lali. Ah, mboh lah. Aku luwe. Ayo!!" ajak Andri yang sudah beranjak.
Ia menatap Andri jengah. Di tunggu-tunggu eh, malah seperti itu jawaban Andri. Ia hanya geleng-geleng.
******