GHASSAN

GHASSAN
6



Selamat Membaca


Suasana yang semula tenang, berubah tegang dan menyebalkan. Ghassan memijit pelipisnya, mendengar teriakan istri Ayahnya, yang membuat kepalanya seketika berdenyut. Ia di ajak Kakek dan Tante, untuk keluar dari ruangan neraka itu.


Tampak Kakek dan Tante sudah angkat tangan mengenai wanita itu. Sudah sampai area luar restoran, ia berpisah dengan Kakek dan Tante. Sebetulnya ia di ajak untuk menginap di rumah Kakek. Namun ia tolak halus, karena bisa di pastikan kalau suasana di rumah kakek akan gaduh. Ayah akan menginap disana dan istrinya pun menyusul.


Itu sudah biasa terjadi, setiap kali ia dan Ayah bertemu selalu begitu. Berakhir di rumah kakek dengan membuat kerusuhan. Ingin sekali bertanya, kenapa tidak berpisah saja dengan istrinya itu. Tapi sampai saat ini, ia belum berani melangkah sejauh itu. Mungkin ada alasan yang kuat, sehingga Ayah mempertahankan rumah tangganya hingga sampai sekarang.


"Aku ae seng nyetir!!" ujar Andri


Ia hanya mengangguk, keadaannya memang tidak memungkinkan untuk mengendarai mobil. Ini yang membuat ia tidak betah berada di Jakarta, selalu berakhir seperti ini. Selalu melihat pertengkaran antara Ayah dan istrinya, selalu istrinya menyalahkan Bunda. Entah apa yang merasuki istri Ayah, sehingga selalu membawa nama Bunda dalam pertengkaran mereka. Padahal setahunya, Bunda jarang berkomunikasi lagi dengan Ayah, begitu pun sebaliknya.


"Macafe opo G-Cafe?" tanya Andri di sela-sela menyetirnya


"Macafe." jawabnya singkat.


Ia memejamkan kedua matanya. Jauh dalam lubuk hatinya, ia menginginkan kebahagiaan antara Ayah dan Bunda. Namun melihat kondisi Ayah, jauh dari kata bahagia. Ia miris melihatnya. Rasanya ingin menarik Ayah dari lembah keterpurukkan.


Ia tahu kalau Ayah tidak akan menampakkan sisinya itu di hadapan siapa pun. Tapi, ia adalah puteranya, ia tahu dari sorot mata Ayah. Seolah tidak terjadi apa-apa, namun penuh tekanan.


Selama ini yang ia lihat hanya kesabaran Ayah menjalani kehidupan. Beberapa kali ia mencoba merangkul Ayah, namun lagi-lagi istrinya itu seakan-akan menarik paksa Ayah untuk mengikuti kemauannya. Demi Allah, ia ingin melihat Ayah bahagia. Hidup dalam ketentraman, seperti Bunda.


Merasakan mobil berhenti, ia membuka kedua matanya. Merenggangkan ototnya, membuka tuxedo dan kemeja, tinggal kaos oblong putih kemudian menyambar jaketnya. Setelah itu ia turun. Masih sekitar jam sebelasan cafe memang belum tutup. Masih satu jam lagi untuk tutup. Ia membuka pintu kaca, yang diatasnya terdapat lonceng kecil, itu sebagai penanda ketika ada orang masuk. Macafe, cabang dari G-cafe, Macafe ini milik Mas Muadz yang ia kelola.


Terlihat masih banyak yang berkumpul disini, rata-rata yang banyak di gemari area rooftopnya. Biasanya di adakan live musik disana. Konsepnya hampir sama dengan JAR Cafdis di Jogja. Ada lantai khusus perpustakaan kecil lengkap dengan buku SMA dan perkuliahan. Sama halnya di G-cafe juga seperti ini, cuma yang membedakan di G-cafe ada saung-saung yang di bawahnya ada kolam ikan. Bunda mengkonsepnya lebih ke keasriannya.


Ada empat lantai di cafe ini, lantai dasar seperti layaknya cafe tempat ngopi biasa, di lantai dua ada perpustakaan, lalu lantai tiga seperti privat room, terkadang ia juga menginap disini, dan terakhir rooftop yang konsepnya lebih kekinian. Berhubung letak Macafe ini berada di dekat kampus, kebanyakan yang mendatangi juga mahasiswa.


Ia dengan Andri berjalan menuju ke pojok tepat di samping kaca pembatas. Ia ingin mengistirahatkan sejenak penatnya sebelum mengecek laporan bulanan cafe ini. Dirinya butuh coklat panas untuk merilekskan pikirannya. Jarang ia minum kopi, paling sering ya yang berbau coklat. Ini salah satu turunan dari Bunda, suka coklat. Nduk Khafa malah bisa di katakan maniak coklat.


"Koyok biasane kan?" tanya Andri padanya yang ia jawab hanya dengan anggukan saja.


Andri yang berlalu dari hadapannya, mungkin dengan sifatnya seperti ini Andri sudah paham akan dirinya. Bahwa sekarang, ia sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya terlalu berkecamuk tentang Ayah.


Ia merogoh ponselnya mengusir kejenuhan. Ada beberapa pesan di aplikasi chatnya, salah satunya ada Ayah yang menanyakan ia berada dimana. Tanpa ragu ia membalas kalau sedang berada di Macefe. kemungkinan besar Ayah nanti menyusulnya.


"Hai, boleh kenalan?"


Mendengar itu, ia mengangkat wajahnya. Ia mengernyitkan dahinya.


"Hai, gue Zyla." sapa lagi perempuan berhijab modis di hadapannya ini dengan percaya diri mengulurkan tangannya.


Ia tersenyum tipis sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. "Iya." jawabnya singkat.


"Ow, dingin amat bwang!! Btw, nama lo siapa?" tanya perempuan bernama Zyla ini.


Ia hanya berdehem, " Ghassan." jawabnya lalu mengalihkan perhatiannya pada gawainya lagi. Ia berharap si perempuan ini untuk segera beranjak dari hadapannya.


Ia hanya diam dan menggeleng-geleng, entah isi otaknya apaan ini perempuan satu. Merasa di perhatikan, ia jadi salah tingkah sendiri. Dalam hati ia merutuki Andri, lama.


"Tukar nomor WA dong!!" serunya. Ia hanya diam tanpa menjawab.


"Sombwong Amwat sih bwang!! ck." imbuh Zyla


Tak lama Andri bersama Laskar yang di tangannya sudah ada nampan yang berisi cemilan dan dua cangkir. Alhamdulillah!!


Melihat Andri seperti mempertanyakan perempuan di hadapannya, ia hanya menggeleng.


"Bro, ini udah gue susun, tinggal lo cek aja. Minggu lalu yang gue ceritain, itu udah kelar. Pokoknya tinggal lo cek dah." Sambil menyodorkan flashdisk di hadapannya. "Gue layanin pelanggan ya! kalau ada yang tidak beres tinggal hubungi gue. Yok Bos, Ndri!!" pamitnya sambil menepuk pundak Andri. Laskar ini bisa di katakan manager di Macafe ini, karena Laskar yang bertanggung jawab dengan kondisi di lapangan.


"Ck, dibilangan jangan nepuk pundak. Duh, lali wes, lalian wes!!" gerutu Andri


"Hai!! gue Zyla, lo siapa? duh kalian kok cakep-cakep gini sih!!" ujar Zyla sambil menyodorkan tangannya pada Andri.


Andri dan ia saling melempar pandangan, ia menggeleng lemah. Andri mendudukan dirinya di kursi samping.


"Andri Wijaya." jawab Andri tersenyum dengan mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Lo pada mau sholat ya?" tanya Zyla


"Hah?" suara Andri sudah mewakilinya.


"Abisnya kalian berdua gak mau balas tangan gue. Tangan gue bersih kok, kalau mau sholat tinggal wudhu aja lagi. Masak cewek cantik di cuekin gini. Kan mubazir." cerocos Zyla.


Keinginannya untuk mendinginkan pikiran, bubar sudah. Malah di buat tambah pusing dengan cerewet nya Zyla. Ia memasukkan gawainya pada saku, kemudian berdiri memegang cangkir coklat panas dan cemilan. Andri juga sama dengannya.


"Maaf iya Zyla, kita keatas dulu. Assalamualaikum" ucap Andri yang menyejajarkan langkah dengannya.


Ia dan Andri berjalan beriringan menuju ke elevator khusus yang menuju ke lantai privat roomnya. Pintu elevator perlahan tertutup.


"Kui mau perak, emm!!" celetuk Andri.


Ia hanya berdehem sebagai jawaban.


"Loh wes ngerti sampeyan San? bukane urung pernah di kenalne yo?" tanya Andri


Ia menggedikkan bahunya, "Gak ngerti."


Tentu saja ia mengenal perempuan yang bernama Zyla itu, Syafiq Queenzyela. Meskipun hanya lewat foto tidak pernah sekalipun melihat langsung. Baru malam ini ia bertatap muka. Bahkan Zyla tidak mengenalnya sama sekali. Tapi itu tidak masalah baginya.


*******


Siapakah Zyla??