
"Senyummu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh."
(HR. Tirmidzi)
Selamat Membaca
Sesuai janji, Ghassan dan Andri meluncur ke resto yang dimaksud. Hanya berbekal maps dari gawainya, akhirnya Ghassan dan Andri sampai. Motornya masih mencari posisi pas untuk parkir.
Bangunan berbentuk joglo, indah terkesan etnik. Lampu berwarna kuning menambah estetika bangunan ini. Ia dan Andri berjalan masuk kedalam restoran ini. Mengedarkan pandangan, mencari orang yang di kenalnya. Netranya menangkap dua perempuan dan satu laki-laki disana. Ia dan Andri pun mendekat.
"Nah!! dateng juga pak boss. Duduk-duduk." Suara Jalyn menyapa lalu mempersilahkan untuk duduk.
Namun sebelum itu, Ia dan Andri ber high five dulu dengan Jaka. Ia kenal dengan Jaka, karena memang sering bertemu dalam acara entrepreneur. Ia sebenarnya tidak terlalu akrab dengan Jaka, hanya bertegur sapa jika sama-sama berpapasan.
Duduk lesehan dengan bantal duduk, membentuk lingkaran. Ia berada di tengah diantara Andri dan Jaka. Di meja masih tampak bersih belum ada makanan atau minuman yang datang.
"Bentar tak ambilkan buku menunya." ucap Tsana yang sudah berdiri.
Namun tangannya di cekal Jalyn. "Lo bukan waktunya kerja, jadi diem deh. Mbak!!" panggil Jalyn pada salah satu waiters.
"Kalian udah pesen?" tanya Andri
"Udah, lo pada kelamaan, gue keburu laper." jawab Jalyn
"Pakek maps, eh, tau-taunya malah muter-muter, hadeh!!" keluh Andri.
"Lo nya aja yang katrok Ndri!! masak gak tau resto ini." ketus Jalyn
Andri mengibaskan tangannya ke udara. "Ck, gak level. Aku taunya resto luar negerian." sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Sombong amat, paling juga Ghassan yang bayar, hahaha." Jalyn tergelak
Ia hanya tersenyum tipis mendengar perdebatan antara Jalyn dengan Andri. Terlihat Jalyn yang humble lalu Andri yang senang menanggapi, membuat suasana hidup. Sesekali Jaka juga menimpali, yang sedari tadi diam hanya ia dan Tsana, yang hanya senyum. Tak lama kemudian waiters datang, ia dan Andri menyebutkan menu-menu yang ia pesan.
"Event tahun ini Yogya jadi tuan rumah." ucap Jaka
Ia mengangguk membenarkan, ia sudah tahu kemarin tentang kabar event yang setiap tahun di adakan di berbagai kota.
"Absen dulu deh." jawabnya sambil mengingat di sekitar tanggal itu ada acara dirumah.
"Kabur lo?" Tuduh Jaka, ia terkekeh sambil menggeleng.
"Kayaknya ada acara di rumah." Jawabnya
"Alasan klise bung!!" cibir Jaka "Rumah lo yang di Jakarta daerah mana sih? kapan-kapan kalau gue pulang boleh lah gue numpang makan."
"Tumben, mau pulang Lo, Mblo?" sahut Jalyn
"Kan gue bilang kapan-kapan Le." jawab Jaka malas
"Kenapa? lo iri, karna Bunda manjain gue!!" jawab Jaka tak kalah ketus
Ia menggaruk pipinya, tidak tahu harus menanggapi mereka bagaimana. Kenapa jadi mereka debat sih. Tsana terlihat menghentikan percecokkan Jalyn dan Jaka. Namun tak mempan.
"Kalian nikah deh!!" celetuk Andri membuat Jaka dan Jalyn sama-sama melongo.
Ia hanya menggeleng kepalanya. Tsana akhirnya mengajak Jalyn lebih tepatnya menyeret ke kamar mandi, mungkin menghentikan perdebatan yang akan terus berlanjut.
Tak lama waiters datang dengan membawa menu yang di pesan. Terakhir , ada waiters perempuan seumuran dengannya, membawa nampan menu yang ia pesan.
"Mas Ghassan?" tanya perempuan itu.
Ia mengernyit lalu mengangguk. Perempuan itu menyodorkan lipatan kertas merah. Ia mengernyit bingung. Ia perlahan menerima kertas itu, tak lupa mengucapkan terimakasih.
"Weh-weh, apaan tuh!!" heboh Jaka
Ia masih belum menjawab, membolak-balikkan kertas itu. Ini siapa yang iseng mengirimnya surat seperti ini. Apa jangan-jangan si lima tiga? Dengan tergesa ia membuka lipatan kertas.
" تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ "
Begitu, terus tersenyum. I like it.
~53~
"Lima tiga lagi." gumamnya
"Masyaallah tenan aku koyok ngerti iki tulisane sopo, aku titen soale jarang enek seng nulis latin ngene iki. Tapi aku lali." celetuk Andri sambil menggaruk kepalanya
Ia langsung mengangkat wajahnya, melihat dua orang di depannya ini juga menegakkan badannya. Sepertinya mereka juga membaca tulisan di kertas ini.
"Wah gila, gila, gila!! gue yang gantengnya gak ketulungan ini gak ada tuh yang jadi secret admirer gue. Lo tau siapa orangnya?"
Ia menggeleng. "Orang iseng kali." ucapnya, namun dalam hatinya berkata bukan.
Lalu Tsana dan Jalyn sudah datang. Kami semua menikmati makanan yang sudah tersaji di meja. Sesekali dari mereka saling melempar pertanyaan. Sampai makanan sudah ludes, mereka masih bercengkrama sedangkan dirinya sibuk tentang si lima tiga.
Awalnya ia mendapat surat itu, merasa cukup menenangkan untuk dirinya. Surat kedua berlanjut, pun masih sama. Dan surat ketiga ini, malah membuatnya heran. Ia dibuat penasaran. Siapa si lima tiga ini ?
Pertama, ia tidak pernah dekat dengan siapapun. Tapi bagaimana si lima tiga ini bisa tahu kalau dirinya sedang di rundung masalah. Apa ekspresinya menunjukkan hal seperti itu? Entah, ia tidak tahu, ia bingung. Sudah dua surat hari ini, artiannya si lima tiga ini berada di sekitarnya. Di perkuat dengan datangnya surat yang ketiga kalinya ini.
"M-maaf aku duluan." ucap Tsana dengan wajah paniknya
Semua di buat bingung. Jalyn mencekal tangan Tsana. "Tenang dulu, ada apaan. Nih minum-minum."
"Em-mbah kumat." Tsana sudah meneteskan air matanya.
"Sial!! kita tadi gak ada yang bawa mobil lagi." celetuk Jalyn
Ia langsung mengotak-ngatik gawainya, lalu menyodorkan ke hadapan Tsana. "Ketik alamat kamu." ucapnya. Tangan Tsana pun lincah menari di layar itu.
Tsana mengembalikkan gawainya, ia langsung memesan taxi online. Semua beranjak dari duduknya, menuju keluar restoran. Sementara dirinya tertinggal karena membayar tagihan terlebih dahulu.
Entah kenapa, sebelumnya ia tidak se care ini dengan yang bukan terdekatnya. Seolah robot, seluruh yang berada dalam tubuhnya tergerak untuk bergerak cepat membantunya.
*******