
Selamat Membaca
Sesuai dengan jadwal, malam ini Ghassan dan Andri berangkat ke Jakarta. Ghassan tidak perlu membawa baju atau peralatan semacamnya. Andri pun sama. Karena semuanya sudah ada di rumah, termasuk baju-baju Andri juga.
Menunggu jemputan mobil, ia mencari earphone. Masih dengan tas punggung yang sama. Perlahan ia membuka tas, merogohnya. Ada kertas kecil yang terselip di sana. Ia pun mengambilnya.
Stickynote berwarna kuning dan ada tulisan latin di sana. Ia bingung, punya siapa ini? perasaan ia tidak pernah mempunyai stickynote.
"Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan penuh keangkuhan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri."
Sama-sama mengingatkan!
~53~
Ia mengernyitkan dahi. Lima tiga? siapa ini ? Berulangkali ia membacanya. Ia tidak tahu apa maksud orang yang memberi tulisan ini. Ia memasukkan kembali ke dalam tas.
"Ayo Gus bos !!"
Ia melihat Andri yang berdiri di samping mobil. Ia pun segera beranjak. Di dalam mobil, ia masih memikirkan stickynote tadi. Apa yang sebenarnya si limatiga maksudkan.
"Ndri, mau pas aku ndek kamar mandi. Arek-arek sek tetep takok?"
"Enggak ki Gus!! emang enek opo tah?"
"Emh, yo wes."
Setelah itu keadaan hening, hanya terdengar sahutan kendaraan yang hilir mudik.
"Koyok hus hus." gumam Andri yang masih ia dengar.
Ia langsung mengikuti arah pandang Andri. Benar, teman sekelompoknya tadi. Namun bukan Tsana yang jadi perhatiannya. Ada segerombol laki-laki yang berjalan mendekati Tsana.
Ia langsung membuka pintu mobil. Keluar, menuju ke Tsana. Untung saja mobil berhenti di lampu merah.
"Gus!! loh, eh. Pak, pak ikuti nggeh."
Tanpa mendengar seruan Andri. Secepatnya ia berlari kala sekelompok laki-laki itu mendekat ke arah Tsana.
"TSANA !!" Teriakannya membuat sekelompok laki-laki tadi berhenti untuk menghampiri Tsana. Dengan langkah tegapnya, ia melewati sekelompok laki-laki itu. Biasanya ia tidak pernah berurusan dengan kaum hawa. Entah apa yang terjadi pada dirinya sendiri, sepeduli ini ia pada Tsana.
"Eh, San. Ngapain disini ?"
Ia tidak menjawab, ia malah sibuk dengan gawainya. Memberi tahu Andri untuk segera menjemputnya.
Hening, tidak ada perbincangan. Ia sudah tidak melihat sekelompok laki-laki tadi. Ia menghela nafas lega. Tak lama Andri datang. Andri memandanginya dengan Tsana secara bergantian.
"Eh, hus hus, habis dari mana malem-malem begini?"
"Emh, pulang kerja Ndri. Kalian sendiri mau kemana?"
Mobil yang di pesannya sudah datang, ia menghampiri. Berbicara sebentar pada sopir itu. Lalu kembali ke Andri dan Tsana.
"Bilang alamat kamu pada sopir itu. Nanti di anterin." ucapnya.
"Eh, eh, gak usah San. Aku nunggu lin aja." Tsana menolaknya
"Udah, gak apa apa Hus. Naik aja. Bahaya disini. Tadi aja ada yang mau — ."
"Ndri, ayo !!" Ia segera memotong ucapan Andri, agar tidak melanjutkan ucapannya.
"Astaghfirullah, nggeh ayo. Mugo ae gak ketinggalan." gerutu Andri. "Udah naik aja. Kita duluan, Wassalamualaikum." Setelah mengucapkan itu, Andri berjalan terlebih dahulu menuju ke arah mobil yang tadi di tumpangi.
"Lain kali, kalau nunggu jangan di tempat sepi. Wassalamualaikum." Setelah mengucapkan itu, ia pun berjalan menjauh.
*****
"Gus !!"
"Gus, Gus ae." lirihnya
"Hehe, oh iyo, Tsana ngechat iki, suwun jarene."
"Hmm." gumamnya tanpa membuka mata.
"Sikap e sampeyan ora pernah berubah. Jyann, Gus tenan." cicit Andri
Masih dengan mata yang tertutup, "Mbok pikir, seng iso ngunu kuwi cumak Gus tok."
"Yo ora ngunu ne Gus Khaliq!! meskipun njenengan di kirane sombong, acuh. Tapi njenengan selalu peka."
"Wes lah, aku tak turu. Awakmu yo turuo Ndri, sampek bengi engko." Ia memposisikan dirinya agar lebih nyaman untuk tidur.
"Tapi Gus!!"
"Keri aku ket mau krungu Gus, Gus ae." Interupsinya. Sepertinya Andri akan terus berbicara dengannya.
"Tapi Gas, Ghassan. Wes ilo." Ia hanya berdehem untuk menjawab. Memang di kampus di kenal dengan nama Ghassan karena itu awalan namanya.
"Tsana keren lo wes ayu, pinter, mandiri, ora neko-neko." ucap Andri
"Lek nduwe niatan ngerabi ndang di segerakan, awakmu kan wes mampu." ucapnya.
"Aku iki promosi ndek sampeyan malah aku seng di tuduh. Huft !!" ucap Andri sambil menghela nafas
"Turuo Ndri!! lurusno dengkulmu. Menowo pikiranmu iso lurus, ora ngawur ae." ujarnya
******
Sekarang sudah sampai di rumah. Masih ada waktu untuk berganti baju. Rumah megah berlantai dua, dulu ini milik kedua orang tuanya. Namun setelah berpisah, akta rumah ini sekarang menjadi atas namanya.
Kata Ayah, rumah ini dulu hadiah pernikahan Ayah dan Bunda dari Kakek. Barang-barangnya pun masih sama. Tidak ada yang di rubah. Namun hanya foto-foto yang menempel di dinding sudah ia pindahkan ke ruang khusus yang memang untuk menaruh semua foto-foto itu. Ayah dan Bunda saja tidak tahu kalau semua barang yang berkaitan dengan Beliau-beliau, ia sembunyikannya dalam ruang tersebut. Semacam di jadikan museum lah.
Bukan untuk apa, hanya sekedar menjadi pengingat. Kalau Ayah dan Bunda pernah bahagia sampai ia dilahirkan di dunia ini. Sebelum seseorang menghancurkan semuanya. Beberapa kali ia menyadarkan dirinya sendiri, kalau ini memang sudah jalan takdir. Toh ia juga bahagia dengan adanya Abi. Ia tidak pernah kurang kasih sayang dari Abi. Abi juga tidak membedakan antara dirinya dengan Mas Muadz. Semua perlakuan sama saja.
Dengan setelan kemeja putih berbalut tuxedo hitam dan celana hitam. Ia bercermin. Ini bukan gayanya sama sekali. Malah ia kelihatan seperti om-om yang sok penting dan rapi. Ia keluar kamar dan bertepatan Andri juga keluar. Andri hanya memakai kemeja dan celana kain, tidak serapi dirinya.
"Pak Man? opo dewe?" tanya Andri
Ia tampak berfikir sejenak, sambil melangkah menuruni anakan tangga. "Dewe ae, aku seng gowo."
"Wokelah bos. Gasslah!!"
*****
Gimana sama part ini ?
Oh iya, kalau penasaran dengan tokoh Jalyndra, nanti iya. Ada lapak tersendiri.
Ghassan Khaliqul Abraham
Andri Wijaya
Tsana Jihaan Tsabita