GHASSAN

GHASSAN
18



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Tiba di bandara, Ghassan langsung menuju ke tempat penjemputan. Tidak ada interaksi antara dirinya dengan adik tirinya ini. Tanpa ia instruksi, Zyela akan mengikutinya kemanapun. Sambil menunggu Go-Car nya datang, ia memberi kabar pada Mas Mu'adz dan menanyakan bagaimana situasi disana. Dan ternyata malam ini sudah H-1, padahal seingetnya masih besok H-1 nya. Ia jadi teringat dengan sahabat sekaligus asistennya itu, Andri. Dengan segera ia mencari kontak Andri lalau mengabarinya. Ia yakin sekarang sahabatnya itu sedang menyumpah serapahinya.


"A', mobilnya itu bukan? warna putih."


Aktivitasnya terhenti ketika mendengar ucapan Zyela, ia melihat ke arah yang di tujukan. Benar itu mobil pesanannya. Ia pun melambai ke arah mobil tersebut. Mobil pun mendekat, lalu sopir membuka bagasi. Ia hanya membawa tas punggung yang di dalamnya terdapat macebook. Hanya itu, serta dokumen-dokumen penting rumah sakit. Sedangkan Zyela membawa satu koper besar, entah apa saja yang di bawa adik tirinya itu. Seniat itu untuk kabur dan membututinya.


"Pesantren Darussholah iya Mas?" tanya sopir yang umurnya masih muda, seumuran Mas Reza.


Ia menoleh ke samping kanan karena memang ia duduk di depan. "Nggeh Mas."


"Ada acara haul Mas, jadi nanti mobil gak bisa masuk." ucap Mas-mas sopir sambil fokus mengemudikan mobil.


Ia terdiam sejenak, berpikir, benar juga apa yang di bilang Mas ini. "Lewat gerbang barat Mas."


"Oh, ndalem nya Gus Faaz?"


"Iya Mas, lewat sana."


Ada tiga gerbang untuk masuk ke dalam pesantren. Gerbang utama yang ada gapura tertulis Pesantren Darussholah terletak di bagian selatan, yang langsung di suguhkan dengan asrama-asrama putera dan masjid. Sama halnya dengan gerbang pertama, di gerbang kedua milik pesantren puteri terletak di bagian timur. Sedangkan gerbang ketiga ini terletak di bagian barat, gerbang ini tidak ada gapuranya, karena memang bukan akses santri. Santri dilarang untuk keluar lewat gerbang ini.


"Anak saya tak pondokan di sana Mas, di pondok Al-Aulad. Masuk kelas tiga MI, katanya pingin mondok. Berat aslinya saya Mas, soalnya masih kecil. Tapi ya mau bagaimana lagi, njaluk ane wes ngunu." Cerita Mas sopir tanpa di minta. Terkadang sopir seperti ini, bertanya untuk basa-basi atau bahkan bercerita untuk mengubah suasana agar tidak canggung.


Ia tersenyum mendengar cerita Mas ini. Ia memang sering melihat santri yang masih kecil sudah mondok. Dari kecil sudah di ajarkan hidup mandiri di pesantren. Kalau biasanya di umur segitu, mereka masih bermanja-manja di rumah. Namun mereka tidak. Meskipun ada Ustadz-Ustadzahnya yang membimbing, tetapi tidak semua kegiatan dari bangun tidur sampai tidur lagi di bantu Ustadz-Ustadzahnya. Perlu di acungi jempol anak-anak yang sudah di pesantren sejak dini.


Tidak terasa hampir sampai di gerbang barat. Banyak kendaraan berseliweran, laju mobil pun merayap. Benar saja, dari jarak kira-kira lima ratus meter mobil yang di tumpangi sudah di hadang oleh Kamtib nya dan ada juga polisi yang berjaga.


Dari luar, kaca mobil sopir sudah di ketuk. "Assalamualaikum, maaf Mas, harus parkir dulu."


Ia membuka pintu mobil, lalu menuju ke arah pos pengamanan. "Mboten saget mlebet to Kang?"


"Masyaallah Gus!!" Tangannya hendak di cium namun ia tarik. Polisi yang bertugas pun ikut menghampiri.


"Mobil mboten saget mlebet Pak?" tanyanya beralih pada polisi.


"Asline bisa Gus. Tapi putar baliknya susah. Jadi mending turun disini saja Gus." jelas Polisi berbadan berisi.


Ia mengangguk lalu berpikir sejenak. Kalau ia turun disini, otomatis banyak yang mengenalinya. Apalagi dengan membawa Zyela. Seketika ia di buat dilema. Ia kembali ke mobil, menelfon Mas Mu'adz.


"Assalamualaikum Mas. Mobile ora iso mlebu, susulen to, jak en Nduk Khafa, Aa' mbeto hawa."


"Waalaikumsalam warohmatullah. Hawa? iyo yo sek, owt."


Mas Mu'adz memutuskan panggilan. "Disini saja Mas, tapi nunggu sebentar gak apa apa kan Mas?"


"Eh, enggih Gus, mboten nopo-nopo." Logat bicara Mas ini sudah berbeda, ia yakin tadi mendengar percakapannya dengan kamtib dan polisi.


Ia menoleh ke belakang, pantas saja tidak ada tanda-tanda kehidupan, ternyata adik tirinya itu tidur. Seketika ia teringat kalau ia punya masker. Masih ada beberapa pcs disana, ia mengambil dua pcs.


Kaca mobilnya di ketuk dari luar, ia pun menoleh. Mas Mu'adz dan Nduk Khafa yang sama-sama memakai masker. Sebelum turun ia memakai maskernya lalu membuka pintu mobil. Bukan bermaksud untuk apa? Ia tidak nyaman kalau ada santri yang mengenalinya, melihat ia membawa Zyela.


"Waalaikumsalam!! Aa'. " Dengan riang Nduk Khafa langsung memeluknya. Tangan kanannya terulur guna mencium tangan Mas Mu'adz.


"Endi jare gowo hawa?" Tanya Mas Mu'adz yang celingukan


Ia hampir lupa dengan Zyela. Setelah melepas pelukan Nduk Khafa, tangannya membuka pintu belakang, Zyela pun masih tertidur di pojok pintu sebelah kanan. "Nduk Khafa, tulung gugahen."


Nduk Khafa dan Mas Mu'adz sama-sama terkejut. Apa Ayah belum menelfon Abi atau Bunda kalau ia membawa Zyela?


"Mbak, Mbak, bangun." Nduk Khafa menggoyangkan lengan Zyela. Tak lama Zyela pun membuka mata, menatap dengan wajah bingungnya. "Monggo mandhap riyen!!" Ia menepuk pelan dahinya, mana ngerti Zyela bahasanya Nduk Khafa.


"Sopo A' ?" bisik Mas Mu'adz.


Ia tak menjawab pertanyaan Mas Mu'adz. "Ayo turun, udah nyampek." Zyela hanya mengangguk. Ia beralih ke bagasi mobil yang sudah menurunkan koper milik Zyela. Lalu ia membayar biayanya.


Mobil sudah bergerak mundur. "Oh, Mbaknya gak ngerti jawa toh?" tanya Nduk Khafa pada Zyela.


"Hehe, enggak tahu." jawab Zyela sambil mengambil masker yang ia sodorkan.


Sambil berjalan, dua perempuan di depannya saling berbicara. Lebih tepatnya Nduk Khafa yang banyak berbicara dari tadi. Ia dan Mas Mu'adz berada di belakangnya.


"Anak e Ayah." bisiknya pada Mas Mu'adz. "Emang Abi kaleh Bunda mboten ngabari?" imbuhnya yang masih berbisik.


Terlihat gelengan dari Mas Mu'adz. "Abi kaleh Bunda suibuk, Mas ae ora sempet omong-omongan." Ia hanya mengangguk, mungkin Abi ataupun Bunda lupa memberitahu Mas Mu'adz dan Nduk Khafa kalau ia membawa Zyela.


Masih berjalan, sepanjang pinggir jalan, sudah berjejer orang yang menggelar dagangannya. Sangat ramai dan bising. Di tambah pula dengan suara sound sistem yang menggema, tanda acara malam ini sudah mulai. Ia sempat mendengar kabar kalau star guest nya Habib Syekh, jadi para syekhermania tentu sudah merapat sejak sore tadi atau bahkan siang. Terlihat banyak yang menggunakan baju putih serta beberapa diantaranya memiliki syal berwarna hijau.


Sampailah di halaman rumah yang tampak ramai di teras. Ia melihat Bunda di temani Mbak Shahla berjalan terburu-buru. Ia mempercepat langkahnya, untuk menghadang Bunda.


"Assalamualaikum Bunda." salamnya sambil mencium tangan Beliau.


Ia terkekeh melihat Bunda yang terkejut dengan kehadirannya. "Waalaikumsalam warohmatullah, Ya Allah A', dikirane Bunda sinten lo iki mau." Zyela yang dibelakangnya juga melakukan hal sama, mencium tangan Bunda.


Bunda melihat Zyla sambil mengerutkan dahi Beliau, lalu menatapnya seolah bertanya. Ia di buat bingung. Apa Bunda tidak tahu?


"Sinten A' ? Ayo-ayo mlebet disek." ajak Bunda sambil menggiring untuk masuk rumah. "Nduk Shahla, sampeyan bejane Bu Lek Marni, stok e empun telas, keng ndhamel maleh." ucap Bunda pada Mbak Shahla dan di jawab anggukan dari Mbak Shahla.


Ia pun berjalan mengikuti Bunda yang masuk terlebih dulu bersama Mas Mu'adz. " A', itu Ibunya Aa'? Zyela gak dimarahin kan? gak di galakin kan? gak di usir kan?" Tanya Zyela yang beruntun.


"Duh!! Mbak, tenang. Palingan Aa' yang di marahin karna bawa Mbak." sahut Nduk Khafa. Ia bisa melihat Zyela menampilkan wajah gugup dan takut.


****


Nah loh!!


Kalian team mana?


1. Zyela tidak diterima?


atau


2. Aa' di marahin