
*Vote dulu nggeh!!!
Selamat Membaca
Setelah kejadian kemarin malam, memeluk Tsana tanpa izin, membuat keduanya sama-sama dalam posisi yang canggung. Ghassan tahu, seharusnya ia tidak bersikap seperti ini, karena dia yang memulai dahulu, menciptakan keadaan seperti ini.
Dengan pandangan lurus mengarah ke seat depan, akhirnya ia pun berkata. "Eum, Tsan. Maaf kemarin." Tidak ada jawaban dari Tsana. Melirik sekilas, Tsana masih terfokus dengan jendela di samping, menikmati hamparan lampu-lampu kecil di bawah sana. Tapi, ia yakin kalau istrinya ini mendengar ucapannya.
Sekarang kita sedang dalam perjalanan menuju Jogja. Setelah sarapan tadi, ia meminta izin untuk memboyong Tsana. Meskipun tanpa kata, Tsana terlihat berat meninggalkan Abah Nahrowi. Ia paham, mungkin ini pertama kalinya Tsana jauh dari Abah Nahrowi. Mau bagaimana lagi, sebenarnya juga ingin lebih lama menginap di ndalem Abah Nawawi, namun karena mulai lusa kampus sudah mulai kembali aktif. Menjadikan malam ini juga ia harus flight ke kota pendidikan itu. Tentu dengan Bu Sarah. Beliau tidak tenang meninggalkan pesantren yang tanpa ahlul bait, meskipun sudah ada kepengurusan. Terlebih, Pak Mursyid juga sudah di tangkap pihak kepolisian.
Lambat laun mengenal Bu Sarah, Beliau baik persis seperti yang dikatakan istrinya. Ternyata ada alasan di balik masalah prahara ini. Bu Sarah pun sempat bercerita kepadanya. Kalau Pak Mursyid sebenarnya suami kedua setelah suami pertama Bu Sarah meninggal. Memang dulu, Abah Nahrowi memasrahkan tanggung jawab pesantren pada Abi Yahya-ayah Tsana dan Abi Baliya-suami pertama Bu Sarah. Dan yang mengurus semua dokumen, termasuk surat-surat penting adalah Abi Baliya sendiri.
Berselang bulan setelah kepergian Abi Baliya. Bu Sarah menikah dengan Pak Mursyid. Bu Sarah mengaku kalau dulunya pembawaan Pak Mursyid itu positif. Namun semakin lama, Bu Sarah jadi tahu sifat asli dari Pak Mursyid. Sering kali mendapatkan kekerasan fisik dan ancaman, kalau Bu Sarah tidak menurut dan tutup mulut. Dan yang akan menjadi umpan adalah istrinya. Karena diam-diam, Bu Sarah tahu kalau Pak Mursyid mempunyai koneksi dengan perdagangan organ tubuh manusia. Mau tidak mau, Bu Sarah tutup mulut demi melindungi istrinya yang masih kecil waktu itu. Berkali-kali ia mendengar, Bu Sarah mengucap syukur, Pak Mursyid sudah dalam pengawasan kepolisian, semoga saja hukumannya setimpal.
Kembali dalam kesadarannya, ternyata istrinya ini masih belum merespon ucapannya. "Sekali lagi maaf," lirihnya lagi sambil merebahkan kepalanya pada sandaran sekaligus memejamkan matanya. Kesempatan yang bagus untuk berbicara mengenai hal ini, karena Bu Sarah yang kebetulan berbeda seat dengan kita. Dan flight malam ini sepi, bahkan seat di sampingnya tidak berpenghuni.
Merasa ada yang memperhatikan, ia pun membuka matanya lalu menoleh. Tsana menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan, membuat mimik wajahnya berekspresi tanya. "Kenapa?"
"Kenapa harus dibahas?" Mendengar itu, ia kembali pada posisi awal.
"Iya ngerasa aja kalau kamu gak nyaman."
"Kenapa gak nyaman?" Lagi-lagi Tsana membalikkan pertanyaannya. "Bukannya kamu bebas ya, melakukan apapun atas diriku," lanjut Tsana.
Menghela nafasnya pelan, tangannya perlahan terangkat mengelus puncak kepala istrinya. "Sebenarnya ini bukan timing yang pas buat membicarakan hal semacam ini. Tapi yang jelas, katakan apapun yang menurutmu tidak nyaman. Kamu bebas menolak atau menyutujui, aku menghargai semua itu." Kemudian ia menurunkan tangannya. "Rumah tangga itu di bangun bersama, bukan hanya aku aja yang membangunnya tapi kamu juga," imbuhnya. Baru kali ini, ia berbicara panjang lebar dengan Tsana.
"K-kamu enggak kesurupan kan?" Ia tersentak mendengar pertanyaan Tsana yang meluncur begitu saja.
"San, kamu baik-baik aja kan? gak sakit kan?" tanya Tsana beruntun. Ekspresinya langsung berubah datar. Hancur sudah momen intim yang tercipta barusan.
"Terserah," ketusnya langsung menghadap ke depan.
"Yee, gitu aja ngambek," kekeh Tsana. Namun tiba-tiba ia di kejutkan dengan Tsana memegang lengannya. Meskipun sudah menjadi mahromnya, tapi jujur saja ia belum terbiasa dengan sentuhan seperti ini. "Baru kali ini kamu bicara panjang, jadi aku agak kaget." Tsana masih belum mau melepas lengannya.
"Makasih. Makasih banget kamu udah memberiku ruang. Tapi apapun itu, aku akan berusaha yang terbaik menjadi partnermu." Kini tangan Tsana beralih menggenggam tangannya, membuat dirinya menoleh dan menatap Tsana lagi.
"Aa', terimakasih banyak atas semua yang kamu lakukan. Aku enggak tau, bagaimana lagi keadaanku dan Embah malam itu. Waktu itu, aku hanya berharap semoga Allah membolak-balikkan keadaanku dan Embah." Terdengar hembusan napas berat dari Tsana. "Dan itu semua lewat perantara kamu. Iya, Allah mengirimkan kamu. So, thank you so much for everything. Sekali lagi terimakasih kamu sudah hadir," ungkap tulus Tsana dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kedua sudutnya terangkat tipis. Tangan kirinya beralih menggenggam tangan Tsana dan tangan kanannya merengkuh tubuh mungil istrinya, tak lupa mengecup lama ubun-ubun istrinya.
Ya Allah sudah, begini saja. Nikmat Mu sungguh sangat membahagiakan. Tanpa di sadari, ia sudah sangat menyayangi istrinya ini.
******* Sekian\, sampai bertemu di epilog*******
Ghassan Khaliqul Abraham
Tsana Jihaan Tsabita