GHASSAN

GHASSAN
8



Selamat Membaca


Sekitar pukul delapan pagi, Ghassan dengan wajah datar dan dingin bersiap menuju ke G-cafe dengan Andri yang tenang mengendarai mobilnya.


Andri yang tampak diam saja seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Semenjak bekerja bersamanya, Andri sudah tahu mengenai bagaimana tidak sehatnya rumah tangga Ayah dengan istrinya. Selama ini Andri juga tidak ikut campur, tapi kalau dirinya ingin meminta saran pada Andri, Andri baru angkat bicara menurut sudut pandangnya.


"Balik ndek Jogja jam piro Ndri?" tanyanya memecah kesunyian dalam mobil


"Jam 18.15, sek iso sholat magrib sak durunge budal." jawab Andri


Sampai di G-cafe miliknya. Ia menghela nafasnya sebelum turun. "Tak enteni ndek ruanganku yo Ndri?"


"Oke, engko laporane tak terne runu. Oh iyo, aku tak ndekem ndek perpus yo? aku seloso persentasi." ucap Andri yang mendapat jawaban anggukan darinya


Andri yang turun lebih dulu. Melihat parkiran mobil tampak penuh. Kemungkinan besar di dalam sudah banyak pelanggan berdatangan. Ia meregangkan ototnya terlebih dahulu. Baru kali ini, ia datang ke Jakarta masalahnya tambah pelik. Haruskah setiap pulang ke Jakarta ia merasakan seperti ini?


Ia perlahan turun dari mobil. Berhenti sejenak mengamati bangunan tiga lantai ini. Tempat yang dulu pernah menjadi sumber kebahagiaan bagi Bunda dan Ayah. Hadiah dari Ayah untuk Bunda ketika Bunda ulang tahun tepat setelah satu bulan pernikahan. Meskipun ia belum hadir dalam tengah-tengah Beliau, ia bisa merasakan kebahagiaan itu sangat terasa kala Ayah menceritakan tentang semua ini. Ada binar di kedua mata Ayah. Ia bukan seorang anak yang bersikap acuh pada orang terdekatnya. Ia bisa merasakan perasaan Ayah yang tampak menyesal.


Dengan langkah lebar, ia menuju ke cafe. Lonceng kecil berbunyi tepat di atas kepalanya saat tangannya membuka pintu cafe. Ia mengedarkan pandangannya sejenak. Meskipun masih pagi sudah tampak ramai para pengunjung. Biasanya weekend seperti ini banyak yang mengunjungi perpustakaan. Mungkin mengerjakan deadline senin, semacam sks-sistem kebut semalam.


Pegawai yang melihatnya, menyapa dengan mengangguk senyum. Rata-rata pegawai di cafe ini kebanyakan kaum adam. Ia melangkah menuju meja kasir, ia akan mengecek sebentar sebelum menuju ke lantai privat.


Prang !!


Suara pecahan gelas yang jatuh ke lantai bersamaan dengan badannya tertabrak oleh seseorang. Yang berakibat sensai dingin menyentuh kulitnya.


"Astaghfirullah!!" gumamnya mengibas kaosnya basah.


Ia bisa melihat seorang perempuan berhijab yang menabraknya barusan, berjongkok sambil menutup kedua telinganya. Ia mengernyitkan kedua alisnya.


"Maaf." ucapnya


Perempuan itu mendongak. Ia terkejut beberapa saat ketika saling bertatap. Lantas perempuan itu berdiri, terdengar hela nafas yang berulang kali.


"Eh, kita ketemu lagi. Sorry ya tadi gue gak liat." ucap perempuan itu yang sudah bernada ceria.


Ia mengangguk sekilas. Ia melihat Tio mendekat, dengan tangannya yang sudah membawa alat kebersihan.


"Yo, nanti buatin minumannya lagi, gak usah bayar. Aku keatas dulu." ucapnya melenggang, Ia urungkan untuk mengecek kasir.


Ia langsung menuju ke elevator khusus menuju ke ruang privat. Belum sempat ia masuk, pergelangan tangannya di cekal oleh seseorang. Reflek ia menghentakkan kasar.


"Aww!!"


Ia langsung menoleh. Menatap datar perempuan yang tadi menumpahkan minuman padanya.


"Lo kasar banget sih!!" dumel nya


Ia melirik sekilas pada perempuan itu yang masih memijat pergelangan tangannya sendiri. "Maaf." ucapnya


Ia tidak bermaksud untuk mencelakai perempuan itu. Ia hanya reflek menghindari sentuhan yang ia yakini itu tangan seorang perempuan.


"Sebagai bentuk permintaan maaf gue, gantian gue yang traktir lo sekarang. Lo mau pesan apa sok atuh." tawar perempuan itu.


"Gak usah, makasih." jawabnya sambil menekan tombol atas elevator.


"Ini pertemuan kita yang kedua kalinya di tempat berbeda lho!! Ngobrol-ngobrol dulu lah!!" ajak perempuan itu


"Maaf, saya gak bisa. Ada hal lain yang harus saya kerjakan." jawabnya pintu elevator terbuka, ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam.


Seketika ia melotot tajam, karena perempuan ini masuk kedalam mengikutinya. Langsung saja ia menahan pintu elevator yang akan menutup. Ia berjalan keluar, sambil tangannya masih menahan pintu.


"Maaf ya Kak, lift ini khusus. Untuk yang umum ada di sebelah sana." ucap Andri tiba-tiba. Ia tidak tahu sejak kapan Andri datang.


Perempuan itu tetap tidak keluar. "Emang kenapa kalau gue di lift ini? gue cuma pengen ikut dia aja." tunjuk perempuan itu padanya. "Gue akan ikutin lo, sampai lo mau ngobrol sama gue!!" imbuh perempuan itu


Astaghfirullah!! Pagi ini sudah di buat frustasi lagi. kalau tidak teringat janjiannya pada Kakek dan Ayah untuk bertemu. Sudah ia pastikan, semalam ia langsung pulang saja ke Jogja. Ia menggeleng lemah menatap Andri frustasi ketika ia dan Andri saling berbicara lewat mata.


"ZYLA!!" Teriakan seorang perempuan yang tidak berhijab berlari kecil menghampiri, mungkin temannya, ia tidak tahu juga, dan tidak mau tahu juga.


Perempuan berambut panjang itu menarik kasar tangan temannya untuk keluar dari elevator. "LO GILA YA? lift ini privat. Astaga, lo tu ya!!"


Melihat ada kesempatan untuk segera pergi. Segera ia dan Andri masuk ke dalam. Melihat dua orang perempuan berdebat di sana.


"Ih, jangan di tarik-tarik dong Manda. Gue mau ngikutin Ghassan."


"Ghassan siapa sih?"


"Itu yang tadi pakek kaos tosca. Loh eh, San, Ghassan."


Pintu elevator sudah sepenuhnya tertutup. Ia langsung menghela nafasnya kasar. Mengacak rambutnya yang sudah rapi.


"Ndri, jam terbang e ora iso di majukne?" ucapnya dengan nada frustasi.


*******


Hari sudah semakin siang, ia menunaikan janjinya pada Ayah dan bertemu di rumah kakek. Dengan menaiki taxi online, ia sudah sampai di depan gerbang rumah mewah milik Kakek Abraham. Sengaja mobilnya, ia tinggal. Agar bisa di pakai Andri saat nanti pulang.


Ia berjalan mendekat ke arah gerbang. Mang Aam yang melihat ke datangannya langsung membuka pintu gerbangnya. Ia bisa melihat ada beberapa mobil yang sudah terparkir di halaman. Yang ia kenal hanya milik Ayahnya saja.


Ia sengaja tidak lewat pintu utama, takutnya menganggu jika memang ada tamu. Semakin mendekat, ia mendengar suara ricuh dari dalam. Mungkin saja teman Kakek banyak yang datang.


"Eh, den Aa'. " sapa Bude Nah-asisten rumah ini


Ia tersenyum melihat wanita paruh baya. "Assalamualaikum Bude." ucapnya


"Waalaikumsalam. Kapan datengnya den?"


"Kemarin Bude. Oh iya Bude, ada siapa —"


"AYAH!!"


Ucapannya terpotong dengan pekikan dari seseorang disana. Ia dan Bude saling bepandangan. Tanpa menunggu lama, ia melangkah mendekati asal suara. Ia bisa melihat semua keluarga ada disana, tak terkecuali anak dari Ayah dan Tante Safira tampak memeluk Tante Safira. Posisinya memang terhalang lemari kaca yang tembus pandang. Tidak ada yang menyadari kedatangannya, karena suasana tegang. Ia menghela nafas kasar. Drama apa lagi ini?


"Maafkan Ayah nak, ini keputusan Ayah." ucap Ayah


"KENAPA AYAH INGIN PISAH? APA KARENA AYAH MASIH MENCINTAI MANTAN AYAH? HINGGA TEGA MENCERAIKAN MAMAH?" pekik dari seseorang.


"PELANKAN SUARAMU!! Apa kamu di didik Mamahmu untuk bersikap gak sopan pada Ayahmu?"


"Teh!!" Ayah menggelengkan kepalanya. "Buk-bukan gitu nak!! bukan karena itu. Ada hal yang belum kamu tahu."


"CUKUP BAL!!" pekik Tante Safira. "Ayo pergi nak, Mamah gak apa-apa. Ayahmu hanya lelah."


"Enggak Mah, jangan bela Ayah terus. Selama ini aku diam, karena sikap Ayah tidak berubah meskipun masih mencintai mantannya itu. Tapi ini udah keterlaluan Mah. Aku gak akan biarkan keluarga kita hancur gara-gara pelakor." jelas seorang itu.


"HA-HA-HA, eh Fir, lo racunin apa pikiran anak lo itu? jangan jadi pembual ulung." sarkas Tante Della diiringi tawa.


"DIAM TEH!!" pekik Tante Safira


Ia bisa melihat Ayahnya menggeleng pelan menatap Tante Della. Melarang Tante Della menceritakan lebih lanjut. Ia masih berdiri tegak melihat drama keluarga di sana.


"Apa maksud Tante?" tanya seorang itu


"Udah nak, ayo kita pulang." ucap Tante Safira sambil menyeret lengan anaknya itu.


"Kamu pengen tahu? justru Mama tercintamu itu pe-la-kor."


"DIAM!! nak jangan dengerin Tante Della, dia bohong, kamu percaya Mamah kan?"


"Teh jangan!!" interuksi Ayah


"HA-HA-HA, mau sampai kapan kalian menyimpan rahasia itu." ucap Tante Della yang netranya tidak sengaja menangkap dirinya berdiri disini, menyaksikan pertengkaran itu. Terlihat Tante Della semakin menyeringai.


"Ra-rahasia apa tante, cepet katakan." desak seorang itu


Tante Della masih menatapnya, sambil tersenyum lembut ke arahnya. Tante Della bertepuk tangan, sambil berjalan ke arahnya. Ia bisa melihat semua orang melihat ke arahnya.


"PONAKAN KESAYANGAN TANTE UDAH DATANG!!" gimana dramanya? bagus enggak? ha-ha-ha." ucap Tante Della yang jaraknya sudah dekat. Ia mengulurkan tangannya, mencium tangan Beliau.


"G-ghassan!!"


Ia digiring Tante Della, untuk bergabung dengan semua orang. Ia mencium tangan Kakek dan Nini, terakhir Ayah.


"L-lo ngapain disini?" tanya seorang perempuan itu.


Ia tidak menjawab. Ia masih menampilkan wajah dinginnya.


"Sepertinya rencana hari ini gagal." ucapnya tiba-tiba


"Astaghfirullah, Kakek lupa A'. "ujar Kakek


"Ndak apa-apa Kek. Sekalian Aa' mau pamit." ucapnya dengan berdiri


"Cih, pulang sana, jangan banyak omong." sarkas Tante Safira


"FIR!!"


"MAH!!"


Ia mencium tangan dan pelukanan singkat untuk Kakek, Nini dan Ayah.


"INI SEBENARNYA ADA APA? TOLONG JAWAB!! GHASSAN LO SIAPA SEBENARNYA?" pekik seorang itu.


Ia tidak memperdulikan ucapan perempuan berhijab modis itu. "Assalamualaikum."


"Biar Kakek dan Nini yang nganterin nanti ke Bandara."


Ia hanya tersenyum tipis menggeleng, lalu melangkah keluar rumah. Namun langkahnya terhenti saat tangannya di pegang erat. Ia langsung menghempaskan kuat tangan itu. Sampai terdengar benda jatuh. Ia berbalik, ternyata perempuan itu.


"Hiks, jelasin dulu San. Hiks, gue gak tau lagi harus percaya yang mana." ucap perempuan itu terisak


Ia menghela nafas sambil mengacak rambutnya. Ia sudah tidak tahan dengan semua ini. Argh!!


"Bangun, tanya sendiri sana." ucapnya lalu meninggalkan perempuan itu.


"ZYLA!!"


******