GHASSAN

GHASSAN
13



*Vote dulu nggeh!!


 


 


 


 


 


 


Selamat Membaca


 


 


 


 


 


 


Hari terakhir kuliah di minggu ini, Ghassan yang mengikuti kelas kakak tingkat, di buat tergopoh-gopoh. Pasalnya, jadwal di majukan pagi hari yang seharusnya pada sore nanti.


 


 


Ia menghembuskan nafasnya kasar kelas sudah berakhir dan perutnya mulai terasa perih. Karena mendadak, ia sampai lupa untuk sarapan. Ia segera mengemas barang-barangnya.


 


 


"Ehm, San!!"


 


 


Ia lantas mendongak mendengar namanya di sebut. Kedua alisnya sekilas terangkat lalu ia kembali mengemas barangnya. Ini tidak baik. Jantungnya tidak baik. Harus ia hindari.


 


 


"Ini buat kamu!!"


 


 


Terlihat paperbag berwarna cokelat di sodorkan ke hadapannya. "Terima ya San, sebagai ucapan terimakasih karena kamu sering membantuku."


 


 


"Gak usah, gak perlu." Ia sudah selesai namun masih diam di mejanya.


 


 


"Please terima!! aku bingung nanti mau bilang apa ke Mbah kalau kamu gak mau nerima. Ini cuma makanan kok."


 


 


Ia melirik paperbag itu lalu menerimanya, "Makasih, lain kali gak usah repot-repot. Salam ke Mbah kamu."


 


 


"Wih, ada ape nih, ada ape nih. Dapet paperbag segala." Suara heboh itu bersumber dari Jalyn


 


 


"Apaan, gak ada apa-apa." Tsana berusaha mencegah Jalyn untuk tidak berfikiran macam-macam.


 


 


"Apa-apa juga gak apa-apa, ya kan San?" Ia menatap datar tidak mengangguk atau menggeleng mendengar pertanyaan Jalyn yang menggodanya.


 


 


"Yaelah, lempeng amat tuh muka. Oh, Astaghfirullah. Yok San, kita di tunggu Mblo sama Andri di kantin." Ia kemudian berdiri menggendong sebelah tas punggungnya.


 


 


"Ya udah aku duluan ya!!"


 


 


"Eh, lo mau kemana Tsan? ikut sekalian, gue traktir. Lo selalu lupa makan dan gue paling gak laik itu." interupsi Jalyn membuat Tsana berhenti


 


 


"Tap--"


 


 


"No!! gak ada tapi-tapian."


 


 


Jalyn menggeret paksa Tsana, sedangkan dirinya di belakang dua perempuan yang sudah berjalan dulu. Ia hanya menggeleng, melihat kelakuan Jalyn yang memang easy going.


 


 


Sampai di kantin, Ia bisa melihat dari kejauhan tangan Andri yang melambai-lambai. Masih berada di belakang dua perempuan yang satu nampak hyperaktif dan yang satunya terlihat lembut. Sepanjang jalan menuju kantin, hanya di hiasi obrolan yang menurutnya tidak ada faedahnya untuknya. Seperti membicarakan tentang drakor atau novel yang lagi ngehype.


 


 


"Cepet pesen kalian, kita tadi udah pesen duluan." ucap Jaka


 


 


"Gue pesenin, lo mau apa Tsan?"


 


 


"Sama aja kayak kamu Lyn."


 


 


"Oke, lo San?"


 


 


"Gak usah." ucapnya sambil mengeluarkan kotak makan dari paperbag dan Jalyn langsung berlalu.


 


 


"Teko sopo San? perasaan mau ora gowo deh?" tanya Andri penasaran


 


 


Ia melirik Tsana sekilas kemudian menoleh ke Andri. Telunjukkan mengarah ke Tsana.


 


 


"Wih, wih." Heboh Jaka. "Kok gue gak pernah di kasih sama lo sih Tsan, gue juga mau kali. Duh potek deh gue, padahal gue belum berjuang, udah di tendang duluan. Apalagi kalau saingannya Ghassan, auto mundur alon-alon sist." cerocos Jaka


 


 


Ia menghiraukan ucapan Ghassan, ia malah sibuk membuka kotak bekal yang isinya menu sederhana namun salah satunya ada kesukaannya, sambal goreng telur puyuh. Ia sampai susah menelan salivanya.


 


 


"Apa sih Jak. Orang gak ada apa-apa juga, jangan ngelantur deh." sanggah Tsana


 


 


"Cih, San, bagi lah. Gue pengen nyobain juga." Sendok Jaka yang sudah siap mendarat ke kotak bekal, namun segera ia singkirkan kotak bekalnya.


 


 


"Gak, sana Jak." Usirnya


 


 


"Jangan di ganggu Jak, dia udah nemu makanan favoritnya, sampai lo nangis darah juga gak bakal di kasih." ucap Andri yang masih mengotak-atik gawainya.


 


 


"Pantes lo sultan, pelit gitu, cih!!"


 


 


Ia tidak terganggu dengan ocehan dari teman-temannya, ia malah sibuk menikmati sambal goreng telur puyuh yang menurutnya sangat pas di lidahnya. Sebelas dua belas lah dengan masakan Bunda.


 


 


"Napa lo monyong-monyong gitu?" Jalyn datang dengan membawa nampan pesanan.


 


 


"Noh, si Ghasultan pelit, masak gue gak boleh icip masakan Tsana." adu Jaka


 


 


"Oh, jadi itu. Udah biarin aja sih orang lagi pedekatean malah lo recokin. Nanti gue masakin segentong, biar lo puas." ucap Jalyn acuh sesekali meniup mie ayamnya yang panas.


 


 


 


 


"San, San. Bener jaremu, emang enek seng di sembunyekne." celetuk Andri


 


 


Ia menyuapkan makanan terakhir ke dalam mulutnya. Suasana yang tadinya ramai dengan ocehan Jaka dan Jalyn tiba-tiba lenyap begitu saja. Ia menyapu pandangannya, yang ternyata mereka sama-sama menatapnya. Ia melanjukan untuk minum dari thumbler yang selalu ia bawa.


 


 


"Terus?"


 


 


"Pihak kono tetap mengelak, dan meminta bukti jika nama pesantrennya itu."


 


 


Tepat sekali, ia sudah memikirkan ini, dan bakal terjadi. Makanya ia menjadwalkan untuk pulang besok.


 


 


"Ada apaan sih? gue kepo." tanya Jalyn


 


 


Andri menatap Ghassan seolah meminta persetujuan, namun ia sama sekali tidak mengisyaratkan apapun ke Andri.


 


 


"Enggak enek opo-opo seh, cumak lagi mencari keberadaan seseorang. Oh, iyo Lyn. Gue baru inget, dulu lo mata kuliah Prof. Bahri yang disuruh penelitian rekontruksi bangunan, bukannya lo neliti di pesantren Miftakhussalam ya? neliti menara santri kan ya?"


 


 


Ia bisa melihat Jalyn yang tampak mengingat-ingat. Pertanyaan Andri membuatnya tahu apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.


 


 


"He em kayaknya. Eh, iya bener-bener, gue neliti sama Firman. Emang kenapa sih?"


 


 


"Bagus!! masih ada file nya gak? gue minta, ada profil pesantrennya kan?"


 


 


"Iya masih, ada di macebook nya Mblo sih. Nanti gue kirim ke nomor lo. Buat apaan sih?" tanya Jalyn bingung


 


 


"Lo ada kejanggalan gak sih, dulu sewaktu neliti itu? Soalnya kabarnya di pesantren sana tidak pernah menerima penelitian siapapun dan apapun."


 


 


"Iya sih, waktu itu Firman yang turun lapangan, gue cuma persiapin surat-suratnya aja. Tapi kalau gue ngecek profilnya ada kejanggalan sih menurut gue."


 


 


"Apa-apa?" tanya Andri Antusias.


 


 


"Kan waktu itu kurang nomor akta notarisnya, terus gue minta tuh sama Firman dan Firman cuma megirim sederet nomor. Nah, gue iseng-iseng ngecek tuh nomor. Dan dari datanya itu, gue bingung disitu bukan pesantren Miftakhussalam tapi apa gitu gue lupa. Tapi gue skip aja sih, gue mikirnya paling udah di ganti nama pesantrennya."


 


 


Brakk


 


 


"Astaghfirullah"


 


 


"Anjir"


 


 


"Lo!! bakso gue glinding tuh." geram Jaka bernada frustasi, baksonya menggelinding sampai ke meja sebelah.


 


 


"Jak, mana macebook mu?" tanyanya menghentikan aksi frustasi Jaka


 


 


"Ada di mobil. Ah, ganti rugi lo Ndri."


 


 


"Cepetan ambil, aku butuh datanya sekarang. Kalau mau pesen lagi, gih pesen sana." ucapnya


 


 


"Ambil sendiri sono. Gue mau pesen bakso lagi." Ucap Jaka sambil melempar kunci mobilnya ke meja.


 


 


"Lyn minta tolong ambilin, aku gak tahu mobil Jaka yang mana." Jalyn mengangguk dan langsung berlalu.


 


 


"Alhamdulillah, ora ngiro aku lek secepet iki oleh info penting." ucap Andri sambil mengusap wajahnya. "Wong-wong e dewe ae ngomong angel ngentokne nomor akta notarise."


 


 


Ia mengangguk, diam-diam ia sangat bersyukur dalam hati. "Hmm, mugo-mugo ae bener."


 


 


 


 


******


 


 


 


 


 


 


Andri dan Jalyn yang sibuk mencari file nya, sedangkan dirinya sedang bertukar info dengan Mas Mu'adz.


 


 


"Alhamdulillah." Seru Andri


 


 


Ia langsung mendongak kala Andri bergegas menghampirinya dengan macebook di tangannya. Ia pun langsung mengecek nomor akta notaris di web AHU (Administrasi Hukum Umum). Setelah berkutik hampir setengah jam. Ia dan Andri langsung berhigh five, tanda mereka berhasil menemukan apa yang di cari.


 


 


Semua nampak berdiri di belakangnya dan Andri. Memenuhi rasa penasaran mereka, karena memang ia dan Andri sedari tadi tidak memberitahukan mereka sebenarnya apa yang terjadi sebelum pembuktian itu berhasil. Takutnya jika salah ucap jatuhnya fitnah.


 


 


"Al-Munawir." Ia mendengar samar gumamam Tsana. Ia menoleh ke arah Tsana yang nampak memikirkan sesuatu.


 


 


 


 


*******


 


 


 


 


Ghassan Khaliqul Abraham


Andri Wijaya


Tsana Jihaan Tsabita


Jalyndra Alera H.


Jaka Ardiansyah