GHASSAN

GHASSAN
19



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


"Abi Fikri pundi, Mi?" tanya Ghassan pada Umi Fawwa yang kebetulan melewatinya. Ia baru saja selesai makan dengan Zyela namun adik tirinya itu belum selesai makannya, sedangkan Nduk Khafa sedang bantu-bantu Bunda di dapur, entah sedang membuat apa.


"Budal empunan A', nuruti Reyhan seng ngejak ket sonten mau." Umi Fawwa menjawab sambil berlalu nampak terburu-buru.


Jika acara haul seperti ini, memang semua keluarga kumpul. Keluarga Abi Fahri dan Abi Fikri yang memang menetap di Aussie selalu menyempatkan untuk pulang. Hanya saja Mas Mu'adz yang bandel selalu absen. Semenjak nyantri di pesantren sekarang, jarang sekali pulang. Tumben-tumbenan tahun ini Mas Mu'adz tidak mangkir lagi.


Dentingan gawai miliknya membuat ia merogoh saku. Beberapa chat pribadi dan grub disana, yang sengaja tidak membukanya karena masih malas untuk membalas. Melihat notifikasi new grub yang baru saja kontaknya di masukkan. Dengan mendengus kesal ia membuka, sudah ratusan chat disana. Mereka pada nyepam di chat grub. Grub yang hanya beranggotakan lima orang, tapi chatnya sudah menyentuh angka ratusan. Dengan menggeleng ia menutup grub berpindah ke chat pribadi. Nomer baru yang baru saja juga sedang menyepamnya, ia melihat profil kontak tersebut ternyata Jalyn.


Mengingat Jalyn, ia jadi teringat dengan stikcy note. Dari beberapa kejadian kebelakang, ketika ia mendapat stiky note itu, selalu ada Jalyn disana. Apa lagi dengan tulisan Jalyn yang sama. Namun dalam hatinya yang terdalam menyangkal, kalau bukan Jalyn yang selama ini mengiriminya sticky note.


Jalyn


San


Ping


Uy


Ghassultan


Ping


HOY!!


Mengerutkan dahi, kenapa tiba-tiba Jalyn menyepamnya seperti ini.


Me


Waalaikumsalam, apa?


Bermaksud untuk meletakkan gawainya kembali ke saku, namun suara dentingan mengurungkan niatnya.


Jalyn


Gak baca grub lo?


Sini ke rumah, bokap nyokap ngundang makan-makan


Me


Aku dirumah, sorry, salam aja ke orang tuamu.


Terlihat Jalyn masih mengetik disana, namun ada panggilan masuk ke nomornya. Ayah. Ia pun menggeser tombol hijau tanda menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum A' "


"Waalaikumsalam Yah." Ia melirik Zyela yang duduk di seberangnya, tentu saja Zyela tahu kalau yang sedang menelponnya adalah Ayah Iqbal.


"Ayah boleh minta tolong? pengen ngobrol sama Zyela."


Ia mengangguk meski Ayahnya tidak melihat. Ia tahu kalau Zyela memang sengaja tidak membawa gawai saat aksi kaburnya ini. "Nggeh Yah sebentar." Kemudian ia menyerahkan gawainya pada Zyela. Zyela yang baru saja meneguk air, seolah tahu kalau Ayah ingin berbicara.


"A', gue keluar boleh?" Ia hanya mengangguk melihat Zyela yang sudah berdiri kemudian berlalu


Memang keadaan ndalem yang ramai, banyak tamu yang berkunjung. Ia bosen sendiri tanpa melakukan apapun. Berjalan mencari Bunda dan Nduk Khafa. Ternyata sedang berkutat dengan beberapa adonan kue, terlihat Umi Rumanah, Umi Balqis, dan Mbak Shahla disana.


"Umi mau kaget lo A', dikirane Umi mau Aa' mbeto calone." Umi Balqis terkekeh sambil membungkus kue. Ia hanya tersenyum masam, lebih tepatnya tidak enak hati.


"Lah nopo maleh kulo Ning, seng di cegat teng dalan wau. Mpun mikir aneh-aneh wau." Bunda yang mengaduk adonan menyahuti.


"Faaz mau ngomong jane neng Umi, tapi lali." ucap Umi Rumanah yang duduk di sebelahnya. Punggung tangannya terasa di tepuk pelan, ia menoleh dengan tersenyum. "Masio ora podo koyok Khafa, iku tetep adikmu A'.


Ia merengkuh Umi Rumanah dari samping, sambil mengangguk kepalanya. "Enggeh Mi, insyaallah Aa' mboten bentene. Namung tasik asing mawon." ucapnya sambil melepas rengkuhannya.


Tiba-tiba Nduk Khafa berdiri di depannya lalu berlutut. "Sepuntene nggeh A'?"


Tangan kanannya terulur mengusap kepala Nduk Khafa, ia bingung kenapa adik bontotnya ini tiba-tiba meminta maaf padanya. "Lah, nopo o Nduk?"


"Nduke sampun suudzon kaleh Aa'. Nduke sampun ngambek kaleh Aa'. " Mendengar itu, ia merengkuh erat adiknya ini. "Tapi Aa', bakal tetep sayang Nduk kan? mboten berubah kaleh Nduk kan?"


Dalam dekapannya ia masih mendengar suara Nduk Khafa yang lirih. Senyumnya mengembang, ia tahu adiknya ini ada rasa cemburu pada Zyela. Karena sejak kecil Nduk Khafa tidak pernah kurang kasih sayang darinya atau dari Mas Mu'adz. Wajar saja ada rasa takut yang hinggap di hati Nduk Khafa, setelah mengetahui fakta bahwa Nduk Khafa bukan satu-satunya adik perempuannya.


"Terus lek sok ben Aa' mpun simah, Nduk e mosok ngambek terus kaleh Aa'?" tanyanya yang sengaja menjahili krucil nya ini.


"Loh nggeh benten to A', sak derenge dados istrine Aa', kudu MOU riyen kaleh Nduk e."


Ia mendengus geli mendengar pernyataan Nduk Khafa. "Em O Yu, Em O Yu!! " sambil mengacak hijab Nduk Khafa.


"Emang ngerti MOU iki opo Nduk?" Mbak Shahla tiba-tiba menyahut.


"Ngertilah!! Nduk kan pinter!!" ucap Nduk Khafa dengan bangga, membuat yang ada di ruangan ini terkekeh.


"Enggeh Mi." Bunda terkekeh ikut menyahuti


********


Setelah berpamitan, Nduk Khafa dan Mbak Shahla mengajaknya untuk melihat ke lapangan, melihat meriahnya festival sholawat. Seharusnya yang mengayominya dengan Nduk Khafa adalah Mbak Shahla, ini malah kebalik. Ia sekarang seperti menjadi penggembala.


"Nyusul Mas Mu'adz riyen A', teng kopiane Abi." ucap Nduk Khafa yang berjalan di depannya dengan Mbak Shahla.


Ia hanya menurut sambil menyapu pandangannya, mencari Zyela yang dari tadi pamit menerima telepon dari Ayah. Sampai satu titik melihat kerudung maroon di bawah pohon mangga, duduk membelakanginya yang masih bertelepon.


"Nduk, kae Zyela." tunjukknya


Dalam radius yang semakin dekat, ia bisa mendengar suara Zyela.


"Kata Mamah, Ibunya Aa', galak suka marah-marah. Tapi kayaknya enggak deh Yah!!"


Tangannya menghentikan langkah Nduk Khafa, lalu mengisyaratkan untuk diam. Ia ingin mendengar kelanjutannya.


"Enak deh Yah, kalau seandainya berada di tengah-tengah mereka. Apalagi jadi adiknya Aa', siapa ya tadi namanya, Zyela lupa."


"Ah, iya Khafa. Punya Ibu kayak Ibunya Aa', apalagi tadi Abi nya Aa' juga baik banget sama Zyela. Gak kayak Mamah, yang tiap hari ngomelin Zyela terus."


Memang tadi sebelum makan, ia dan Zyela sudah bertemu dengan Abi, Abah, dan Abi Fahri. Abi yang sudah tahu kedatangan Zyela, memang welcome pada adik tirinya itu.


Ia melihat wajah Nduk Khafa yang berubah masam, tangannya mengelus punggung Nduk Khafa lalu tersenyum. Memberi keyakinan kalau tidak ada hal buruk yang akan terjadi.


"Iya Yah, Zyela tahu. Tapi Zyela capek Yah!! Zyela udah mulai sadar kalau memang Ayah juga sudah lelah, makanya milih pisah sama Mamah."


"Enggak usah hawatir Yah, Zyela berusaha menekan penyakit ini. Zyela usahain gak menyilet tangan Zyela lagi."


"Iya Ayah. Zyela pastiin disini akan baik-baik aja. Meskipun belum kenal dekat, keluarganya Aa' disini baik-baik kok, Zyela suka. Zyela bisa ngerasain kehangatan sebuah keluarga. Ya walaupun Zyela gak tau bahasanya, hehe."


"Iya Ayah, Ayah istirahat deh. Zyela kayaknya mau jalan-jalan, rame banget disini Yah."


"Tabungan Zyela masih ada kok, Zyela gak minta Aa'. Iya, Iya Ayah, Waalaikumsalam."


Ia menghela nafasnya. Jauh dari lubuk hatinya paling dalam, ia bisa merasakan kesedihan yang di alami adik tirinya ini. Menurutnya Zyela rapuh, namun seolah menutupinya dengan wajah yang baik-baik saja.


"Udah?" tanyanya yang masih berada di belakang Zyela.


"Eh? udah Aa', nih!!" Zyela menyodorkan gawainya


"Ayo, ayo, ayo lets go!!" ajak Nduk Khafa dengan semangat sambil menggandengnya.


Sampai di depan kedai kopi milik Abi, ia membuka gawainya yang sedari tadi berdenting. Masih berdiri menunggu Nduk Khafa yang menghampiri Mas Mu'adz.


Andri


Assalamualaikum, sesok subuh ojo lali gelarne karpet abang. Tuan muda mau datang.


Andri


San, jarene anak buah, Pak Mursyid marani omah e wong wingi. Teko gerak gerik e mencurigakan, soale mertamu tengah wengi.


Andri


Anak buah ora iso ngrungokne percakapane.


Me


Waalaikumsalam, tak kancingi lawang. Pantau teros.


"A', Zyela mau nanya deh!!"


Ia mendongak mendengar ujaran tiba-tiba Zyela, mengangkat kedua alisnya. "Kan Zyela adiknya Aa', kalau Zyela berjodoh dengan kakaknya Aa', boleh gak sih?"


Hah?


Bagaimana?


Bagaimana?


Ia mengerjap-ngerjap kedua matanya, mencerna kembali ucapan Zyela.


*******


Assalamualaikum!!


Huft!! lama ya UP nya?


Ngapunten nggeh