
Selamat Membaca
Ghassan akhirnya bisa bernapas lega ketika turun dari mimbar. Meskipun sering speak up ketika rapat dengan petinggi atau persentasi, namun tak menyurutkan rasa gugupnya. Bayangkan saja ia speak up di depan ribuan jamaah yang mengunjungi pengajian akbar kali ini. Tanpa persiapan apapun, hanya coretan di kertas milik Abi, itupun hanya ada tulisan nama-nama saja.
Menghela napas pasrah, ini memang hukuman yang pantas untuknya. Bunda memang tahu kelemahan putera-puteri nya, hukumannya pun tidak tanggung-tanggung. Tidak akan lagi membuat Bunda kecewa. Sudah ini terakhir.
Sampai di tempat yang ia duduki semula, disamping Abi. Ia membuka aplikasi chatnya. Ternyata benar, Andri sudah datang dari tadi. Segera ia berpamit pada Abi untuk menghampiri sahabatnya itu. Melewati jalan yang sama ketika berangkat tadi, belakang panggung, yang langsung menembus ke pelataran masjid dan ndalem. Sesekali ia tersenyum ketika ada yang menyapanya.
Dari jauh, ia sudah menangkap keberadaan sahabatnya itu. Duduk di anak tangga samping rumah, masih menggunakan celana kain krem, kemeja coklat dan kacamata hitam masih bertengger di hidungnya. Ck! gayanya Andri.
"Heh! Ayo!" Ajaknya sambil berlalu menuju ke pintu samping. Disekitar rumahnya masih banyak orang berlalu lalang. Bahkan tamunya Abi dan Bunda juga masih ada beberapa yang di dalam.
"Aku ngenteni suwi lo? neng ndian seh? tak telfoni ora diangkat." gerutu Andri yang berada di belakangnya
"Speak Up." Singkatnya sambil membuka pintu kamar
"Speak Up opo? tumben gelem?" tangan Andri sambil mengeluarkan sarung di tasnya
"Hmm, ganteni Abi. Wes gek ndang." ucapnya sambil menutup pintu, teringat akan sesuatu ia membuka pintu lagi, "Luwe gak?"
"Takok opo nawani?" Jawab Andri sambil menata sarung
"Takok."
"Oh, terae!! aku tak njalok Nduk Aniya ae."
Memutar bola mata malas, ia menutup pintu lagi. Dari mulai Andri pertama kali datang kesini, sampai sekarang. Andri tidak bosan menjahili Nduk Khafa, sampai-sampai Nduk Khafa selalu bersikap ketus pada Andri. Apalagi kala Andri memanggil Nduk Khafa dengan nama yang berbeda, pasti sudah raut wajah Nduk Khafa berubah tidak bersahabat.
Duduk lesehan di karpet permadani yang berada di ruang keluarga. Ia mencicipi kue brownies mini. Segala macam olahan dari coklat selalu menjadi favoritnya. Sama halnya Nduk Khafa, namun ia tidak semaniak Nduk Khafa. Yang tiap hari harus makan coklat.
"Gus Mu'adz neng ndi?" Tanya Andri sesudah meminum air putih kemasan.
"Yo ndek kono." Jawabnya setelah menelan brownis, lalu tangannya mencomot lagi. Entah sudah habis berapa potong, ia tidak menghitung.
"Oh iyo, aku wes cerito urung lek omah seng bengi-bengi di parani Pak Mursyid, wingi wes kosong."
Sambil menggigit potongan kue yang ditangannya, ia menggeleng. "Wes di selidiki?" tanyanya sesudah menelan kuenya.
"Jare wong suruhane dewe seh, ternyata ndaleme Yai Nahrowi. Tapi sayange awekdewe kelangan jejak. Ditambah meneh, ora enek seng weruh tonggo-tonggone. Terakhir oleh info teko keamanan komplek, jare Yai Nahrowi karo cucu ne mlebu mobil ireng, tepak tengah wengi."
"Cucu?"
Andri mengangguk cepat, "He em cucu, infone seh ngunu. Meneh, terkenale Yai Nahrowi uduk gae asmo kuwi, tapi Mbah Imam. Terus tinggale mek karo cucune, puterane sampun sedho."
"Innalillahhi wa innaillahi rojiun, terus-terus?"
"Yowes iku tok, sampek sak iki wong suruhane dewe sek nggolek alamat anyare Yai Nahrowi."
"Lek iso secepatnya, soale Mbah Yai Nawawi sanjang genaku karo Mas Mu'adz lek kepikiran ora penak."
Lamunannya pecah mendengar bunyi dari gawainya. Terlihat pemanggil Ayah segera ia menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum A'!"
"Waalaikumsalam warohmah, iya Yah?"
"Abi disamping ndalemnya Abi, kamu dimana A'?"
Dengan segera, ia beranjak. Terkejut melihat Ayah yang berdiri di halaman dengan sekretaris Ayah. Ia pun menghampiri Beliau. Sambil mengucap salam, ia mencium tangan Beliau, diikuti Andri. Ia pun mempersilahkan untuk masuk ke rumah.
"Kok enggak ngabari Yah, kalau mau kesini?" Ucapnya sambil menyuguhkan minuman di hadapan Ayah dan sekretarisnya.
"Iya, Ayah sengaja. Kebetulan besok ada meeting di Bali, jadi Ayah pikir sekalian mampir."
"BCH? Loh, Ndri?" Andri hanya menggeleng kepalanya (Bali Central Hospital)
"Ayah yang minta. Aa', kan ada acara haul."
"Kan udah tanggung jawab Aa' Yah, gantiin Kakek. Ayah udah capek di rumah sakit, jadwal Ayah kan padet, gak seharusnya Ayah gantiin Aa'. omelnya pada Ayah
Ayah memang selalu begitu, mencari celah untuk membantunya. Padahal ia masih sanggup, meskipun harus berpindah-pindah kota dalam satu hari. Ayah sudah di sibukkan dengan menjadi kepala dokter, belum lagi membuka praktik dan terkadang ada tawaran untuk mengisi acara. Dan ia sudah hapal, Ayah selalu pulang tengah malam.
"Ndri! sesok-sesok neh, ojo di bocorne jadwal ku." sindirnya sambil melirik sekretaris Ayah
"Maaf Pak!" ujar Ari- sekretarisnya Ayah yang kira-kira umurnya diatas Mas Mu'adz.
"Udah A', Ayah nggak apa-apa. Mending ke tempat acara sekarang."
Melihat Ayah yang berdiri, ia pun mengikuti Beliau. Berjalan dengan rute yang sama seperti tadi.
"Zyela gimana A'?" tanya Ayah di sela-sela berjalan
"Ya nggak gimana-gimana Yah." jawab seadanya. Tidak mungkin kan kalau ia jawab Nduk Khafa sempat cemburu pada Zyela, begitupun sebaliknya.
"Masih murung dia?"
"Zyela hanya butuh dukungan dari keluarga Yah. Saran Aa', Ayah jangan terlalu sibuk. Dan kayaknya Zyela nggak mau ketemu sama tante Safira dulu."
"Nanti Zyela biar ikut Ayah, sekalian malemnya pulang ke Jakarta. Safira lagi di rawat sekarang, nyari Zyela terus."
Ia hanya mengangguk saja. Toh ini sebenarnya bukan urusannya. Ia tidak ingin ikut campur, apalagi menyangkut dengan Mamanya Zyela. Mungkin akan lebih baik jika Zyela tidak berlama-lama di sini.
Bukannya ia tidak ingin belajar untuk menyama ratakan kasih sayangnya antara Nduk Khafa dan Zyela. Jika, Zyela terlalu lama berada di sini, nanti tiba-tiba orang suruhan tante Safira datang kesini dan menimbulkan keributan. Tidak, ia tidak menginginkan hal itu terjadi. Menganggu ketenangan pesantren ini.
******