GHASSAN

GHASSAN
23



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Selepas Sholat Isya'. Ghassan dan Andri menuju tempat janjiannya dengan Jalyn. Tentu ia mengajak sahabatnya ini, tidak mungkin bertemu dengan perempuan berdua saja. Meskipun di tempat keramaian.


"Jalyn gelem rene ora?"


Ia menggeleng tidak tahu, pasalnya sudah setengah jam ia di sini tidak ada tanda-tanda Jalyn akan hadir. Chatnya pun hanya terbaca tanpa balasan. Ia mencoba menelepon saja. Satu dua panggilan tidak di jawab.


"Ket mau tak hubungi, no response."


"Hawa terae ngunu iku, baperan. Padahal selama iki kan kita-kita fine-fine ae. Ora enek seng ngerti atine menungso." ujar Andri. "Terus chatanmu karo Jalyn ae, hal lumrah. Maksudte cuma chat biasa tok kan. Opo pernah telponan?"


Memang sudah menceritakan detail pada Andri. Bahkan chatnya saja, Andri baca semua. Sampai terkena omelan Bunda berakhir dengan menggantikan Abi, ia pun cerita semua. "Enggak pernah lah." bantahnya dengan gelengan.


Jalyn


Sorry San, gue gak bisa dateng. Gue belum siap ketemu lo. Tenang aja, lo gak salah. Gue aja yang terlalu terjebak sama perasaan gue. Masalah Jaka, biar gue ngomong pelan-pelan. Sorry sekali lagi dan thanks udah mau jadi temen. Tapi kedepannya, maaf kalau gue jaga jarak dulu sama kalian.


Ia berulang kali membaca pesan dari Jalyn. Jujur saja ia bingung menghadapi kaum hawa. Kalau Bunda dan Nduk Khafa, sudah bisa ia atasi. Masak iya, harus memperlakukan Jalyn seperti itu juga. Bisa-bisa semakin menyakiti Jalyn. Tapi yang ia sayangkan, kenapa harus menjauh, untuk hanya sekedar menghapus. Bisa saja, dengan sering bersama, malah mengikikis perlahan. Menyugarkan rambutnya, tidak tahu lagi. Harus di balas apa.


"Kan, iki seng ora penak. Padahal mbiyen cedek, eh, sak iki asing." seloroh Andri, yang barusan membaca chat dari Jalyn. "Terus ora mbok bales?"


Ia menggeleng lemah, "Bingung ape bales piye."


"Emmh, Ar-Ra'd 24." Celetuk Andri dengan menjetikkan jarinya.


Ia mengangguk, membenarkan celetukan sahabatnya ini. Kemudian jari-jarinya mengetikkan satu ayat tersebut dalam tulisan arabic. Karena ia tidak akan mungkin membalas chat Jalyn dengan kata-kata menenangkan, atau dengan kata-kata jangan seperti itu, ini atau apalah. Ia sama sekali tidak membantah chat Jalyn. Membebaskan bukan berarti tidak peduli.


Namun, ada yang aneh dalam hatinya. Seharusnya ia merasa kehilangan. Karena walau bagaimanapun, Jalyn orang yang mendukungnya lewat sticky note itu. Sedikit banyak sudah menyentuh hatinya.


Apa benar kata hati kecilnya, kalau si 53 itu bukan Jalyn. Tapi jelas-jelas tulisan itu sama seperti milik Jalyn, entah sekedar tulisan coretan atau tulisan rapi. Harusnya waktu itu, kertas soal milik Jalyn, ia minta saja.


****


Tinggal di asrama kampus, membuatnya tidak sebebas mahasiswa di luar sana. Jam malam yang membatasi, maksimal pukul sebelas sudah berada di asrama. Masih pukul sepuluh, ia belum bisa memejamkan mata. Sedangkan Andri, entah tadi kemana. Paling-paling berada di rooftop merokok.


Butuh coklat panas sepertinya. Melihat persediaannya sudah habis, dan kantin pun sudah tutup. Ia memutuskan untuk keluar saja. Dinginnya malam ini menusuk pori-pori kulitnya. Imbas selepas hujan. Ia lupa tidak membawa jaket. Hanya setelan koko dan sarung.


Setelah membalas chat Jalyn tadi, ia dan Andri memutuskan untuk pulang saja dari cafe. Karena hawa akan turun hujan sudah terasa. Dan ternyata tak lama kemudian turun hujan deras.


Dengan membawa kantong kresek dan segelas coklat panas, ia duduk di depan mini market. Melihat orang-orang masih berlalu-lalang dengan kendaraannya. Terkadang pertanyaan random muncul dalam pikirannya. Mau kemana aja orang-orang itu, seperti tidak kenal lelah padahal sudah jamnya istirahat.


Tak sengaja di seberang jalan di depan ruko-ruko kosong, kedua netranya menangkap pria paruh baya yang sudah ringkih bersama dengan perempuan berkerudung dan tas-tasnya. Hatinya terenyuh, kenapa masih ada orang-orang yang seperti itu. Dengan segera, ia melangkahkan kakinya untuk mendekat.


"Assalamualaikum." sapanya sambil mendekat.


"Waalaikum--salam, Ghassan!!" perempuan berkerudung itu menoleh dengan raut terkejutnya.


Ia pun juga tak kalah terkejut."Astaghfirullah, kok bisa disini? ngapain?" tanyanya sambil bersimpuh mendekat pria paruh baya yang tentu ia kenali.


"Bukannya rumah kamu bukan daerah sini? terus ngapain bawa tas-tas?" tanyanya masih beruntun, sambil mengelus tangan pria paruh baya yang mendingin. Astaghfirullah, rasanya ia ingin menangis, tidak tega. Belum ada jawaban atas pertanyaannya. Dan perhatiannya masih tertuju pada pria paruh baya ini. Memperhatikan kedua netra Beliau yang berkaca-kaca.


Mendengar suara itu, ia menoleh kearah perempuan berkerudung itu, tampak gelisah. "Kenapa?" tanyanya tegas, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.


Melihat beberapa tas yang di bawa, kemungkinan terbesar jika perempuan ini meninggalkan rumahnya. Pandangannya menangkap hotel yang tak jauh dari ruko. "Kuat bawa tas kan?"


Perempuan itu, hanya mengangguk. Meskipun keadaan lampu ruko yang meremang, ia bisa melihat kalau kedua mata perempuan itu juga berkaca-kaca. Tak menunggu lama, ia menggendong pria paruh baya.


****


Setelah membaringkan pria paruh baya, lalu menyelimuti Beliau dan beralih mengontrol Ac nya. Sengaja ia memesan yang dua bed, agar lebih nyaman. Melihat di pergelangannya, sudah hampir pukul setengah sebelas malam, artiannya ia harus segera kembali ke asrama.


"Le!!" suara serak memanggilnya. Ia pun langsung bersimpuh.


"Pripun Embah? sampun dhahar?"


"Suwun sanget. Mugi-mugi di ridhoi tindak tandukmu, Le." Saking serak dan kecilnya suara Beliau, ia harus menghadapkan pendengarannya pada lisan Beliau. Ia mengangguk, mengamini ucapan Beliau.


Selang beberapa detik, bunyi gawainya terdengar, Melihat nama Andri di sana, langsung ia menerima panggilan itu dan sedikit menjauh.


"Waalaikumsalam warohmatullah, sek ndek hotel, piye?"


"Heh, nyapo ndek hotel? ndang muleh, enek seng ape tak omongne, penting, perkoro Mbah Yai Nahrowi."


"Mari ngene tak critoni, diluk engkas aku balek. Emang enek opo sak iki ae?" desaknya. Dengan melihat perempuan berkerudung itu membantu Kakeknya meminum teh.


"Wes nemu lokasine tempat tinggale Mbah Yai Nahrowi. Tapi, kelangan jejak eneh, jarene, iku kosan mek rong dino, gek dino iki mau terakhir. Pak Mursyid seng nyewo, terus ngongkon seng nduwe kos-kosan kon ngusir pisan lek entek jatah nyewone."


"Astaghfirullah!!" desahnya sambil memijit pelipisnya.


"Terus lebih penting meneh."


"Opo?" tanyanya tidak sabar. Pasalnya ia harus segera memesan makanan dan harus cepat-cepat kembali ke asrama.


Namun hatinya berdenyut sakit, tak lama setelah Andri mengucapkan kalimat itu. Tubuhnya hampir luruh begitu saja. Nafasnya tercekat. Ya Allah, Astaghfirullah.


Sungguh, meskipun bukan dari saudara dekat, ia merasakan sakit bercampur marah.


"Allahurobbi, kok enten tiyang seng kados ngoten niku." batinnya berteriak.


******


Aduh, ada nyeri-nyeri gimana gitu ketika ngetik ini.


Mulai nanjak, penyelesaian, terus ending deh!!


Yang kalian inginkan


Ending cepat


Atau


Entaran?