GHASSAN

GHASSAN
11



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Berbekal alamat yang tertera dari aplikasi pemesanan taxi online, Ghassan dan Andri menuju ke rumah Tsana. Tadi, setelah Tsana sudah menaiki taxi online, Jalyn bilang kalau ia dan Jaka tidak bisa ikut, jadi Jalyn menyuruh dirinya dan Andri untuk mengikuti Tsana. Dari informasi Jalyn, kalau Tsana tinggal hanya berdua dengan kakeknya, takut terjadi apa-apa, jadi Jalyn menyuruh ia dan Andri untuk menyusul kesana.


"Aku ora ngerti lek selama iki Hus-hus tinggal karo Embah e." ucap Andri di sela-sela perjalanan


Ia hanya diam, tidak menanggapi. Entah kenapa jauh di lubuk hatinya, ia merasa khawatir kalau terjadi sesuatu pada Tsana. Ia menggeleng keras, Astaghfirullah, seharusnya ia tidak bersikap terlalu khawatir seperti ini.


Tak membutuhkan waktu lama, Ia dan Andri sudah berada di belakang mobil hitam yang tak lain adalah taxi online tadi. Setelah mobil itu pergi, ia memasukkan motornya ke dalam halaman rumah sederhana minimalis.


Ia dan Andri bisa mendengar tangis keras dari Tsana. Ia langsung berlari ke dalam rumah, tanpa menunggu Andri yang sedang mematikan motornya. Keadaan ruang tamu yang sudah berantakan dan tidak ada siapapun. Lalu ia bergegas masuk ke dalam kamar, yang terdengar tangis Tsana.


Tepat di ambang pintu, ia bisa melihat Tsana tersedu sambil memeluk kakeknya. Ada rasa sakit yang ia rasa.


"Bulek cepet. " ucap Tsana sambil tersedu


"Waduh, Lek Pardi mobile di sileh Nduk. Sek-sek tak telfone Pak Man." ucap wanita yang di panggil Bulek oleh Tsana.


Kedua tangannya yang sudah dingin, ia segera merogoh gawainya, memesan taxi online lagi.


"Rumah sakit terdekat mana?" tanyanya


Tsana melihat dirinya dengan derai air mata. "Bina sehat."


Ia langsung mengetik mengetik alamat yang dituju. "Sudah saya pesankan." ucapnya


"He em Le, berarti iki rak sido."


"Piye, enek opo?" ucap Andri yang tiba-tiba sudah berdiri disampingnya dengan nada khawatir.


Ia menggeleng, "Ndri, cegaten ndek ngarep mobil sigra." ucapnya, lalu Andri yang segera berjalan keluar.


"Kamu cepet siapkan barang untuk nginep disana." ucapnya pada Tsana. Dan Tsana pun bergegas untuk membawa barang-barang yang di butuhkan.


Ia lalu mendekati ranjang kakeknya Tsana. Hatinya miris melihat kakek yang sudah tua renta terbaring lemah di atas ranjang dengan hilang kesadaran Beliau. Ia tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi pada keluarganya sendiri.


Tapi tunggu dulu, wajah kakek Tsana seperti seseorang yang ia kenal. Sekilas mirip, tapi ia lupa siapa.


"Wes San." ucap Andri tiba-tiba


Ia langsung mengangkat kepala kakeknya Tsana, kedua tangannya sudah di punggung Beliau, sedangkan Andri di bagian bawah. Dengan hati-hati Ia dan Andri mengangkat kakeknya Tsana menuju ke mobil.


"Kamu masuk duluan." perintahnya pada Tsana


Dengan hati-hati ia dan Andri meletakkan kakeknya Tsana. "Ndri gowo pedah. Buk, titip rumah dulu nggeh. Assalamualaikum." ucapnya lalu masuk ke dalam mobil.


*****


Sampai di rumah sakit, ia langsung bergegas memanggil petugas. Dengan sigap petugasnya bertindak cepat. Ia dan Tsana berjalan cepat mengikuti bangsal yang di dorong beberapa petugas.


Di depan UGD, Tsana dan ia duduk di kursi dengan berjarak tentunya. Ia masih bisa melihat Tsana masih menangis meski tidak mengeluarkan suara. Ia bingung untuk menenangkan dengan cara apa.


"Keluarga pasien." ucap Dokter


"Kondisi pasien masih kritis, jantung pasien sangat lemah. Pasien harus segera di pindahkan ke ICCU." papar Dokter tersebut. Seketika tangis Tsana pecah.


"Berikan perawatan yang terbaik Dok." ucapnya mendekat ke Dokter.


"Baik, silahkan mengikuti suster untuk kelengkapan administrasinya." ucap Dokter


"San, aku titip kakek dulu ya?" suara serak Tsana


"Kamu disini, biar aku aja. Mana KTP embahmu." ujarnya


Lalu Tsana mengeluarkan dompetnya, menyerahkan dua kartu ke hadapannya. Tanpa menyentuh, ia mengambil KTP saja. Dan bergegas mengikuti suster. Ia tidak mengindahkan ucapan Tsana untuk membawa ATM nya.


Setelah menyerahkan KTP dirinya dan KTP kakeknya Tsana, ia di datangi Andri yang baru sampai.


"Piye?" tanyanya


"Sek ape di pindahne ICCU." jawabnya,


"Pakai BPJS atau pribadi?" tanya petugas administrasi


"Pribadi." jawabnya tegas


"Baik, berkas ini silahkan di bawa ke sebelah sana, untuk menyelesaikan biayanya."


Ia mengambil lalu menuju ke bagian pembiayaan. "Ndri, kancanono Tsana kono. Dalan iki lurus terus ngiri." ucapnya pada Andri kemudian Andri bergegas kesana.


"Ini rincian biaya sementara, selanjutnya bisa mengikuti nanti."


Ia melihat sejenak rincian itu, lalu mengambil kartu ATM di dompetnya kemudian menyerahkannya. Setelah menyelesaikan administrasinya, sesuai arahan suster tadi, ia menuju ruang ICCU.


Ia bisa melihat Andri yang duduk menghadap ruang ICCU sendirian. Ia duduk di samping Andri.


"Hus-hus yatim piatu San." ucap Andri dengan wajah lesu. "Selama iki, arek e kerjo, gawe pengobatane embah e."


Ada rasa haru yang merasuk dalam dadanya. Tentunya berat bagi Tsana. Alhamdulillah ia di beri kehidupan yang berkecukupan.


Ia menepuk pelan punggung Andri. "Tsana butuh sandaran." ucapnya


Andri mengangguk membenarkan. "Iya, dia butuh sandaran, tapi yang jelas bukan aku."


Ia tahu alasan Andri berkata seperti itu. Istilahnya Andri tulang punggung keluarga, dia anak pertama dari tiga bersaudara dan adiknya sudah masuk jenjang sekolah semua. Selama ini yang membiayai kebutuhan sekolah maupun di luar sekolah adalah Andri.


Ia tidak memperbolehkan Bapak dan Ibunya untuk bekerja keras, karena yang ia tahu kedua orang tua Andri sudah sakit-sakitan.


"Sampeyan juga butuh sandaran San, iso kan di bangun barengan."


********


Nah loh!!


Siapa yang mau bersandar di bahu Aa' Khaliq.