
*Vote dulu nggeh!!!
Selamat Membaca
"Assalamualaikum Mas, Bu Sarah menghilang selama dua hari ini Mas."
Mendengar suara di seberang, Om Adi-orang suruhannya memberi info penting padanya. Menggigit pipi bagian dalam, ia menekan rasa khawatirnya.
"Om, minta tolong cari sampai dapet. Dan tolong amankan dulu."
"Baik Mas, saya laksanakan. Assalamualaikum."
Ia bergumam menjawab salam Om Adi. Perlahan ia menurunkan gawainya, menyapu pandangannya banyak tatapan yang di berikan kepadanya.
"Gimana San? Bu Sarah baik-baik aja kan?" pertanyaan dari Tsana meluncur bersamaan dengan genangan air yang mengucur bebas di kedua pipi. Terlihat Bunda, Mbak Kiya dan Nduk Khafa mendekat sambil menenangkan. Ia masih diam, belum berkata apapun. Otaknya masih mencerna satu per satu kejadian mulai awal pertemuannya dengan Bu Sarah. Ekspresi terkejut Bu Sarah, ekspresi ketakutan, dan terlebih ada sorot mata tertekan disana. Astaghfirullah, ia sudah berprasangka buruk terhadap Bu Sarah.
Menuruni anak tangga masjid dengan Mas Mu'adz di sampingnya. Perasaan khawatir masih menyerangnya, pasalnya sampai dhuhur, Om Adi juga belum mengabarkan apapun kepadanya. Apalagi Tsana yang terdiam seribu bahasa. Ia tahu kalau Tsana sangat khawatir pada Bu Sarah, jadi ia memaklumi sikap Tsana.
"Mas mari ngene balek, Mas enteni kabar selanjute. Insyaallah Bu Sarah aman." Mas Mu'adz menenangkannya.
"Aa', kok sampek mboten ngeh, pas awal ketemu, lek Bu Sarah tertekan."
Belum sempat Mas Mu'adz menanggapinya, dering gawai di saku baju terdengar. Melihat siapa nama pemanggil, Ia berhenti lalu langsung menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum Mas, Bu Sarah sudah aman."
"Alhamdulillah." ucapnya lega sambil melihat Mas Mu'adz yang tersenyum lega.
"Tapi Mas, Bu Sarah dalam keadaan buruk, kata dokter banyak luka di tubuhnya. Jadi Bu Sarah belum sadar sampai sekarang."
"Innaillahiwainnaillahirajiun. Tolong Om, sementara jaga dulu, nanti saya segera kesana."
"Baik Mas, Assalamualaikumsalam."
"Waalaikumsalam warohmah." jawabnya sambil menurunkan gawainya. "Bu Sarah luka-luka Mas, sampek dereng sadar sak niki."
"Innaillahiwainnaillahirajiun. Wes ayo mlebu omah disek. Diomongne ndek omah." ucap Mas Mu'adz sambil menggiringnya menuju rumah.
******
Keputusan bersama, keesokan harinya disinilah sekarang ia berada. Bersama Nduk Khafa dan Tsana, di rumah sakit tempat Bu Sarah di rawat, lebih tepatnya rumah sakit dekat dengan kampusnya. Pertemuan dengan keluarga besar ayah terpaksa tertunda. Dan untungnya Beliau semua juga memakluminya.
Ia sudah menyuruh dokter untuk melakukan visum terhadap Bu Sarah, mungkin suatu saat akan di butuhkan untuk menyokong tuduhan kepada Pak Mursyid. Melihat bagaimana pakaian Pak Mursyid, layak seorang kyai. Ada rasa tidak percaya, kalau Pak Mursyid melakukan tindakan sekeji itu.
Tsana duduk di sebelah bangsal Bu Sarah, dengan alat-alat terpasangan di tubuh, Beliau masih belum sadar semenjak kemarin. Melihat Nduk Khafa dengan mata sayunya masih asik mengoprasi gawai. Kasihan harus menyeret Nduk Khafa kesana kemari, untuk menjadi penengah diantara ia dan Tsana, karena memang seharusnya begitu, ia dan Tsana belum mahrom.
Decitan pintu, mengalihkan perhatiannya. Dengan salam, Andri langsung nyelonong masuk. Memang, sudah ia kabari sejak mendarat di kota ini. Dan Andri pun bergegas menghampirinya.
"Piye, piye urung sadar?" Bisik Andri mendudukkan diri di sebelahnya. Ia hanya menggeleng kepalanya sebagai jawaban. "Kok ora ngabari ket mambengi."
"Iyo awakmu kan liburan Ndri. Masio sek enek Om Adi kok e."
"Iyo masio liburan, lek masalahe urgent ngene yo tak usahakne lah." sahut Andri. "Eh!" Andri sambil menunjukkan Nduk Khafa yang terkantuk-kantuk.
"Udah makan belum Hus?"
Tsana menggeleng. "Kalau mau kekantin, kalian duluan aja. Kasian kalau gak ada yang jagain, apalagi Nduk Khafa juga tidur."
"Kamu juga harus istirahat. Nanti aku tinggal bentar, Om Adi yang bakal jagain, Beliau di luar. Kalau ada apa-apa telfon aja." ucapnya
Terdengar dengusan dari Tsana. "Tumben panjang? hubungi kamu atau Andri? katanya sama aja dulu?"
Seketika ia berdecak ketika teringat dulu, sikapnya terhadap Tsana. Memang ia bersikap begitu terhadap lawan jenis. Hanya kemarin khilaf saja bersikap di luar batas terhadap Jalyn. Dan sekarang, apa salahnya, ia membuka diri terhadap calon istrinya.
"Hadeh!! urung rabi ae wes ape perang." celetuk Andri. "Wes lah ayo!" Andri langsung menyeretnya tak lupa mengucap salam sebelum pintu rawat inap tertutup.
Berjalan di lorong rumah sakit. Menaiki lift, turun ke lantai dasar, mencari kantin. Sampai di meja makan kantin rumah sakit, masing-masing terdiam belum ada yang bersuara, menunggu pesanan datang.
"Aku ora nyongko lek bakal rabi karo Hus-hus." celetuk Andri tiba-tiba, mengawali percakapan kali ini. "Mbiyen ae ngongkon aku ngegas, sak iki!"
Mendengus sinis ke arah Andri, ia tahu kalau sahabatnya ini sedang menyindirnya. "Ape mok tikung?"
"Wih.., santai Gus, santai!! Merasa kesaing ente?" Andri terkekeh sedangkan Ia hanya berdecak sebal. "Mangkane to, aku kan pernah ngomong, podo-podo butuh sandaran, kalian." Ia terdiam tidak menanggapi ucapan Andri, tepat ketika minuman juga datang.
"Jajal tak takoki, nyapo kok moro-moro memutuskan nikah karo Hus-hus?"
Pertanyaan itu juga yang seharusnya ia tanyakan pada dirinya sendiri. Tidak ada jawaban. Ia tidak tahu alasannya apa. Yang ada di pikirannya, tidak ingin melihat Tsana menderita lagi, ia ingin melihat kebahagaian Tsana, hanya itu. Mungkin lewat pernikahan, Tsana bisa bahagia bersamanya. Atau bahkan bisa saling membahagiakan. Astaghfirullah!! Belum ketahap itu, ia sudah berani membayangkan.
"Aku baru ileng mambengi." celetuk Andri yang menyadarkan dari lamunannya.
Ia mengerutkan dahinya. "Ileng opo?" selepas menyeruput coklat panas di cangkirnya.
"Tulisan."
"Hah? tulisan opo?" tanyanya merasa tertarik ucapan Andri.
"Ileng ora lek aku koyok ora asing karo tulisan ndek sticky note iku?!"
Ia mengangguk antusias. "Wes lewat Ndri, kan awakmu yo wes ngerti lek kuwi tulisan Jalyn. Mangkane kan aku sempat— ."
"Uduk San." Andri memotong cepat. "Uduk Jalyn, kliru. Salah sasaran."
"Hah? ojo ngarang Ndri, wong jelas-jelas eroh dewe." bantahnya
"Serius. Bahkan arek e sak iki seng karo Nduk Aniya."
********
Sudah bisa menebak?
Caba komen
Jangan supe klik bintangnya nggeh!!!