GHASSAN

GHASSAN
2



Selamat Membaca


 


 


 


 


 


 


 


 


Di pelataran Masjid kampus, Ghassan dan Andri, masing-masing sedang menyimpulkan tali sepatu. Siang ini memang cukup panas, meskipun di naungi pohon rindang, tak mengurangi hawa panas yang terasa. Masih duduk bersantai-santai di anak tangga Masjid, sambil menunggu waktu janjian mereka di cafe.


 


 


"Sesok balek ndek ndalem, opo ndek Jakarta ?"


 


 


"Jadwal e ndek Jakarta. Huft !!"


 


 


"Heran aku, iso di bilang kamu itu beruntung. Menjadi Gus yang pesantrennya termasyhur, punya cafe, punya rumah sakit, punya rumah megrong-megrong, hp keluaran terbaru, mobil turah-turah. Sungguh sultan sekali kau Gus Khaliq."


 


 


"Aku uduk Gus, Ndri !! Di titipi harta segitu banyaknya, aku cuma takut hanya menjadi boomerang di akhirat nanti Ndri!!" Ia menatap langit tanpa awan. "Mosok aku sok ben di takoki Malaikat, Hartamu di gawe opo ae? tak jawab, di gae mbayari Andri. Kan gak lucu!!"


 


 


"Sembarangan!! ojo ngomong ngunu talah Gus !! malati, engko aku seng repot."


 


 


"Gus Gus ae. Wes ayo budal !!"


 


 


 


 


******


 


 


 


 


Mengendarai motor matik yang ia beli dengan hasil kerjanya selama ini. Ia dan Andri sampai di cafe yang di maksud sebagai tempat janjian mereka. JAR Cafdis cukup nyaman untuk mengerjakan tugas atau berdiskusi kecil. Ada rak-rak buku juga. Mungkin memang cafe ini di dedikasi untuk mahasiswa dan pelajar.


 


 


Sebenarnya konsepnya hampir sama dengan cafe nya yang ada di Jakarta. Namun beda suasana beda pula tempatnya. Bunda dulu membangun cafe itu sengaja mengkonsep penghijauan. Mungkin karena keadaan suhu di Jakarta panas.


 


 


Ia dan Andri menyapu pandangannya, mencari orang yang satu kelompok dengannya. Namun sepertinya belum ada yang datang.


 


 


"Nggolek o tempat, aku seng pesen."


 


 


Andri mengangguk, "Tubruk." ucapnya.


 


 


"Mangan ora ?" Andri hanya menggeleng, lalu berlalu dari sampingnya.


 


 


Ia langsung memesan beberapa menu cemilan, dan minuman. Setelah membayar, ia langsung menuju ke tempat Andri. Melepas sepatunya. Andri memilih tempat lesehan yang semi outdoor. Ia melepas tas gendongnya, mengambil macbook nya.


 


 


Mungkin memang barang-barangnya terlihat mewah bak sultan. Dari segi pakaian, barang-barang pun juga terlihat mewah. Tapi tentu saja ini bukan kehendaknya. Ini semua pemberian dari kakeknya-Abraham. Pernah ia akan mengembalikan barang-barang itu, namun Bunda melarang. Bukan matre atau semacamnya. Bunda menjelaskan kalau menghargai pemberian Kakek tidak ada salahnya, toh dapat pahala karena menyenangkan Kakeknya. Lagi pula di gunakan untuk yang bersifat positif. Namun Bunda memberi pengertian pada Kakek itu, agar dirinya bisa mandiri dengan kehidupan sederhana.


 


 


Toh, ia mendapatkan barang-barang itu tidak semerta-merta menerimanya. Bunda mengusulkan pada Kakek untuk turut membantu di rumah sakit. Karena saham terbesar dari kakek di berikan padanya, dan saham milik Bunda dulu juga di berikan padanya. Mau tidak mau ia di tuntut untuk mengerti pada dunia kesehatan, dan dunia managemen juga.


 


 


Memang Kakek sangat sayang sekali dengannya, selalu memanjakannya. Ia pun selama ini juga nyaman-nyaman saja. Terbukti dengan didikkan dari Abi dan Bunda. Ia sekarang bisa memegang rumah sakit dan dua cafe sekaligus. Sebenarnya yang satu milik Mas Muadz, selama ini ia hanya membantu mengurus cafe milik Mas Muadz, karena ia tahu Mas Muadz tidak sesering dirinya untuk mengontrol langsung karena Mas Muadz mengabdi di pesantren. Hasil dari cafenya Mas Muadz, ia kasihkan bersih pada Mas Muadz. Ia tidak meminta upah atau semacamnya. Ia hanya sekedar bantu.


 


 


Andri menjadi asisten sekaligus managernya. Dari awal Andri mengetahui kalau ia mengurus rumah sakit dan dua cafe, Andri mengajukan diri untuk menjadi manager sekaligus asisten. Ia setuju saja, mengingat pengalaman Andri di pesantren. Sampai sekarang Andri, selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Itung-itung dari uang kerjanya, Andri bisa membantu perekonomian kedua orang tuanya. Karena ia tahu betul cerita Andri, sampai ia begitu menginginkan masuk pesantren saja di banding jadi anak kuliahan.


 


 


"Penerbangan ke Jakarta malam ini 19.50, Mr. Dalbert meminta ketemu sekitar jam sepuluh malam ini juga."


 


 


"Heh!! seng bener ?"


 


 


"Nggeh Bos !! ini pertemuan wajib dengan petinggi. Dan sudah di setujui olehi Pak Abraham dan Pak Iqbal."


 


 


Ia hanya menggeleng-geleng. Sekarang sudah terbiasa dengan pertemuan mendadak, kapanpun jam nya. Karena bagi petinggi-petinggi seperti itu, waktu adalah emas. Sangking padat jadwalnya, jam berapapun kalau mendesak mau tidak mau ya harus di lakukan.


 


 


Awal-awal menggeluti dunia semacam ini, hampir setiap hari ia protes pada tantenya. Namun perlahan tantenya itu membantu sedikit demi sedikit. Dan sekarang ia benar-benar di lepas. Meskipun kalau pertemuan penting semacam itu, ia masih di dampingi Kakek, Ayah dan Tantenya.


 


 


"Assalamualaikum !!"


 


 


"Waalaikumsalam warohmah."


 


 


 


 


"Maaf telat, karena ikut kajian tadi bentar." ucap Tsana.


 


 


"Sans ae lah. Pesen dulu. Jangan sungkan-sungkan nanti yang traktir pak bos!!"


 


 


"Pak bos ?"


 


 


"Hemm, yo kan pak bos?" tanya Andri


 


 


"Hah ?" Merasa Andri berbicara dengannya, ia mengangkat wajahnya.


 


 


"Traktir lah !!"


 


 


Ia hanya mengangguk, mengiyakan Andri. Biar cepet. Selagi menunggu pesanan mereka datang. Ia mendekat ke Andri. Sambil menyodorkan macbook nya ke meja.


 


 


"Sebagian sudah saya kerjakan, di cek dulu." ucapnya. Memang sejak ia dan Andri menunggu yang lain, ia perlahan mengerjakan tugasnya. Sedangkan Andri sibuk dengan jadwal-jadwalnya, berkas yang harus di persiapkan untuk pertemuan nanti malam.


 


 


"Wah!! jadi gak enak nih. Karena telat udah ngerjain duluan." ucap Tsana tak enak


 


 


"Eh, bentar aku mau ke atas dulu !!" ucap salah satu diantara mereka.


 


 


"Kabur we Wok !!" Teriak dari perempuan yang tidak berhijab.


 


 


"Ambil lepi. Suudzon we !!" Sama-sama menjawab dengan teriak.


 


 


Ia hanya menggeleng-geleng kelakuan dua perempuan itu.


 


 


"Emang Jaka, ada disini ?" tanya Tsana pada temannya.


 


 


"Kamu tahu kalau ini cafe nya si Tarub ?"


 


 


"Lah semua anak-anak kelas juga tahu kali Luh."


 


 


"Kirain, si Tarub cuma terkenalnya si playboy cap lele."


 


 


"Emang bener Jalyn deket sama Jaka ?" Kali ini Andri membuka suaranya.


 


 


Oh jadi yang tadi yang namanya Jalyn, Jalyndra Alera H. Beberapa kali ia melihat kalau Jalyn ini cukup aktif di diskusi-diskusi, Tsana juga sama-sama aktifnya. Kali ini anggota kelompoknya cukup mumpuni. Biasanya tugas kelompok yang ngerjakan hanya satu orang, yang lain hanya jadi penyemangat.


 


 


"Emang mereka sahabat sejak ospek sampek sekarang. Tapi kalau masalah hati, aku gak tau."


 


 


Jalyn datang, mereka menyudahkan untuk membicarakannya. Jalyn juga sudah mulai membuka macbooknya.


 


 


Suasana hening, dengan Tsana dengan temannya tampak konsentrasi pada layar macbook yang tadi ia sodorkan. Andri, sibuk dengan berkas-berkas meerting, Jalyndra yang fokus dengan macbook yang dibawanya tadi. Sedangkan dirinya? tidak tahu mau ngapain, akhirnya mengecek ponselnya.


 


 


"Eh, bentar, bentar. Ini bukannya lo ya?" celetuk Jalyn yang membalikkan macbook ke hadapannya.


 


 


Sekilas saja ia tahu, kalau memang itu dirinya. Sewaktu ada acara beberapa minggu lalu. Yang ia tidak mengerti, Jalyndra kok bisa dapat foto itu.


 


 


Andri menatapnya, ia berusaha untuk tidak tegang. Karena selama ini tidak ada yang tahu kalau ia bekerja di luar jadi mahasiswa.


 


 


"Bener lo kan?" todong Jalyndra


 


 


 


 


 


 


 


 


*********