GHASSAN

GHASSAN
16



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Sudah lima hari berlalu setelah kepulangannya dari rumah, Ghassan kembali pada kesibukannya. Hari ini hari terakhir, Ghassan ujian semester. Sudah di pastikan setelahnya adalah libur panjang.


Kini Ghassan dan Andri sedang berada di JAR Cafe, mendinginkan otak yang telah terkuras selama lima hari lalu. Bukan hanya ia dan Andri, namun ada Jalyn, Tsana dan Jaka, tapi mereka semua belum ada yang datang.


"Sampek sak iki Pak Yai ne ora gelem bukak suara. Padahal kan ora ape ngusik pesantrene." papar Andri setelah menyesap kopinya.


Selama kepulangannya, Andri yang mengurus semuanya. Hanya saja terkendala pada saat pencarian Mbah Yai Nahrowi. Foto yang di kirim Mas Mu'adz hanya foto semasa remaja Beliau, itupun sudah buram karena foto lawas.


Sedikit cerita dari Mas Mu'adz, yang sama-sama baru diketahuinya juga. Abah Nawawi dulunya punya saudara se-ayah, Mbah Yai Nahrowi namanya. Namun ketika beranjak remaja, Beliau merantau. Dari informasi terakhir yang di ketahui Abah Nawawi, Adik Beliau merantau di Jogja. Abah Nawawi sendiri belum di beri kesempatan untuk berkunjung, karena sudah kehilangan jejak sejak lama. Dan ia dimintai tolong Mas Mu'adz untuk mencari Beliau yang kebetulan satu daerah dengan kampusnya.


"Bengi iki awekdewe rono." pungkasnya


Sebenarnya ia tidak tahu alasan apa mereka sampai menutup rapat mengenai ini. Kalau dilihat dari gerak-gerik Bu Nyai kemarin, memang ada yang tidak beres. Sampai-sampai orang sewaannya yang ia suruh menggali informasi sampai hari ini pun belum mendapatkan informasi.


"Engko tak takokne Firman disek, enek opo ora Pak Yai karo Bu Nyai ne. Asline Firman rodok kepo seh, tapi aman lah lek karo aku."


"Iyo mugo ae uduk kongkalikong." desahnya


"Hmm.. Oh iyo, minggu iki ngulon yo?"


Ia menggeleng keras, "Rubah jadwal, wayah e haul ndek omah."


"Mesti wes, ora gelem ngomong jauh-jauh dino. Pokok e ngancani aku lembur engko bengi." Protes Andri kesal


"Emoh, resiko lah." sahutnya cepat


"Uy!! pada ngomongin apa nih?" seru Jaka yang baru saja datang dengan Jalyn. Ia menyapu pandangannya, heran saja kok cuma berdua yang datang.


"NASIB.. NASIB.. NASIB.. BOSQYU DIKTAKTOR." ucap Andri keras, beberapa pasang mata menoleh ke arah meja kita.


"Ck. demo naik gaji sono." ucap Jalyn dengan menelengkupkan kepalanya di meja.


"Protes pecat." ketusnya


"ALLAHUROBBI.." ucap Andri dengan wajah memelas sambil mengelus dada. "Oh iya mana Hus Hus?" imbuh Andri


"Masih di perpus, entar nyusul." Jalyn masih menelengkupkan kepalanya.


"Lo kenapa dah?" tanya Andri kepo, sebenarnya ia juga ingin tahu, tiba-tiba Jalyn terlihat lesu dan tak bersemangat, padahal biasanya tidak mau diam.


"Stress ragara ujian tuh, jawabnya ngawur semua." celetuk Jaka


"TBB?" (Teknologi Bahan Bangunan)


Jalyn menegakkan badannya, lalu membuka tas meraih lembaran kertas disana. "GILA!! kenapa soalnya harus beda-beda sih, berapa? lima paket yak? Mana Prof. Hendro sering absen lagi, gue mana paham kalau gak di jelasin. Pasrah deh gue, PASRAH!!" gerutu Jalyn


Ia membenarkan ucapan Jalyn, dosennya ini sering sekali absen kala ada kelas. Maklum karena wadek, jadi sering sibuk. Ada asdos pun hanya memberi bahan materi lalu tugas. Namun ketika ujian seperti ini, satu-satunya dosen yang sulit. Sulit memberi nilai dan sulit memberikan soal. Satu pertanyaan terkadang bisa dua lembar kertas polio.


"Lyn.. Lyn, ini tulisan lo?" tanya Andri sambil menyodorkan kertasnya


"Hmm, tulisan ---"


"Assalamualaikum."


Semua bergumam menjawab salam, lalu menoleh kecuali dirinya yang masih penasaran membandingkan kedua tulisan itu. Ini bener-bener sama. Tulisan latin keduanya juga sama. Jadi selama ini yang mengirimnya sticky note itu Jalyn? Tapi dilihat sepertinya tidak mungkin. Bukan sifat Jalyn, dengan repot-repotnya mengirimi sticky note.


"LOH LO KOK BISA DISINI? NGAPAIN? MAEN LO JAUH BANGET, ASTAGA!!"


Suara Jaka yang lantang memutuskan perdebatan dalam pikirannya. Ia menoleh penasaran. Kedua matanya sedikit membesar, kala melihat seorang perempuan berhijab modis berdiri di samping Tsana. Tanpa sadar, ia meremas kertas milik Jalyn.


"Siapa Mblo? cewek baru lo?" tanya Jalyn sinis


"Ahelah Le, bukan. Temen gue nih!! anaknya temen papah."


Ia dan Andri saling berpandangan berbicara lewat tatapan, lalu ia memutuskan untuk menormalkan keadaannya lagi. Ia tidak menyangka Jaka kenal.


"Duduk, duduk. Lo tinggal dimana? sama siape lo kesini?" tanya Jaka beruntun


"Berisik." ketus Zyela


"Eh, oneng. Gue aduin ke mamah lo yak."


"Ck. tukang adu."


Ia masih mendengarkan perdebatan kecil antara Zyela dan Jaka. "A', Zyela mau ngomong bentar boleh?"


Ia mendongak, melihat wajah penuh harap dari adik tirinya ini lalu ia mengangguk. "Ngomong aja."


"Zyela pengen tinggal sama Aa'. Zyela gak mau disana lagi pingin ikut Aa' aja. "


Allahurobbi, apalagi ini?


****


Bagi yang menduga-duga, sudah terjawab kan di part ini?


Masih mau lanjut?


Atau udah bosen?


Eh, iya. Mau curcol dikit nih!!


Gak tau kenapa dari kemarin pikiran ku nyantol ke kehidupan Khafa. Padahal gak ada niatan untuk di buat cerita. Aduh!! kelewat over paling aku iya?


Hihi udah gitu aja ceritanya