GHASSAN

GHASSAN
7



Selamat Membaca


Sudah hampir tengah malam. Di ruangan privat room, kini tinggal dirinya dan Ayah. Sekitar lima menit ia berada di ruangan ini, Ayah datang dengan wajah kusutnya. Ia tidak bertanya macam-macam terlebih dahulu. Biarkan Ayah yang bercerita sendiri. Sampai ia selesai ngecek laporan, Ayah belum membuka suara.


Ayah yang merebahkan tubuhnya di sofa, tampak memejamkan kedua mata. Astaghfirullah, demi Allah ia tidak tega dengan keadaan Ayah seperti ini.


"Yah!!" Ayah hanya berdehem tanpa niat membuka kedua mata.


"Ayo pulang!!" ajaknya


"Ayah nginep disini boleh kan?" Tanya Ayah sembari duduk, melepas kaca mata.


"Tidur di rumah aja!!" Ia tetap mengajak Ayah untuk pulang kerumahnya


Ia yang sudah berdiri, dengan tas punggung. Ayah pun akhirnya mengikutinya. Ia sudah mengirim pesan pada Andri untuk menunggu di mobil.


Cafe pun sudah sepi, tinggal beberapa pegawai merapikan tempat duduk. Lampu-lampu juga sudah di padamkan.


"Kar, duluan!!" pamitnya pada Laskar


"Yoi Boss, ati-ati." jawab Laskar


Ia dan Ayah berjalan ke parkiran, menuju ke mobil masing-masing. "Yah tak tunggu di rumah nggeh!! Assalamualaikum."


Ayah terlihat mengangguk, "Waalaikumsalam."


Ia membuka pintu mobil, melihat ke belakang Andri yang sudah molor. Ia pun menjalankan mobilnya.


******


Di taman belakang, dekat kolam renang. Sekarang ia dan Ayah duduk. Masih belum ada yang membuka suara satu sama lain. Ia memberi waktu luang Ayah agar bercerita sendiri tanpa paksaan. Ia hanya sibuk menscroll chat-chatnya.


"Hmm, kayaknya besok enak nih buat mancing?" ujar Ayah membuka percakapan malam ini.


Ia pun meletakkan gawainya. "Okey."


"Besok mau kemana aja?" tanya Ayah


"Ke Kakek terus ke cafe." jawabnya singkat. Ia tahu kalau Ayahnya hanya sekedar basa-basi padanya. Mungkin membangun suasana yang nyaman terlebih dahulu.


"Sampai kapan Ayah akan begini terus!!" ucapnya sambil menoleh ke Ayah. Ia tidak tahan lagi untuk tidak mengeluarkan unek-uneknya.


Melihat ada perubahan ekspresi Ayah. Ia mendengar Ayah menghela nafasnya berat.


"Dulu Ayah dan Tante Safira, setiap hari bertengkar hebat, bahkan setiap kali bertatap muka. Rumah selalu berantakan dengan pecahan vas dan guci. Puncaknya ketika adik mu SMP, Ayah melayangkan gugatan cerai. Ayah yang tidak pernah pulang ke rumah, Tante Safira yang mengurung diri. Sampai Ayah denger kabar kalau Adikmu melakukan percobaan bunuh diri. Ayah merasa ditampar keadaan, bahwa Ayah lupa kalau masih ada adikmu yang butuh kasih sayang. Sampai akhirnya Adikmu di diagnosis mengalami PTSD. Traumanya akan kambuh ketika mendengar pecahan kaca atau semacamnya dan mendengar orang yang marah-marah. Adikmu akan bereaksi melukai dirinya sendiri. "


Ia masih diam belum angkat bicara. Ia tidak menyangka kalau kejadiannya seperti itu. PTSD yang sudah ke tahap self injury. Penyakit kejiwaan yang tidak bisa di sepelekan, bahaya.


"Sekarang gimana dia?" tanyanya


"Alhamdulillah kata psikiaternya dulu sudah di nyatakan sembuh tapi belum seratus persen."


Ia mengangguk pelan. "Jadi ini alasan Ayah sampai sekarang bertahan?"


Terlihat Ayah mengangguk membenarkan. "Iya, Ayah gak mau adikmu kambuh lagi."


Ia terdiam, begitu pun Ayah juga belum membuka suaranya lagi. Suasana hening, di gantikan semilir angin yang menerpa ranting-ranting pohon. Angin malam yang kian menusuk kulit.


"Selama anak-anak Ayah bahagia, Ayah juga ikut bahagia." jawab Ayah


"Memangnya Ayah tahu anak-anak Ayah sudah bahagia? Ayah apa pernah tanya, apa Aa' bahagia?" Ayah terdiam tidak menjawab. "Justru kebahagiaan anak ketika melihat orangtuanya bahagia juga, gak tertekan seperti Ayah." tukasnya


"Ayah gak mau egois A'. Ayah gak mau penyakit adikmu kambuh lagi."


Ia menghela nafasnya pelan. "Dia udah gede, udah dewasa. Jangan jadikan kejadian masa lalu sebagai acuan untuk melangkah ke depan. Karena tidak akan pernah sama Yah."


"Gak segampang itu A'. Ayah gak mau kehilangan anak Ayah lagi." sanggah Ayah dengan nada lesu


Ia menoleh ke Ayah. Ada rasa sesak yang ia rasakan. Ia tersenyum masam. "Aa' gak nyangka, Ayah bisa berfikiran seperti itu. Jadi selama ini Aa' ini siapa? Apa Ayah kehilangan Aa'? Justru ada orang yang sengaja merenggangkan hubungan kita." Ujarnya sambil melihat seorang wanita yang berjalan mendekat. Rahangnya mulai mengeras. Ada rasa marah yang menguasai dirinya.


"Contohnya seperti sekarang ini." Imbuhnya lalu berdiri kasar hingga kursi berdecit. Ia melebarkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Ayah pun juga ikut berdiri dan menatap istrinya itu.


"Mau kemana kamu? Jangan ngeracunin pikiran picik mu pada suami saya ya!!" ujar Tante Safira


Ia tetap berjalan tanpa menghiraukan ucapan wanita itu. Ia muak, benar-benar muak. Astaghfirullah. Ingin rasanya ia meluapkan segala emosinya sekarang.


"HEI !! apa itu yang diajarkan wanita gatel itu, untuk menghasut suamiku, agar menceraikan saya." ucap Tante Safira lantang, seketika ia menghentikan langkahnya.


Sama sekali ia tidak terima mendengar hinaan untuk Bunda. Wajahnya kian memanas, menahan amarah yang menggebu. Kedua tangannya mengepal kuat, hingga urat-uratnya sampai terlihat jelas. Sekarang ia benar-benar di kuasi oleh amarah.


"SAFIRA CUKUP!! jangan buat gaduh di rumah anak ku."


"Apa Bal? emang benar kan? Mantan istrimu itu membujuk anak kesayangannya agar kita pisah. Dasar gak tau di untung, udah punya suami masih mau suami orang. Huft, aku kasian yang jadi santri di sana, pura-pura baik padahal kelakuannya BUSUK."


"CUKUP SAFIRA!!" bentak Ayah


Dengan langkah tegapnya, ia melangkah mendekati Ayah dan Tante Safira. Kedua tangannya masih mengepal kuat. Ia menarik nafasnya lebih dalam, mencoba meredamkan emosinya agar tidak lepas kontrol.


"KENAPA KAMU SELALU SALAHIN LUNA. INI GAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN LUNA." ucap Ayah meninggi. Ada nada frustasi disana.


"Jangan sekali-kali mulut kotor Anda menghina Bunda saya. Saya sudah berbaik hati untuk mengizinkan anda menginjakkan kaki disini. Jadi silahkan, gerbang disana." ucapnya yang masih menekan emosinya.


"Berani kamu sama saya? itu yang diajarkan wanita ular itu pada anaknya. Cih, gak jauh beda." ucap Tante Safira


Astaghfirullah!! Ia benar-benar frustasi menghadapi istri Ayahnya ini. Kedua tangannya mengepal kuat. Ia menghirup nafasnya dalam-dalam, dalam hati mengucap istighfar berkali-kali. "Selesaikan Yah. Inget, Aa' ingin Ayah bahagia. Assalamualaikum." ucapnya sambil berjalan meninggalkan Ayah dan Tante Safira.


Samar-samar ia masih mendengar percakapan Ayah dan tante Safira.


"Cukup Fir, selama ini cukup. Sebaiknya kamu pulang, kita bicarakan besok lagi." ucap Ayah yang sepertinya mengikuti langkahnya.


"IQBAL KAMU GAK BISA YA GINIIN AKU. AKU PASTIIN KITA TIDAK AKAN BERPISAH. INGAT ITU!!"


Ia yang berada di anak tangga, mendengar teriakan Tante Safira. Ia hanya menggeleng sambil menghela nafas. Mengacak rambutnya sendiri, frustasi.


Astaghfirullah, berikan hidayah Mu!!


********


Mari sama-sama doakan Safira ya