GHASSAN

GHASSAN
31



Selamat Membaca


Jum'at pagi, di rumah tampak ramai, banyak orang yang berseliweran. Terutama Bunda dan Umi Rumanah. Sibuk mengatur sana-sini, apalagi dengan berbagai hantaran yang akan di bawa ke ndalem Abah Nawawi. Di tambah lagi kemarin malam keluarga dari Ayah juga turut datang. Berulang kali dirinya menghela nafas sambil beristighfar, dirinya grogi. Bagaimana tidak, satu jam di mulai sekarang, ia akan mengucap kalimah qabul.


Pada seorang perempuan yang menurutnya sangat kuat dan tangguh, dengan segala beban yang di pikul. Nama samaran 53 yang selalu memberinya dorongan lewat potongan ayat. Dan sampai sekarang ia masih heran, bisa tepat seperti itu, tepat dengan keadaannya waktu itu. Padahal kehidupan 'dia' juga membutuhkan dukungan, justru malah memberinya dukungan.


Entahlah!


Yang jelas Tsana Jihaan Tsabita akan menjadi istrinya sebentar lagi. Jangan tanyakan masalah cinta, karena ia yakin cinta datang seiring berjalannya waktu. Dirinya menikah dengan Tsana, karena ia yakin kalau Tsana yang tepat menjadi pendampingnya. Sudahlah, kalau seperti ini pikirannya bergelut tentang calon istrinya itu terus-menerus, lebih baik dirinya masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri.


Mengenakan kemeja polos berwarna putih dan sarung hitam serta peci hitam, melihat pantulan dirinya di cermin. Betul-betul nikah ini ya? batinnya bertanya sendiri. Decitan pintu kamarnya membuyarkan lamunannya. Dari pantulan terlihat Andri masuk tanpa permisi.


"Alhamdulillah gasultan tenan ape nikah." goda Andri sambil duduk di ranjangnya.


"Ganteng, ganteng. Hus-hus klepek-klepek mesti." ledek Andri. Ia hanya berdecak malas, membalikkan badannya menghadap Andri.


"Nyapo? ndredeg?"


Mengangguk singkat lalu mendudukkan badannya di samping Andri. "Wajar lek ndredeg, wong ape nikah yo ngunu." ucap Andri sok tahu, sedangkan dirinya hanya melirik malas Andri. "Seng penting ojo sampek lali ae. Wes apal kan jenenge Hus-hus? Eh, iyo gawe bahasa arab kan? iyo tambah enak lah."


Belum sempat ia menjawab selorohan Andri, terdengar bunyi nyaring gawai miliknya. Beranjak mengambil gawai di nakas. Ia mengerutkan dahi membaca nama Om Adi sebagai pemanggil, ia langsung menerimanya.


"Assalamualaikum Mas, ada info terbaru. Hari ini, Mas di suruh ke kantor penyidik."


Seketika saja ia menjadi bingung, tanpa sadar ia berjalan kesana-kemari. Bagaimana ia harus mengurus itu semua, sementara hari ini ia akan melakukan akad. Kuasa hukum? ia belum punya. Karena kasusnya ini di bantu kenalannya Andri, jurusan hukum di kampusnya.


"Mas? bagaimana? bisa kan?"


Tersadar sambungan telfon masih tersambung. "Oh iya Om, Insyaallah saya usahakan. Terimakasih Om. Wassalamualaikum."


Setelah mematikan sambungan telefon itu, ia menatap Andri dengan serius. "Hari ini juga aku di tunggu ndek kantor penyidik." ucapnya tanpa basa-basi pada Andri.


"Om Adi?"


Ia berdehem, membenarkan. "Piye Ndri? opo di tunda disek?"


Keadaan kamar tiba-tiba sunyi. Masing-masing saling memikirkan penyelesaiannya. Andri yang duduk sambil menggaruk-garuk kepalanya, sedangkan dirinya sibuk mondar-mandir.


"Gawe kuasa hukum, iyo urung nduwe." gumamnya sendiri namun masih bisa di dengar Andri.


Semua menoleh ketika pintu terbuka menampilkan wajah sumringah milik Ayah. "Gugup?"


Bahkan dirinya lupa akan kegugupannya tadi, setelah mendengar kabar tiba-tiba dari Om Adi, dirinya malah bingung. "Em, Yah." Menjeda sejenak, ragu untuk melanjutkan ucapannya. Ayah yang sudah duduk di ranjangnya, sedangkan Andri beralih ke kursi dekat nakas.


Dengan perlahan ia duduk di samping Ayah, menatap Beliau. "Emh, kalau Aa' nunda akad boleh nggak?"


"Serius Yah. Ada hal yang harus Aa' urus di Jogja, dan harus hari ini juga." ia mencoba meminta izin pada Ayah.


"Masalah kasus?"


"Iya Yah, hari ini Aa' disuruh kesana."


"Sudah tenang aja, sudah beres itu." Ia menatap tidak percaya pada Ayahnya ini.


"Seirus Om!" celetuk Andri dengan wajah cerah.


"Iya serius. Lagian kalian mengurus seperti ini lebih gampang pakai kuasa hukum. Ayah jadi heran, kok bisa tahu kalian masalah hukum-hukum seperti ini tanpa di dampingi kuasa hukum."


"Hehe, itu Om, di bantu temen kuliah." Cengir Andri.


"Iya udah Aa' siap-siap bentar lagi berangkat. Jangan mikirkan kasus itu lagi, udah Ayah tangani semua. Fokus aja pada acara Aa' hari ini."


"Iya Yah, makasih Yah, sudah mau di repotkan Aa'." ucapnya tulus bercampur lega.


******


"Qobiltu nikakhaha watazwijaha bimahrin madzkurin khalan."


Dengan satu tarikan nafas, ia mengucap kalimah qabul. Entah kenapa hatinya menjadi selega ini, meskipun memikul tanggung jawab yang besar di hadapan Allah. Tapi, lega saja hatinya. Seolah dirinya menemukan rumah, yang sekian lama tidak ia ketahui alamatnya.


Di mulai dari sekarang, semua yang ada di diri Tsana, menjadi tanggung jawabnya. Seulas senyum turut mengiringi. Menatap istrinya berjalan mendekat. Kini ia tidak perlu lagi, melihat sekilas wajah istrinya. Berbalut dengan gamis berwarna krem, serta polesan di wajah istrinya menambah kesan segar. Sebelum-sebelumnya ia tak pernah melihat Tsana memoles wajahnya, baru kali ini ia melihat secara langsung. Tampak beda, lebih cantik.


Pembicaraan terakhir di meja makan rumah Kakek dan Nini, menjadi pembicaraan terakhir dengan Tsana semasa lajang. Pasalnya, setelah itu, satu sama lain tidak ada yang berinisiatif untuk membuka percakapan, bahkan bertemu. Sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Atau mungkin Tsana masih terkejut dengan fakta yang sudah ia ketahui.


Tepukan pelan di punggungnya menyentakkan dari lamunannya. Bisa-bisanya ia tak menyadari Tsana sudah mengulurkan tangan. Langsung ia menyodorkan tangannya dan kemudian di ciumlah punggung tangannya.


Nafasnya berhenti sejenak, dadanya berdebar hebat. Ini rasanya bersentuhan langsung dengan mahrom selain keluarga. Tanpa lama pun, ia mengangkat tangan kirinya di ubun-ubun istrinya ini.


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih. Membacakan doa di ubun-ubun istrinya diiringi dengan lantunan sholawat. Dalam hati beribu-ribu rasa syukur ia ucapkan.


Mulai hari ini, dirinya sudah sah menjadi suami dari Tsana Jihaan Tsabita. Semoga sakinah, mawadah, warohmah. Amin Ya Rab.


********