GHASSAN

GHASSAN
29



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Masih terdiam memikirkan percakapannya beberapa menit yang lalu dengan Andri. Ghassan memang tipe yang belum melihat buktinya, hanya fifty-fifty ia akan percaya. Oke, akan ia buktikan sendiri nanti, benar apa tidak ucapan Andri.


Bernakah dia?


Si 53?


Kok bisa dia melakukan hal itu? tanpa ketahuan selama ini.


Telunjuknya beberapa kali mengitari pinggir cangkirnya. Menggeleng pelan, akalnya tidak mencapai ke arah satu orang itu. Sesuatu yang muhal, mengingat bagaimana caranya 'dia' memasukkan stickynote itu. Benar-benar di luar pemikirannya.


"Wes, enggak usah di pikir jeru." Ucap Andri lalu menyuapkan nasi. "Sok lek bakal ngerti dewe to. Masio yo dirimu wes ape nikah to. Mosok ape di batalne."


Menyesap coklat panas, lalu berdecak. "Aku cumak heran."


"Heran lek iso ngelakoni ngunu kuwi?"


Ia berdehem sebagai jawabannya. "Selain iku, 'dia' kok ngerti ko endi, tentang sekabehane?"


"Alhamdulillah." ucap Andri setelah menegak air dari botol. "San, iku tandane larene iki wes seneng karo dirimu. Jadi semua ekspresi, semua gerak-gerikmu wes iso di woco karo larene, terus nulislah stickynote kuwi. Tak akoni larene pinter, iso moco eskpresimu seng lempeng-lempeng ngunu kae. Aku seng ben dino karo dirimu ae ora paham-paham."


Ia mengernyitkan dahi. Emang iya, orang bisa sampai tahu keadaannya hanya memperhatikan ekspresi. Lah bagaimana ceritanya, kalau memang ada seseorang yang menyembunyikan ekspresi sedih dengan senyum. Kan jadinya salah kaprah.


Apa mungkin hanya tepat saja insting 'dia'? Mendesah panjang, lalu menggeleng. Entahlah, kenapa juga harus seribet ini hanya karena siapa pengirim stickynote itu. Mari di perjelas, ia hanya sekedar penasaran. Toh selama ini, ia tidak terlalu memburu menemukan orang di balik pengirim stikynote itu.


"Assalamualaikum." Suara Nduk Khafa menariknya kembali dalam dunia. Lalu ia bergumam menjawab salam. Dengan lesu Nduk Khafa menyenderkan kepala di pundaknya.


"Ada siapa yang jaga Hus?" Tanya Andri pada Tsana yang duduk di depannya.


"Om Adi. Kebetulan Nduk Khafa bangun jadi sama Om Adi di suruh nyusul kesini."


"Kok wes tangi lek sek ngantuk Nduk?" tanyanya pelan.


"Mboten ngantuk mpunan A', cumak —." Nduk Khafa nyengir sambil memperagakan, menepuk perut, tanda kelaparan. Ia tersenyum sambil mengelus kepala bagian belakang Nduk Khafa. "Aa', mboten dhahar?"


"Ngenteni Nduke lah!" Memang ia tadi belum memesan makanan. Lebih tepatnya menunggu Nduk Khafa. Jaga-jaga kalau tidak ada yang menemani makan Nduk Khafa, nanti selera makan Nduk Khafa akan menurun. Fun fact dari Nduk Khafa, kalau makan harus ada yang menemani makan juga. Kalau tidak gitu, Nduk Khafa kehilangan selera makannya.


"Enten. Aa' pesene pisan nggeh, podo." ucapnya


"Biar aku aja yang pesen Nduk." Tsana menyahut, lalu beranjak.


"Jare doktere kapan Bu Sarah siumane ?" Tanya Andri tiba-tiba. "Eh iyo, aku wingi entok kabar teko Firman, jare pondok rodok geger, mergo Pak Mursyid ora enek ndek ndaleme. Dadi arek pondok ora enek seng nunggoni."


"Ora enek seng eroh Pak Mursyid. Wong nemune Bu Sarah ae ndek gudang, seng adoh teko pondok."


"Terus piye lanjutan kasuse ?"


Menggedikkan bahunya. "Enggak ngerti, minggu ngarep wes mulai sidang pokoke."


"Eh, sek ta. Kapan seh nikahe?" tanya Andri bertepatan dengan Tsana yang sudah kembali ke meja.


"Agama disek, pokok e sak durunge kuliah mlebu. Lek negorone, bareng karo Mas Mu'adz pisan, bene sekalian Abi Fahri karo Abi Fikri iso teko." paparnya pada Andri


"Permisi! ini pesanannya. Dua soto, satu rawon iya?"


"Iyo pokok e ojo lali ngabari aku. Mosok dirimu nikah ora gelem tak kancani." seloroh Andri.


"Loh, Mbak Bita kok tahu kalau Aa' nggak suka seledri?"


Pertanyaan Nduk Khafa mengalihkan perhatiannya pada semangkok soto di hadapannya. Yang tampilannya tidak ada taburan warna hijau di dalamnya. Lalu beralih pada Tsana, ia menunggu jawaban apa yang di berikan Tsana.


"Em- itu." Tsana Tampak tergugup. Ia bisa lihat raut gelisah di sana.


Padahal selama ini yang tahu ia tidak suka seledri hanya keluarga dekatnya. Umi Rumanah saja tidak tahu. Karena selama ini apa yang di berikan padanya selalu ia terima tanpa protes apapun.


Apa benar gerak-geriknya selama ini bisa mudah di baca oleh orang di sekitarnya?


*******


Assalamualaikum!!


Maaf nggeh lama mboten UP!!!


Baru longgar hari ini. Insyaallah kalau besok longgar lagi, aku gantian ngetik punya Mas Mu'adz.