
Selamat Membaca
"A', Abi kaleh Bunda membebasne sampeyan-sampeyan. Memang wau dhalu, Bunda mboten sependapat kaleh Abi. Tapi Alhamdulillah Abi kaleh Bunda, empun nemu solusi. Dadose Aa', mboten usah gantosi Mas Mu'adz. Abi kaleh Bunda cuma menawarkan teng Mas Mu'adz, keputusane nggeh tetep teng Mas Mu'adz." jelas Bunda dengan merangkulnya.
"Tapi Nda--"
"Sstt... sampun, ndang teng masjid, mpun takhim niko." Ia mengangguk, meskipun perasaannya tidak lega.
Ghassan tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Sekarang dirinya merasa, kalau seolah berambisi untuk mendapatkan Tsana. Ia tidak mau kalau Tsana bersama Mas Mu'adz. Yang ada di pikirannya saat ini, hanya yang terbaik untuk bersama, antara Mas Mu'adz dan Tsana.
Mendengar percakapan Abi dan Bunda semalam, meyakinkan jika Mas Mu'adz mungkin bisa saja menerima Tsana, tapi hatinya, kebahagiaan Mas Mu'adz bukan dari Tsana. Itu juga mengharuskan Tsana, berjuang untuk Mas Mu'adz. Tidak, ia tidak mau melihat Tsana seperti itu. Sudah cukup perjuangan hidup Tsana menjadi tulang punggung. Ia ingin melihat Tsana hidup tentram, tanpa beban.
Sebentar, sebentar, kenapa dirinya bisa berasumsi seperti itu?
******
Masih sekitar jam sembilan pagi, dirinya dan Nduk Khafa sedang bersantai di taman samping rumah. Sedangkan Bunda ada shift pagi.
Menikmati me time nya bersama Nduk Khafa di taman ini. Ia jadi teringat kalau Abi betah berlama-lama disini, meskipun minimalis tidak menyurutkan hawa kesegaran yang di dapat. Bunda merawatnya dengan sangat baik. Taman yang ditumbuhi dengan rerumputan hijau sebagai alas dan bunga-bunga berbagai jenis mengitari pagar. Taman samping ini menghubungkan dengan dapur bersih. Kata Bunda ini dulunya tidak terpakai, malah di buat meletakkan barang-barang yang sudah usang.
Nduk Khafa yang tengkurap dengan stylus pen di tangan kanannya, sudah di pastikan Nduk Khafa sedang mencorat-coret kreasi di gawainya. Sedangkan dirinya duduk lesehan dengan macebook di atas meja lipat, ia memeriksa pekerjaannya.
Ia meregangkan ototnya, lalu menghampiri Nduk Khafa, melirik apa yang Nduk Khafa gambar, sketsa gamis. Ia merebahkan dirinya, dengan punggung Nduk Khafa sebagai bantalnya.
"Ih!! Aa', awrat!"
"Sediluk Nduk." gumamnya dengan mata tertutup menghadap ke langit, menghirup udara yang sejuk. Ia membuka kedua matanya, lalu posisinya berganti miring. "Nduk, teng nopo kok mboten di realisasikne mawon? bangun usaha kiambak ngoten." celetuknya tiba-tiba.
"Emh, Nduk iki, sampun gadah rencana A' kaleh Mbak Kiya. Ketepak an Mbak Kiya saget jahit, tapi tasek bingung modal e. Nduke mboten pengen ngrepotne Abi kaleh Bunda."
Ia beranjak bangun, duduk menghadap ke Nduk Khafa. "Lah kan enten Mas Mu'adz kaleh Aa' to Nduk. Lek purun, Aa' siap modali Nduk, usaha sareng-sareng. Aa' yakin Mas Mu'adz nggeh purun modali."
"Tapi A', Nduke pengen usaha kiambak dari nol, modal nggeh saking Nduke kaleh Mbak Kiya."
"Ngeten lo Nduke, cah ayu. Bukane Aa', meremehkan kemampuane Nduke. Tapi seng namine modal awal bangun usahane sampeyan niku butuh modal ageng. Nduke, engken dereng tumbas peralatan jahit kaleh kain-kaine kan? terus tempat pisan kan dereng enten." Ia mengelus kepala Nduk Khafa. "Mangkane Aa' marengne modal teng Nduke, masalah keuntungan saget keri-kerian, seng penting usahane Nduke jalan riyen. Kan eco to?"
Nduk Khafa mengangguk antusias. "Tapi estu mboten ngrepotne Aa' kaleh Mase?"
"Hush!! Aa' kaleh Mase mboten pernah ngeroso di repotne Nduke. Tapi, siji syarate?"
"Nah! Aa' mboten ikhlas." Cemberut Nduk Khafa yang membuatnya gemas sendiri. "Nopo pun syarate?"
"Kan empun di bagi-bagi A' kaleh Bunda, gadane Aa', sampun telas?" tanyanya dengan cemberut.
"Hehe, Aa' wau mboten sadar nyemil sampek telas. Angsal nggeh, kedik mawon?" harapnya. Memang sudah di bagi rata oleh Bunda, satu loyang masing-masing. Namun tadi selepas murojaah, Ia memakannya karena kondisinya masih hangat, sampai-sampai ia tidak sadar jika sudah menghabiskan sekitar dua puluhan potong brownis.
Nduk Khafa mengangguk dengan wajahnya yang terpaksa. "Ehm, nggeh mpun riyen tak pundutne."
Sepeninggal Nduk Khafa, ia beralih ke macebooknya, mematikannya. Sambil menunggu, ia mengoprasikan gawainya. Tak lama kemudian terdengar langkah tergesa. Ia menoleh, Abi dengan wajah paniknya datang.
"Aa', enggal siapne mobil ageng. Mbah Yai Imam, sedho."
"Innaillahi wa innaillahi rajiun!" Ia masih bergumam beberapa kali.
"Enggal A'!!"
Ia langsung melesat mengembalikkan macebooknya, lalu menyiapkan mobil besar milik Abah Rohim. Yang memang belum sempat di kembalikan.
"A', enten nopo? niki brownise." Nduk Khafa menghadang jalannya.
"Nduke, cepet siap-siap, Mbah Yai Imam sedho."
"Innaillahi wa innaillahi rajiun!"
*********
Keesokan harinya, semua keluarga besar Shiddiq sedang perjalanan pulang dari ndalem Alm. Mbah Yai Imam. Memang semuanya menginap disana. Ada satu fakta yang membuat dirinya semakin yakin. Apa ini jawaban dari istikharahnya beberapa akhir ini? Seakan semuanya mengalir saja.
"Bi!" Ia melirik sekilas ke arah samping kiri lalu kembali fokus dengan jalanan.
"Pripun A'?"
"Bi, estu sanget. Aa' purun simah kaleh Tsana." ucapannya tentu dapat di dengar seluruh penghuni mobil ini. Abah Shiddiq, Umi Rumanah, Bunda dan Nduk Khafa karena memang keadaan mobil yang sedang hening.
"A'--"
"Bi!!" sahutnya cepat. "Aa' mboten terpaksa. Beberapa akhir niki, Aa' sampun istikharah. Mungkin niki ndalane sampun di lancarne kaleh Gusti Allah."
"Engken di omongne teng nggiyo nggeh A'. Abi mboten seneng, Aa' mengambil keputusan terburu-buru. Mboten eco A'. Seng Aa' pikirne bukan mawon keluarga besar mriki, tapi keluarga besar Ayah, A'. Abi pengen Aa' memikirkan baik-baik."
*****