
*Vote dulu nggeh !!
"Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya."
(QS. Al-An'am ayat 160)
Selamat Membaca
Surya perlahan tenggelam, memunculkan semburat kemerahan. Ghassan sudah berada di pelataran ndalem. Belum ada yang mengetahui kalau dirinya pulang, kecuali Mas Mu'adz. Yang ia tahu Bunda sekarang berada dirumah, karena ia tadi sempat menelfon Bunda.
Ia tak membawa apa-apa, selain tas punggung dan beberapa kresek jombo berisi oleh-oleh salah satunya favorit Bunda, bakpia.
Terlihat beberapa santri yang berlalu lalang. Namun pandangannya pada rumah yang tampak sepi. Mungkin Bunda sedang berada di ndalem Abah. Tak membuang waktu, ia masuk lewat pintu samping, yang tidak terkunci. Sampai di kamar ia langsung membersihkan diri, karena sudah terdengar tarhim di masjid.
Dengan memakai koko putih serta sarung army, Ghassan bergegas menuju masjid. Berjalan dengan tenang, sesekali menurunkan pandangannya. Sesekali Kang-kang santri menyapa dirinya. Karena memang sering pulang, mereka semua tahu jika ia salah satu dzuriyyah disini. Berbeda halnya dengan Mas Mu'adz yang selalu kucing-kucingan. Padahal jarak pesantren yang di tempati Mas Mu'adz hanya beberapa kilometer saja, tapi sangat jarang untuk pulang. Teringat Mas Mu'adz jadi teringat ia belum mengabari kalau sudah sampai di ndalem.
Selesai menunaikan kewajiban, dari jauh ia bisa melihat Abi yang di depannya ada Abah, yang masih bergumam wirid. Ia menunggu di serambi masjid.
"Gus!! njenengan kapan dugine?" Sapa Kang Doyok yang juga duduk di undakan di bawahnya. Sebenarnya itu bukan nama aslinya, entah ia tidak tahu kenapa bisa di panggil Doyok, ia hanya ngikut saja.
"Nembe Kang. Pripun persiapan Haul e Kang?"
"Alhamdulillah sampun delapan puluh persen Gus. Gus Mu'adz hadir nopo mboten Gus?"
"Emh, Insyaallah hadir Kang." Selain menjadi abdi ndalem di ndalem nya Abah, Kang Doyok ini juga lurah pondok putra. Jadi tidak heran kalau Kang Doyok ini tahu Mas Mu'adz.
Semakin lama mengobrol sana-sini, sampai suara lirih yang memanggil namanya menghentikan aktivitas berbincangnya dengan Kang Doyok. Ia menoleh lalu tersenyum hangat. Meskipun menjelang paruh baya, masih terlihat segar bugar. Mungkin banyak yang salah menebak umur Abi, melihat wajah Beliau.
Ia mencium tangan sambil mengucapkan salam, kemudian memeluk Abi sebentar. "Kok mboten ngabari Abi, A' ?"
Ia hanya menyengir tanpa menjawab. "Bunda mpun semerep lek samian wangsul?"
Ia menggeleng polos, "Hmm, Abi angkat tangan lo A'. " ucap Abi sambil terkekeh
Ia mengerti, bahkan sangat mengerti kebiasaan Bunda yang akan menasehatinya panjang dan lebar kala tidak mengabari kalau pulang. Ini bukan pengalaman pertama baginya. Kalau dulu ia hanya diam tanpa bisa membantah Bunda, kalau sekarang tentunya sudah membawa senjata sebelum negara api Bunda menyerangnya.
Melihat Abah keluar dari pintu, ia langsung menghampiri Beliau. Mencium tangan Beliau sambil mengucap salam. Ia hanya bersyukur melihat Abah yang Alhamdulillah nya masih sehat.
"Ayo, omong-omongan ndek omah ae." Sambil berjalan disisi kiri Abah, sedangkan Abi berada di sisi kanan Abah. "Umi mu mau lagek ngomong A', lek kangen sampeyan mangkane masak sambel goreng ndog puyuh, jarene gawe tombo kangen." cerita Abah Shiddiq dengan terkekeh
Abi dan ia juga ikut terkekeh. Ia merasa bersyukur berada di tengah-tengah keluarga ini. Meskipun ia bukan keturunan Abi, namun Beliau semua tidak pernah sekalipun membedakannya. Hanya disini, ia bisa merasakan kehangatan dari keluarga. Ia bisa terkekeh, tertawa, terharu, manja dan masih banyak lagi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Ya Allah Aa'. " Suara halus nan tenang itu bersumber dari Umi Rumanah. Ia langsung mencium tangan Beliau dan tak lupa memeluk Umi Rumanah. Sudah dua bulan ia tidak pulang. Karena pekerjaannya di Jakarta yang mengharuskan kesana kala libur kuliah.
Sampai di ruang keluarga yang terhubung dengan ruang makan, ia bisa melihat kalau sudah tersaji kudapan yang menjadi favoritnya. Melihatnya saja ia ingin menghabiskan sendiri.
"Nduk, Lun."
"Dhalem Mi." suara sahutan itu berasal dari dapur. Mendengarnya saja ia langsung tersenyum. Ada rindu yang membuncah.
"Abi, mboten melok-melok lho A'. " bisik Abi yang membuatnya terkekeh. "Tenang Bi, Aa' gadah gaman dhamel menangkal serangan."
"Prip-- Ya Allah Aa'. " Bunda nyembul dengan spatula yang berada di tangan kanan Beliau.
"Hmm, hayoloh gowokne sothel kaleh Bunda." celetuk Abi yang langsung menjauh darinya. Sekarang tinggal dirinya yang berdiri. Umi dan Abah sudah duduk di sofa ruang keluarga.
"Assalamualaikum Bunda cantik." Sambil mencium tangan Bunda kemudian memeluk erat Bundanya ini. "Bunda kok tuambah cantik tok, nopo maleh lek senyum." rayunya dengan senyuman.
"Nda, inget tujuan awal." celetuk Abi yang membuatnya melirik Abi sinis.
"Bunda, Bunda, Aa' mbeto bakpia lho." masih merayu Bunda. Sedangkan Bunda hanya diam dengan wajah Beliau yang datar namun sinis.
"Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui."
Tiba-tiba suara yang sangat ia kenal dengan gampangnya mengucap itu, seolah dirinya tidak akan di dakwah Bunda juga. Ia bisa melihat kakaknya itu masih mencium tangan Abah, Umi dan Abi.
"Mas." panggilan tegas dari Bunda membuat badanya tegap. Mas Mu'adz juga melakukan hal sama. "Siap Ndoro Kanjeng Bunda. Salim riyen dong. Qola- Qola ne engken riyen di tahan." Tanpa menunggu balasan Bunda, Mas Mu'adz mencium tangan Bunda lalu memeluk Beliau.
"Mas, A'. "
"Siap Bunda!!" ia dan Mas Mu'adz berdiri tegap di hadapan Bunda yang masih memegang spatulanya.
Ia dan Mas Mu'adz sudah siap mendengar nasehat Bunda yang panjang kali lebar ini. Beruntung ia tidak sendirian, tapi celetukan Mas Mua'dz yang membuat durasi nasehat Bunda menjadi lebih lama. Apalagi Abi yang seolah berkompromi dengan Bunda.
Ia tahu, Abi hanya ingin selamat.
******
Saat ini Abi, Bunda, Mas Mu'adz dan ia, sedang berada di ruang keluarga. Bunda yang berada di meja kerjanya sedangkan Abi, Mas Mu'adz dan ia sedang di depan televisi mendiskusikan sesuatu yang tentunya Bunda mendengar semuanya. Ia mulai menceritakan semuanya yang ia ketahui dan termasuk opininya.
"Mas, mbeto seng Aa' minta?"
Ia bisa melihat map berwarna navy yang telah usang. Ia mengambil lalu membacanya dengan seksama. Ini asli bukan salinan.
"Niki pripun Bi ?"
"Lek iso kekeluargaan disek ae Mas, A'. Kita kan tidak tahu alasan mereka melakukan hal seperti ini." ujar Abi
"He em A', sampeyan engken silaturahmi maleh teng mriko dengan membawa copy ane niku. Lek terahne tetap kekeh, bisa ke meja hijau." tambah Bunda
"Tapi Nda, sanjange Abah Nawawi niku namung madosi Mbah Nahrowi mboten merebut pesantrennya dari tangan mereka." papar Mas Mu'adz
Musyawarah masih berlanjut, entah memakan berapa jam. Dan Alhamdulillah menemukan titik terang.
"Aa', niki kertas nopo?" tanya Bunda yang tadi meminjam bolpoin, datang dengan membawa bolpoin serta kertas berwarna pink. Sticky note gumamnya. Aduh!!
"Isini nopo Nda?" Mas Mu'adz juga tak kalah penasaran.
"مَنۡ جَآءَ بِالۡحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشۡرُ اَمۡثَالِهَا "
Kamu selalu begitu, selalu buat aku nambah suka.
~53~
Bunda membacakan seksama dengan suara lantang, tentunya di dengar semua penghuni ruang keluarga ini. Seketika ia susah menelan salivanya sendiri. Padahal ia tidak melakukan kesalahan, tapi kenapa respon tubuhnya seolah ia terdakwah. Aduh, kacau.
"Hmm, ketahuan. Hiyuh kunu siap-siap di qola-qola Kanjeng Ratu, di tambah Kanjeng Romo, Aku tak kabur ae lah." celetuk Mas Mu'adz
******
Hayoloh Aa'
Kali ini Mas Mu'adz dan Ghassan satu lapak nih!!!
Ghassan Khaliqul Abraham
Mu'adzam Akmal Khadizul Shiddiq