GHASSAN

GHASSAN
20



Selamat Membaca


Setelah menunaikan sholat shubuh di masjid, Ghassan bergegas kembali ke rumah. Sebenarnya ia masih mengantuk, karena semalam, hampir lewat tengah malam, ia masih asik bertukar chat dengan Jalyn. Hal apapun yang di lontarkan Jalyn membuatnya untuk terus membalas.


Menaruh sajadah, lalu mencabut gawainya yang semalam di charger, tak lupa mengambil Al-Qur'an mini berwarna cokelat miliknya, yang menemaninya dari awal hafalan.


Dengan masih menggunakan sarung kotak-kotak, ia duduk bersila diatas sofa, yang berada di ruang tamu. Sebelum memulai rutinitasnya-muroja'ah, ia sempatkan membuka gawai, terutama pada aplikasi chatnya. Kontak teratas masih Jalyn, chat yang semalam belum ia balas. Jarinya bergerak lincah membalas chat tersebut.


Yang awalnya centang abu-abu, tiba-tiba sudah berubah menjadi centang biru, tanda chat sudah di baca. Tak lama kemudian Jalyn membalasnya.


Jalyn


Yee, si bambang, chat lo expired..


Lo udah bangun?


Me


Belum, kenapa?


Jalyn


ngelawak lo?


 


 


Tumben aja sih, biasanya cowok bangunnya siang


Me


B aja


Aku bukan cowok biasanya


"A', nderese sampun?"


Seakan maling yang ketahuan, ia buru-buru meletakkan gawainya. Melirik sekilas, Bunda yang masih berbalut dengan mukena terusan, menatapnya. Ia sampai tidak sadar jika Mas Mu'adz juga satu ruangan dengannya.


"Enten kerjoan ta A'?" Ia hanya menggeleng lemah.


Bunyi notifikasi dari gawainya mengalihkan tatapan Bunda padanya. "Chatan kaleh kolega?"


Sekali lagi pertanyaan Bunda ia jawab hanya dengan gelengan kepala. Terdengar suara Mas Mu'adz yang mengakhiri muroja'ahnya. Saling berpandangan dengan Mas Mu'adz sebentar.


"Niku Mas Mu'adz ae sampek mpun mantun?!" Bunda lalu duduk sederet dengan sofa yang di tempati Mas Mu'adz. "Aa' nderese sampun surat nopo?" Suara Bunda lembut namun baginya penuh intimidasi.


"Al-A'raf, Nda." Pandangannya mengarah ke lantai. Ia masih tidak berani untuk menatap Bunda.


"Bunda sema'."


Ia pun mulai memuroja'ah hafalannya, berulang kali di benarkan Bunda, Mas Mu'adz juga ikut membenarkan.


"Walau syi'nā larafa'nāhu bihā wa lākinnahū akhlada ilal-arḍi wattaba'a hawāh, fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in --".


"Astaghfirullah!! Fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in --" Kedua tangannya meraup wajahnya. Bener-bener lupa.


"Fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in taḥmil 'alaihi yal-haṡ au tatruk-hu yal-haṡ." Suara Bunda membenarkan.


"Walau syi'nā larafa'nāhu bihā wa lākinnahū akhlada ilal-arḍi wattaba'a hawāh, fa maṡaluhụ kamaṡalil-kalb, in taḥmil 'alaihi yal-haṡ au tatruk-hu yal-haṡ, żālika maṡalul-qaumillażīna każżabụ bi'āyātinā, faqṣuṣil-qaṣaṣa la'allahum yatafakkarụn."


Sampai pada akhir surat, ia menghembuskan nafasnya pelan seraya bergumam istighfar beberapa kali. Kali ini muroja'ahnya beneran berantakan.


"Tumben A'?" tanya Mas Mu'adz heran.


Ia mendongak, perlahan menatap Bunda lalu mengangguk. Terdengar hela nafas kasar Bunda. "Ngapunten Bunda." Ia salah, ia melalaikan istiqomah muroja'ahnya.


"Dadi chat an kaleh sinten? akhi? ukhti?"


Seketika ia menunduk lagi, "Ukhti Bunda. Ngapunten Bunda, Aa' salah." jawabnya lirih namun masih terdengar.


Lagi-lagi ia mendengar hela nafas kasar Bunda. "A', Bunda mboten melarang Aa' chatan pada siapapun sekalipun itu akhwat. Tapi inget!! ada faedah dan mudhorotnya gak?!"


Sungguh ia baru menyadari sekarang. Ia sebelum-sebelumnya tidak pernah seperti ini pada lawan jenis. Bahkan bertukar pesan sampai lewat tengah malam. Apalagi menyepelekan muroja'ahnya. Astaghfirullah!! Seperti bukan dirinya semalam.


Astaghfirullah!!


Astaghfirullah!!


Astaghfirullah!!


Apa ini karena ia sudah mengetahui pengirim stickynote itu?


Ia tidak menampik kalau lewat stickynote itu membuatnya jadi lebih tenang. Serasa menemukan jawaban di tengah sulitnya pertanyaan.


"Aa', remen kaleh ukhti niku? simah langsung purun?"


Terkejut dengan ucapan Bunda, ia menggeleng keras kepalanya. "M-mboten Bunda, mboten. Ngapunten Aa' salah, sampun nyepeleaken."


Menikah muda tidak ada dalam list nya. Ia masih ingin menekuni usahanya. Itu semua demi Bunda, agar Bunda tidak kelelahan untuk bekerja di rumah sakit. Meskipun ia tahu, Abi bisa mencukupi semua.


"Assalamualaikum, Mas?"


Dengan gumaman, ia menjawab salam yang terdengar suara serak dari arah belakang, dan itu ternyata Abi. Abi terlihat heran melihat Bunda, Mas Mu'adz dan ia, sedang dalam suasana tegang, itu terlihat dari kerutan kedua alis Abi.


"Pripun Bi?"


Sambil mencium tangan Abi dilanjutkan olehnya lalu terakhir Bunda, dan Abi duduk diantara Mas Mu'adz dan Bunda. Kalau seperti ini sudah di pastikan ia seperti terdakwah, karena memang posisinya saat ini memang salah. Ia benar-benar khilaf sampai ia tidak sadar dengan kelakuannya.


"Engken sambutan, gantosi Abi nggeh Mas?" suara serak diiringi batuk kecil. Abi sepertinya kurang sehat.


"Aa' mawon Bi seng gantosi." sahut Bunda yang akan beranjak, namun di cekal Abi.


"Ajenge teng pundi Nda?"


"Ndamelne Abi unjukan, kersane lego tenggorokane."


"Riyen to, enten nopo to kok manyun-manyun ngoten niku, hmm?"


"Mboten nopo-nopo, cumak Bunda pengene seng gantosi Abi, kersane Aa' mawon." ucap Bunda lalu segera berlalu.


Ia semakin menundukkan kepalanya. Tidak berani untuk sekedar merayu Bunda agar memaafkannya. Kesalahannya kali ini bisa di kategorikan serius.


"A'--"


"Nggeh Bi, Aa' purun, engken Aa' seng nggantosi Abi." potongnya sebelum Abi melanjutkan ucapan Beliau.


"Yowes, yowes. Renungi kaleh intropeksi A'. "


"Nggeh Bi, nggeh."


Astaghfirullah semoga ini terakhir kali ia berbuat seperti ini. Tidak akan, dan semoga tidak terjadi lagi. Meskipun Bunda tidak marah-marah, tidak membentak. Namun sikap Bunda yang seolah tenang padahal ia tahu dibalik itu Bunda sangat kecewa padanya.


*********