GHASSAN

GHASSAN
17



Selamat Membaca


Ghassan di buat geram dengan tingkah kekanakan dari adik tirinya ini. Keras kepala, tetap kekeh ingin bersamanya. Ia memutuskan untuk ketoilet, sengaja ia menghindar dari Zyela. Semakin dirinya ngotot menyuruhnya pulang, semakin pula Zyela bertingkah.


Ia harus menghubungi Ayah, supaya Beliau tidak khawatir lagi dengan anak gadisnya ini. Mencari kontak Ayah, kemudian mendial nya. Satu panggilan tidak terjawab, ia melirik jam Rolex nya. Padahal sudah mendekati waktu sholat jum'at. Ia terus mencoba sampai panggilan ketiga baru di terima Ayah.


"Assalamualaikum A', maaf Ayah baru selesai visit pasien. Ada apa?"


"Waalaikumsalam Yah, iya gak apa-apa. Ayah gak usah nyari Zyela lagi, anaknya ada disini."


"Alhamdulillah, Ayah nitip ya A', jagain adiknya."


"Maaf Yah, Aa' gak bisa, mending Ayah suruh pulang aja. Aa' juga mau pulang."


"Zyela itu keras kepala sama seperti Safira, Ayah yakin dia gak mau pulang. Tolong Ayah, biarkan dia menenangkan diri dulu. Nanti biar Ayah yang ijinin ke Abi."


"Bukan masalah itu Yah!! Aa' dengan Zyela bukan mahrom, meskipun kita ada hubungan darah. Ayah pasti ngertikan?" ucapnya sambil meraup wajahnya


Ayah tiba-tiba terdiam, tiba-tiba membuatnya sadar kalau ucapannya kelewatan. "Maaf Yah, bukan maksud Aa' menyinggung Ayah."


"Enggak.. enggak apa-apa A', Ayah ngerti!! Meskipun nanti Ayah udah gak ada, Aa' gak bisa jadi walinya kan? Maafin Ayah ya A'. Perbuatan Ayah di masa lalu, itu bukan kuasa Ayah. Tapi Ayah minta tolong A' , biarkan Zyela tenang bersama Aa'. Ajak pulang ke ndalem, mungkin disana dia bisa lebih tenang."


Ia menghembuskan nafasnya. Membayangkan hari-hari liburannya ada orang asing di dalamnya. Padahal ia nanti berniat untuk liburan bertiga dengan Mas Mu'adz dan Nduk Khafa.


Setelah mendengar ungkapan Ayah, ia mengakhiri sesi telefonnya. Kenapa adik tirinya kabur malah mencarinya sih? Bukannya keluarga dari Ibunya banyak. Teman-temannya juga banyak. Kenapa malah ingin bersamanya? Ia merasa kesal sendiri.


Allahurobbi.. Astaghfirullah!!


*******


"San, aku ndek ndalem e h-1 ae yo?" Tanya Andri yang mendapat anggukan darinya. Sekarang ia bersiap menatap barang untuk di bawa pulang esok.


"Zyela wes tak pesen e pisan. Emang enek opo to San kok enek acara minggat-minggatan?"


"Ayah ape cerai." jawabnya sambil menutup kopernya, tanda beres-beresnya selesai.


"Innalillahi wa innailaihi rajiun." gumam Andri yang masih terdengar


"Wes, Ayo budal." ajaknya sambil memakai jaket boomber hitam miliknya.


Sesuai rencana, malam ini ia dan Andri akan kembali menuju pesantren. Keberuntungannya, Pak Yai dan Bu nyai berada di ndalem. Tak mau membuang kesempatan, ia dan Andri bergegas kesana.


Sampai di gerbang, ia di sambut Firman dan mengantarkannya sampai ke halaman ndalem. Firman memang tidak mau ikut, karena dia masih ada acara.


Andri mengetuk pintu sambil mengucap salam. Samar-samar suara berat dari dalam menjawab. Kemudian perlahan pintu terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya se usia Abah Shiddiq kira-kira.


"Monggo-monggo masuk Mas." ucap Beliau ramah


Ia dan Andri duduk di sofa panjang, sedangkan Beliau di sofa single yang berada di sebelah kirinya.


"Maaf ada keperluan apa Mas-mas ini datang kesini?"


"Sebelumnya saya minta maaf Pak Yai sudah menganggu waktu panjenengan. Saya Ghassan hanya ingin bertanya sesuatu hal."


"Oh, monggo-monggo tanya opo Mas Ghassan?"


Tegang, gugup dan kaget, itu yang ia baca dari gerak-gerik Beliau. "Bagaimana Yai?" desaknya


"Abah Nahrowi siapa Mas. Maaf saya tidak mengenal." Ia bisa melihat senyum paksa dari Pak Yai Mursyid ini


"Pak Yai yakin? kalau dengan ini?" Ia membuka gawainya mencari foto sertifikat asli milik Abah Nahrowi yang dahulu sempat di titipkan ke Abah Nawawi, sewaktu Abah Nahrowi pulang. Kata Mas Mu'adz, Abah Nahwawi juga tidak tahu, mengapa Abah Nahrowi tiba-tiba menitipkan sertifikat dan dokumen-dokumen penting lainnya.


"Keluar kalian!! kalian mau merusak." tiba-tiba bentak Beliau dengan lantang.


Ia menegakkan punggungnya, menatap Beliau yang sudah berapi-api. "Mari kita bicara dengan kepala dingin."


"Kalian ingin merebut pesantren yang sudah aku besarkan ini?" Nada emosi masih terkandung dalam ucapan Beliau.


"Merebut? sepertinya pertanyaan itu yang pantas saya layangkan pada panjenengan." ucapnya tegas


"Hey, Le. Ojo kewanen karo wong tuwo. Awakmu iki sopo, wes metu ae ojo rusuh nang kene." Ucap Beliau sambil mengibas tangan


"Saya datang hanya untuk mencari tahu keberadaan Abah Nahrowi itu saja. Kalau untuk masalah mengambil hak pesantren ini lagi, itu bukan kuasa saya. Jadi bisakah Pak Yai sudi membantu saya?" tanyanya sarkas


"NAHROWI SUDAH MATI!! HAHA.."


"Baik kalau begitu, sampai bertemu di meja hijau. Assalamualaikum."


Ia dan Andri pun keluar tanpa mendengar balasan salam dari Pak Yai Mursyid. Sebenarnya sedari tadi, ia tidak ingin berlama-lama berada satu ruangan dengan Beliau. Dalam hati ia terus bergumam istighfar supaya tidak kelepasan. Meskipun Pak Yai Mursyid bersikap seperti itu, Beliau layak di hormati sebagai orang tua.


Ia tahu, kalau akan terjadi hal seperti ini. Karena mereka menutupinya dari awal. Meskipun Pak Yai Mursyid berkata kalau Abah Nahrowi sudah meninggal, ia tetap tidak percaya. Masih tidak menyangka, internal pesantren modern yang cukup di kenal masyarakat luas karena satu-satunya pesantren yang mempunyai menara santri, ada noda yang telah lama di tutupi.


Apa sebenarnya motif mereka?


Merebut hak milik Abah Nahrowi?


Namun, sebentar. Dari data yang tadi ia lihat dari Jalyn, kalau pesantren ini hanya mempunyai surat kuasa.


Atau jangan-jangan Abah Nahrowi memang sengaja menghibah kan?


*******


Assalamualaikum man teman!!!


Bagaimana part ini?


Oh, iya bagi yang dulu nanya tentang Zyela dan Aa', sudah tak jawab di part ini ya!!


Udah pada ngerti kan?


Kalau ada kritikan monggo di persilahkan


Oh iya satu lagi, jangan belibet ya?


Abah Nawawi itu Abahnya Mba Annisa, Ummahnya Mas Mu'adz


Kalau Abah Nahrowi adik dari Abah Nawawi.


Wassalamualaikum