
Selamat Membaca
Merebahkan diri di ranjang miliknya. Menatap langit-langit kamar. Ghassan memikirkan baik-baik ucapan Abi di mobil tadi. Apa benar ia terlalu terburu-buru mengambil keputusan? Tapi ia rasa bukan, entah dalam dirinya ada dorongan sangat kuat untuk mantab meminang seorang Tsana.
Apa ini termasuk jawaban dari istikharahnya? karena setahunya jawaban dari istikharah bukan hanya lewat mimpi, namun juga di permudah jalannya. Bukankah ketika Tsana di jodohkan dengan Mas Mu'adz tapi Mas Mu'adz sudah menikah tanpa sepengatahuan, itu juga sama halnya di permudahkan urusannya kan?!
Meraih gawai yang berada di nakas samping, ia mencari kontak Ayah. Memang harus memberitahu Beliau tentang niatnya ini.
"Assalamualaikum Yah."
"Waalaikumsalam A', kenapa A'?"
"Ehm.. Ayah sibuk?"
"Sudah longgar Ayah, ada apa A'? kok kayak ada hal penting?"
"Aa' minta izin nikah boleh?"
Ayah terdiam di seberang sana, membuatnya ketar-ketir sendiri, meskipun ia yakin Ayah akan mengizinkannya. Tapi keterdiaman Ayah yang membuatnya gelisah.
"Sudah ada calonnya A'?"
Seketika ia berpikir keras, apa ia harus jujur saja sekarang? agar tidak terjadi masalah ke depannya. Dengan menghirup udara sedalam-dalamnya. Berharap Ayah mau merestuinya.
"Sebenarnya bukan calonnya Aa' Yah. Tapi calonnya Mas Mu'adz. Awalnya Aa' denger percakapan Abi dan Bunda kalau Mas Mu'adz udah ada orang yang ingin di khitbah. Jadi Aa' menawarkan diri untuk menjadi pengganti."
"A'—"
"Sebentar dulu Yah, Aa' belum selesai, takut Ayah salah paham. Tapi sekarang Mas Mu'adz sudah menikah duluan, bahkan Abi sama Bunda juga gak tahu. Jadi, tidak ada salahnya kan Aa', tetap maju untuk menikah dengan mantan calonnya Mas Mu'adz itu."
Terdengar hela napas dari Ayah. "Aa' udah ketemu calonnya itu?"
Ia mengangguk, meski Ayah tidak melihatnya. "Calonnya itu, temen sekelasnya Aa' Yah, dan cucu dari Mbah Yai Nahrowi. Ayah inget kan?" Sebelumnya memang Ayah tahu kalau dirinya sedang mencari keberadaan Mbah Yai Nahrowi, karena orang sewaannya itu juga di bawah kekuasaan Ayah dan Kakek, otomatis Beliau-beliau juga tahu meski hanya garis besarnya yang ia ceritakan pada Ayah.
"Pendapat Bunda gimana A'?"
"Bunda sebenernya membebaskan Yah, tapi mungkin alasannya karena Aa' jadi pengganti ini jadi Bunda agak gimana gitu."
"Alasan terkuatnya Aa' apa?"
"Selama mengenal, seolah di tiap kejadian selalu ada cara Aa' dan dia berada di lingkaran itu. Ayah inget kan? kakek-kakek yang Aa' tolong dulu? itu adalah kakeknya dia, Mbah Yai Nahrowi. Jadi Aa' mikir, dengan segala kelebihan Aa' punya, Aa' rasa bisa menutupi segala kekurangannya."
"Aa' memang mencintainya? terpaksa? atau hanya iba?"
Ia terdiam memikirkan ucapan Ayah di seberang sana. Bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa benar ia sudah mulai mencintai Tsana? Atau ia hanya terpaksa dengan cara sebagai pengganti? Atau lebih-lebih ia hanya iba dengan Tsana?
"Aa', bingung?"
Ia manggut-manggut, "Iya Yah. Kalau cinta? sepertinya belum. Kalau terpaksa? awalnya iya, tapi gak tahu semakin kesini Aa' enggak ngerasa terpaksa. Kalau iba? awalnya Aa' juga ngerasa iba, tapi kan sekarang dia hidupnya sudah berada di orang tepat—Abah Nawawi. Kok jadi rumit gini. Perasaan Mas Mu'adz nikah, tinggal nikah aja."
Masih tersambung di saluran telepon, Ayah terkekeh disana. "Yaudah, yaudah jangan bingung gitu. Apapun keputusan Aa', Ayah selalu dukung. Asal bisa di pertanggungjawabkan. Kalau bisa sebelum menikah kenalin ke Ayah dulu, Kakek sama Nini pasti seneng."
Ada perasaan lega, kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Dukungan dari Ayah membuatnya semakin mantab untuk terus maju. Meskipun tidak tahu, respon apa yang akan di berikan Abah Nawawi dan Abah Nahrowi nanti.
"Yaudah cepet bicarain sama Abi. Pasti Abi kan yang ngasih pendapat untuk hubungin Ayah? kalau gak gitu mana mau Aa' diskusi dengan Ayah dulu."
"Eh, bukan gitu Ayah. Cuma Aa' sudah yakin aja kalau Ayah bakal ngerti, bakal selalu mendukung keputusan Aa'. Kalau dengan Abi dan Bunda, Aa' harus nyiapin bekal dulu."
"Maafin Ayah ya Aa', hanya dengan cara ini yang bisa Ayah lakukan."
Ada rasa tidak enak menyusup dalam hatinya. "Kok jadi melow gini iya Yah." celetuknya. Sungguh ia tidak suka Ayah terjebak dengan rasa bersalah di masa lalu.
Terdengar gelak tawa Ayah di sana. "Yaudah, Ayah tutup telfonnya. Ayah visit pasien dulu. Assalamualakum."
"Waalaikumussalam." tutupnya.
*******
Memang setelah sambungan telepon dari Ayah tadi. Ia segera menceritakannya pada Abi. Dan ia juga sangat hati-hati sewaktu menjelaskan pada Bunda. Dan berakhirlah disini. Duduk di sofa yang mengitari meja.
"Abah iki asline ora piye-piye A'. Abah manut ae. Abah wingi nyarane bene Nduk Bita karo Mas Mu'adz iki bene Nduk Bita enek koncone urip neng kene. Tapi lek wes Mas Mu'adz rabi terus sampeyan ngajukne khitbah. Abah yo ora opo-opo. Abah yo wes ngomongne iki neng Mas Nahrowi karo Nduk Bita. Ger, larene yo gelem."
Seketika ia mendongak, ketika kalimat terakhir dari Abah Nawawi. Ia juga sempat melihat senyum Abah Nahrowi yang duduk di kursi roda, Beliau mengangguk. Inikah rasanya khitbah diterima? Senyumnya mengembang, tidak bisa di sembunyikan.
"Dadine kapan akad e?"
Melirik sekilas ke arah Tsana yang sedari tadi menunduk. "Aa', manut mawon teng Abah. Nanging pesanipun Ayah, sak derenge akad keng nepangaken keluwargi Jakarta riyen Bah."
"Kapan ape budal ronone A'?" tanya Abah Nawawi lagi. Karena yang mendominasi pertemuan kali ini hanya Abah Nawawi dan dirinya.
"Insyaallah dinten rabu Bah. Sekalian enten pedhamelan teng mriko."
"Abah mboten ngizine lek cumak keloro tok."
"Insyaallah kaleh Nduk Khafa, Bah." jawabnya.
"Yes!!" sahut Nduk Khafa. Langsung di tegur Bunda, dan Nduk Khafa hanya menyengir.
"Mumpung ngumpul, Nduk Bita njalok mahar opo?"
Sekilas tatapannya dengan Tsana beradu. "Seikhlasnya Ghassan saja Embah, Bita terima."
"Di pikir dewe A', sak ikhlas e iku piro." ucap Abah Nawawi sambil terkekeh. Ia hanya tersenyum kecil sambil menggaruk lengannya yang tiba-tiba gatal.
"Moro-moro wes ape nduwe mantu ke loro yo Nduk." celetuk Umi Aminah pada Bunda.
Bunda tersenyum ramah. "Enggeh Mi, mboten kraos sampun ageng-ageng lare-lare."
"Tinggal Nduk Khafa iki. Piye le wes siap dadi wali?" Giliran Abah Nawawi bertanya pada Abi.
"Abah, Nduke tasek alit!!" celetuk Nduk Khafa dengan cemberut, membuat suasana berubah menjadi gelak tawa.
*******
Mobil melaju membelah jalanan sore menuju ke ndalem Alm. Mbah Yai Imam. Memang dirinya kembali kesini lagi untuk membantu Mas Mu'adz, sekalian membawa beberapa barang titipan dari Mas Mu'adz. Tentunya tidak sendiri ada Nduk Khafa dan seorang perempuan yang sejam lalu resmi menjadi calon istrinya, Tsana Jihaan Tsabita.
"San!"
"Iya?" Netranya sekilas melirik spion atas, melihat Tsana yang berada di kursi belakang.
"Kamu yakin? gimana Jalyn?"
Ia terdiam sejenak, fokus dengan jalanan di depan. "Gimana apanya?" tanya balik dengan santai.
"Jalyn kan sekarang deket sama kamu?"
"Aa' pacaran?" ia menoleh ke arah Nduk Khafa yang berada di samping kirinya. "Aa' ampun dados koyok nopo niku pucekboy. Mosok cedeke kaleh sinten, nikahe kaleh sinten. Nduke gak laik pokok e." cerocos Nduk Khafa.
"Nduk!" intrupsinya. Membuat Nduk Khafa kicep seketika.
"Perlu ada yang diluruskan Tsan. Aku gak deket dengan Jalyn atau siapapun itu hawa kecuali yang mahromku. Memang dulu sempet ada komunikasi intens, cumak sehari tapi setelah itu enggak ada apapun."
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba mau nikah sama aku?"
Ia menggeleng pelan, ternyata Tsana itu cerewet juga. "Gak ada yang tiba-tiba. Terus kenapa kamu terima?" tanyanya balik, membuat Tsana terdiam.
Ia menanti jawaban dari Tsana. Melihat di kaca spion depan, Tsana tampak memikirkan jawabannya dengan gelisah. Ia mendengus geli. Tak pernah ia menyangka, berada di posisi seperti ini. Kegilaan macam apa ini!
******
Ghassan gak mau kalah dong dengan Mas Mu'adz. Ghassan soon menikah.