GHASSAN

GHASSAN
24



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Pagi ini, masih di ndalem Abah Nawawi. Beliau berpesan, selepas sarapan akan ada perbincangan. Ia bisa menebak, akan membicarakan mengenai Abah Nahrowi, yang sekarang kondisinya masih butuh banyak istirahat. Hanya dengan Abah Nawawi, Umi Aminah, Abi, Bunda, Nduk Khafa, dirinya dan tentu perempuan itu. Sedangkan Mas Mua'dz, shubuh tadi pamit pulang kerumah untuk persiapan kepulangannya ke pesantren, karena jatah liburnya sudah habis. Dengan terpaksa tidak bisa ikut perbincangan kali ini.


"Nduk Bita, kuliah?" Abah Nawawi membuka percakapan.


Terlihat perempuan berkerudung coklat susu itu mengangguk dengan masih menundukkan wajahnya. Mungkin saja dia masih tidak nyaman.


"Enggih, Pa-"


"Celuk en embah Nduk." Abah Nawawi meralat ucapan perempuan itu.


"Enggih, masih kuliah Mbah."


"Mulai sak iki, sampeyan karo Mas Nahrowi tinggal nang kene Nduk. Ora usah mikirne opo-opo, sampeyan podo putu ku, dadi ojo sungkan karo aku karo Umine iki. Lek kuliah, engko ngekos opo nang asrama koyok Aa'."


Mendengar namanya disebut, ia menoleh ke Abah Nawawi yang sama menolehnya juga, ia mengangguk singkat. "Sampeyan kuliah nang ndi Nduk?" tanya Abah Nawawi.


Ia melihat perempuan itu, perlahan mendongak dan sedetik kemudian tatapan kami bertemu. "Ehm, sama seperti Gha-ghasan Mbah."


Semua orang kini memandangnya dengan tatapan bertanya. "Enggeh Bah, sekelas." jawabnya singkat.


"Alhamdulillah, berarti iso nulungi Nduk Bita kan A'?" tanya Abah Nawawi


"InsyaAllah Bah."


"Oh iyo, Abah karo Ibukmu nang ndi Nduk? kok ora melok rene?"


Melihat perempuan itu menunduk kembali, ia sudah tahu jawabannya itupun dapat info dari Andri. Tapi, ia tidak tahu alasan orang tuanya meninggal.


"Su-sudah meninggal Mbah." Suara itu terdengar serak.


Semua serentak mengucap Innalillahi wa innaillahi rajiun. Bunda dan Umi Aminah-istri Abah Nawawi, mendekat kearah perempuan itu yang sekarang sudah terisak. Menenangkan dengan elusan dan rengkuhan.


"Umma meninggal karena melahirkan saya, kalau kata Embah putri, Abi meninggal sewaktu saya berumur lima tahun." lanjutnya masih terisak.


"Ya Allahu ya rahman ya rahim. Terus selama Abi Nahrowi gerah, sinten seng biayani kuliah kaleh kebutuhane sampeyan Nduk?" Abi kali ini angkat berbicara.


"Alhamdulillah, saya dapat beasiswa full, kalau untuk kebutuhan sehari-hari saya bekerja di cafe dan jualan makanan." Suara perempuan itu kini lebih tenang dari sebelumnya, namun masih melihat, perempuan itu mengusap air matanya.


"Ya Allah." hela Abah Nawawi. "Aa' kaleh Nduk Khafa mari ngene nganggur?"


Ia melihat Nduk Khafa kemudian beralih ke Abah Nawawi. Masing-masing dari kita mengangguk. "Pripun Bah?" tanyanya


"Jak en Nduk Bita metu, dolan-dolan kono." ucap Abah Nawawi sambil meletakkan kartu Atm ke hadapannya. "Iki gawe tuku-tuku."


"Mboten Bah, kersane Aa' mawon." tolaknya


"Lhoh, bene gawe tuku klambi-klambi opo ngunu A'." Paksa Abah Nawawi. Ia melihat Abi mengangguk pelan tanda untuk mengambilnya saja. Perlahan tangannya terulur mengambil kartu Atm Beliau. "Nduk Bita, ndang siap-siap gek milu Aa' karo Nduk Khafa." perintah Abah Nawawi yang kemudian perempuan itu pamit.


"Ngemall nggeh A', Nduk dangu mboten ngemall." ucap Nduk Khafa bergelayutan di lengannya.


"Lah ndek winginane sampun ngemall Nduk. Ampun berlebihan." sahut Bunda.


"Kan niku teng Singapura Nda, teng Lippo kan dereng Bunda." Berengut Nduk Khafa. Ia tersenyum mengelus kepala belakang yang berbungkus kerudung.


"Sokey Nduke, tapi sstt..." bisiknya pada Nduk Khafa yang langsung berubah ekspresinya menjadi sumringah.


"A', ampun terus-terusan nuruti Nduk Khafa." peringat Bunda, ia hanya mengangguk saja. Karena dirinya sudah tahu, Nduk Khafa kesana bukan untuk membeli, melainkan mengamati model-model baju. Nduk Khafa yang dari kecil suka menggambar bahkan ia sempat tidak sengaja melihat tumpukan buku gambar Nduk Khafa yang sengaja di letakkan di rak khusus. Banyak desain baju-baju, beberapa lukisan pemandangan dan beberapa sketsa wajah.


"Le, Faaz. Mengko sore Abah Shiddiq sampeyan susul nggeh. Abah pengen rundingan, sekalian sampeyan barang karo Nduk Luna."


*******


Merebahkan diri di ranjang empuk. Pikirannya teringat kala mendapatkan telefon dari Andri, sewaktu berada di hotel.


"Wes nemu lokasine tempat tinggale Mbah Yai Nahrowi. Tapi, kelangan jejak eneh, jarene, iku kosan mek rong dino, gek dino iki mau terakhir. Pak Mursyid seng nyewo, terus ngongkon seng nduwe kos-kosan kon ngusir pisan lek entek jatah nyewone."


"Astaghfirullah!!" desahnya sambil memijit pelipisnya.


"Terus lebih penting meneh."


"Opo?" tanyanya tidak sabar. Pasalnya ia harus segera memesan makanan dan harus cepat-cepat kembali ke asrama.


"Ternyata Mbah Yai Nahrowi iku Mbah Imam, embah e Tsana."


Iya, selama ini tidak ada yang tahu. Tsana Jihaan Tsabita dan Mbah Imam yang ia kenal kala mengurus administrasi di rumah sakit dulu, 'Imam N'. Pantas saja, pertemuan pertama dengan Abah Nahrowi seperti ia mengenalnya, wajah Beliau tidak asing. Kalaupun dulu ia lebih memperhatikan seksama, kejadiannya tidak akan seperti ini. Dimana Abah Nahrowi sampai tidur di emperan toko dengan kedinginan. Ya Allah.


Merasa tenggorokkannya kering, melihat gelas kosong yang memang selalu tersedia di nakas. Ia beranjak ke dapur. Keadaan rumah sudah sepi, lampu utama pun sudah di matikan. Namun langkahnya berhenti, kala mendengar suara samar-samar dari kamar Abi dan Bunda yang sepertinya sedang membicarakan sesuatu.


"Kang, Kang Faaz mboten purun kan kisahe kita nurun teng Mas Mu'adz? Saestu Bunda mboten setuju." Suara Bunda terdengar serak. Kini ia berada di samping pintu kamar Abi dan Bunda yang terbuka sedikit, jadi ia bisa mendengar jelas ucapan Bunda. Ini pertama kalinya ia menguping percakapan Abi dan Bunda. Masih saja panggilan Bunda ke Abi itu 'Kang' kalau lagi berdua.


"Luna, seng di sanjang Abah Nawawi niku kan cuma tawaran teng Mas Mu'adz. Kabeh keputusane tetep teng Mas Mu'adz." ujar Abi menenangkan.


"Tapi Luna nangkepe kok mboten ngoten Kang."


"Sst.. ampun su'udzon Luna. Masio kan aku yakin Mas Mu'adz bakal mertimbangne lek seng sanjang Abah Nawawi. Mungkin ae, niki dhalan jodohne Mas Mu'adz. Kan selama iki, Mas Mu'adz nolak kabeh."


"Njenengan salah Kang, kulo ngertos Mas Mu'adz menolak niku sanes mboten purun simah. Tapi Mas Mu'adz ngrentosi waktu ajenge khitbah perempuan, yang Mas Mu'adz pilih sendiri."


Mendengar ucapan Bunda barusan, ia mengerjapkan matanya berulang kali. Ini alasan Mas Mu'adz tidak mau dengan Ning di pesantrennya atau bahkan Mbak Shahla yang notabennya sudah dekat sejak kecil. Sungguh, ia baru tahu. Mas Mu'adz memang pandai merahasiakan hatinya di hadapan siapapun.


*******


Terdengar bacaan ayat Al-qur'an di masjid, ia pun bangun lalu beranjak ke kamar mandi. Ia harus membicarakan ini pada Abi dan Bunda.


Setelah selesai, ia pun mengetuk pintu kamar Abi dan Bunda. "Abi, Bunda." Kemudian terdengar suara pintu terbuka.


"Pripun A'?" Abi masih memegang AL-Qur'an dan terlihat Bunda sedang murojaah. Ada perasaan gerogi menyusup di hatinya. Ia menggaruk-garuk lengannya yang tiba-tiba saja gatal.


"Ayo mlebu riyen. Aa' pengen omong-omongan kaleh Abi kaleh Bunda?" ajak Abi.


Bunda menoleh sejenak, lalu mengisyaratkan untuk menunggu Beliau sebentar. Ia hanya mengangguk. Abi duduk di pinggiran ranjang, sedangkan dirinya duduk di sofa. Beberapa menit kemudian terdengar Bunda mengakhiri murojaah. Bunda menghampirinya, duduk di sampingnya.


"Nopo'o A'? kok tumben? mendesak ta?" tanya Bunda beruntun dengan menantapnya lembut.


"Emh, sak derenge Aa' ngapunten sanget sampun lancang, sengojo mirengne ngendikan Abi kaleh Bunda wau dhalu." Ia menatap Abi dan Bunda bergantian, melihat ekspresi Beliau-beliau yang nampak terkejut.


"Bismillahirrahmannirrahim, Abi, Bunda, kersane Aa' mawon seng gantosi Mas Mu'adz. Aa' Insyaallah Aa' siap lillahita'ala."


*******


Nah loh!!!


Mulai-mulai nih!!!


Mau tahu kelanjutannya?


Mungkin banyak yang menebak-nebak seperti ini alurnya. Tapi Sokey nggak apa-apa. Aku memang kurang pandai delik an. Atau memang mengangkat alur yang gitu-gitu aja.


Tapi apapun itu, aku sangat mengharap semoga man teman suka dan tetap menikmati.