GHASSAN

GHASSAN
27



*Vote dulu ngggeh!!!


Selamat membaca


Langit menampakkan kecerahannya. Udara siang masih terasa sejuk. Apalagi menikmatinya dengan berkumpul keluarga. Memang dari dulu jarang berkumpul di waktu siang seperti ini. Di taman samping rumah, Abi menyema' ia dan Nduk Khafa, sedangkan Bunda sedang membuat sesuatu di dapur di bantu Tsana. Memang semalam setelah tahlil di ndalem Alm. Mbah Yai Imam, Bunda meminta Tsana untuk menginap disini, di karena jarak yang lumayan jauh, apalagi sudah sangat malam.


"Nduk, tulung pendetne pisan macebook sekalian hpne Aa' nggeh." ucapnya pada Nduk Khafa yang berdiri bersiap untuk masuk kedalam rumah, selepas selesai muroja'ah. Dan Abi pun pamit untuk mengurus sapi perahnya.


Tak lama kemudian terdengar salam dari arah dapur. Ia pun bergumam menjawab salam. Mas Mu'adz dengan wajah berseri berjalan menghampirinya. Ck! Pengantin baru.


"La pundi Mbak Kiya Mas?" Menengok kebelakang Mas Mu'adz tidak ada tanda-tanda istri kakaknya.


"Nyantol neng pawon." Kekehnya.


Mengikuti gerak Mas Mu'adz yang duduk di depannya. "Nginep Mas?"


"Enggak lah dek, kan engken dhalu telungdinoan." Ia hanya menganggukkan kepalanya. Selama beberapa hari ini memang tahlil selalu di lantunkan. Abi, Bunda, Nduk Khafa dan ia pun tidak pernah absen untuk ke ndalem Alm. Mbah Yai Imam.


Nduk Khafa datang membawa barang-barangnya dengan cemberut, tentu saja mengundang tangannya untuk menarik bibir Nduk Khafa. Seolah mengadu, dengan manjanya Nduk Khafa bergelayut manja di lengan Mas Mu'adz. Ia hanya menyebikkan bibirnya.


"Kasuse pripun A'?"


Belum sempat menjawab, Bunda, Tsana dan Mbak Kiya datang membawa beberapa cemilan dan minuman. Sejenak ia mengangguk sambil tersenyum, menyapa Mbak Kiya. Ia sudah tahu, Bunda sudah menceritakan semua cerita tentang Mas Mu'adz dan Mbak Kiya.


Bunda menyodorkan satu piring penuh dengan potongan brownis. Tentu saja ia sambut dengan suka cita. Semuanya duduk bercengkrama menikmati hidangan yang tersaji.


"Insyaallah minggu depan masuk teng pengadilan Mas." Jawabnya selepas memakan satu potong brownis. "Tapi seng di tuntut cumak Pak Mursyid, istrinya mboten."


"Ehm, San. Budhe Sarah jangan di seret ya?" Sahut Tsana yang duduk di samping Bunda.


Memang selama Tsana disini belum ada pembicaraan mengenai hal ini. Ia juga belum mengorek informasi pada Tsana. Saking fokusnya, kemarin-kemarin hanya memikirkan bagaimana ia mempersunting Tsana.


"Kenapa?"


Tampak semua memperhatikan, kecuali Mbak Kiya dan Nduk Khafa yang sibuk sendiri dengan dunianya.


Tsana bergumam bingung dan gelisah. "Gak apa-apa Nduk, ngomong mawon." Bunda menenangkan.


"Ehm, sebenarnya Budhe Sarah yang selama ini membantu aku diam-diam. Budhe takut kalau sampai ketahuan Pakde Mursyid."


"Loh bukannya Beliau-beliau bersekutu ya Tsan?"


"Enggak, Budhe Sarah terpaksa karena perintah Pakde Mursyid."


Ia menggeleng tak percaya. Tsana masih membela Bu Sarah-istri Pak Mursyid. "Apa buktinya kalau Bu Sarah gak bersekutu?" Ada sedikit percikan marah.


"Yang membawaku dan Embah kabur dari rumah itu Budhe Sarah, kata Budhe, Pakdhe mau mencelakakan aku dan Embah."


"Oh yang malem-malem kamu sama Abah Nahrowi di bawa mobil item bukan?" Ia teringat info dari Andri.


"K-kok kamu tahu!"


"Terus kamu di usir dari kosan itu, kamu masih bilang Bu Sarah dan Pak Mursyid gak bersekutu?"


"Dek!" Tegur Mas Mu'adz. Ia mengalihkan pandangan, mengirup udara sebanyak-banyaknya sambil bergumam istighfar.


"Aku aja gak tau tiba-tiba diusir, padahal pas pertama ngasih kunci, pemilik kosannya bilang kalau Bu Sarah menyewanya setahun."


Mendengar itu seketika ia menoleh ke arah Tsana. "Jangan bohong!"


"A' istighfar." Tegur Bunda sambil menyodorkan minum di hadapannya. Ia pun menyambut lalu meneguknya.


"Benar begitu?" Mas Mu'adz mengambil alih. "Tapi infone sampeyan karo Abah Nahrowi di usir Pak Mursyid karena kosan itu di sewa cuma dua hari."


Tsana terlihat terkejut, lalu merogoh saku gamisnya. Mengoperasikan gawainya sejenak lalu menyodorkannya pada Mas Mu'adz. Mas Mu'adz mengernyit melihat gawai Tsana. Tak lama Mas Mu'adz menyodorkan gawai Tsana ke hadapannya.


Sederet pesan dari kontak bernama Budhe. Yang isinya membenarkan ucapan Tsana barusan. Jika seperti ini kasusnya. Bu Sarah sekarang dalam bahaya.


Ia meletakkan gawai Tsana lalu beralih ke arah gawainya sendiri. Mencari kontak anak buahnya.


"Assalamualaikum, Om minta tolong cari informasi mengenai Bu Sarah, istrinya Pak Mursyid. Secepatnya ya Om."


"Waalaikumsalam, baik Mas Ghassan saya laksanakan."


Ia pun mengakhiri sambungan telfonnya dengan salam. Memang semenjak Abah Nahrowi dan Tsana berada disini, ia menghentikan pengintaian. Toh, dari awal tujuannya hanya mencari Abah Nahrowi.


"San, kenapa?" Tsana tampak khawatir.


"Hanya dugaan aja. Kita tunggu kabar dulu." Jawabnya. Ia tidak ingin menanamkan pikiran negatif dahulu sebelum tahu kebenarannya. Saling menatap seolah berbicara lewat sorot mata, Mas Mu'adz sepertinya sepemikiran dengannya.


"Apapun yang terjadi, jangan ada kedendaman tapi niatkan keadilan A'." Nasehat Bunda membuatnya kembali beristighfar.


******


Perlahan-lahan satu per satu terkuak nggeh masalah tentang pesantren itu. Jadi sabar, semoga tetap dengan alur yang aku inginkan.


Mulai part ini, alurnya lebih duluan disini nggeh di banding Mas Mu'adz. Karena di MU'ADZ masih banyak yang belum terselesaikan.


Tapi aku usahakan tetap sejalan dengan cerita GHASSAN ini.


Sebenarnya bisa di baca terpisah, cuma saja ada beberapa bagian yang mengandung spoiler diantara kedua cerita masing-masing.