GHASSAN

GHASSAN
30



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


Rumah mewah bergaya klasik milik Kakek dan Nini sudah terpampang jelas di hadapannya. Tepat pada percakapannya tiga hari lalu dengan Tsana terhenti karena mendapat kabar jika Bu Sarah sudah siuman. Dan sekarang keadaan Beliau sudah pulih, dan langsung ia boyong ndalem Abah Nawawi atas permintaan Abah Nahrowi. Kalaupun masih di Jogja, di khawatirkan akan terjadi sesuatu yang membahayakan lagi. Pasalnya Pak Mursyid masih berkeliaran di luar sana.


"Ini rumah siapa Nduk?" terdengar bisik-bisik Tsana pada Nduk Khafa.


"Kakek kaleh Nini, Mbak. Lek nggriyane Aa' benten blok. Ayo Mbak, Nduke mboten sabar ketemu Rea."


Nduk Khafa dan Tsana meninggalkan dirinya dan Andri, yang membawa barang-barang di bantu Mang Man- salah satu perkerja dirumah ini. Memang tujuan utama adalah kesini, jadi nanti pun ia menginap disini juga. Tidak mungkin kan Andri, Nduk Khafa dan Tsana, ia bawa ke rumahnya. Khawatir akan terjadi apa-apa nanti. Lagian Bunda juga mewanti-wanti untuk menginap di rumah Kakek saja.


"Assalamualaikum." Suara riang dari Nduk Khafa mengucap salam. Tak lama kemudian Rea-anak kedua dari Tante Della yang seumuran dengan Nduk Khafa membukakan pintu.


"KHAFA!! A.. KANGEN!!"


"Ck!! ponakanmu San." celetuk lirih Andri yang masih ia dengar.


Ia menggeleng geli melihat ponakan dan adiknya itu berpelukan sambil berlonjak-lonjak, memang kalau di pikir kembali, sudah lama Nduk Khafa tidak bertandang ke rumah ini. Tak mau mendengar suara ocehan mereka berdua, ia pun melengos masuk. Melirik ke arah Tsana yang tampak kikuk. "Ayo masuk, biarin mereka."


"Yok Hus, ojo sungkan-sungkan." Andri juga menyahut.


Tak menunggu jawaban dari Tsana, ia melenggang masuk bersama Andri diikuti Tsana di belakangnya. Langkahnya menuju ke ruang makan. Memang sudah kebiasaan, kalau penghuni rumah ini suka sekali berkumpul di ruang makan, sambil menyemil sesuatu.


"Assalamulaikum." salamnya setelah meletakkan barang-barang di ruang tengah.


"Waalaikumsalam, Aa'. Ya Allah, sini Nini Kangen." Nini dengan semangat menghampirinya lalu memeluk dirinya. Terlihat Tsana mencium tangan Tante Della dan Andri yang mencium tangan Kakek, Ayah dan Om Arif.


Selepas berpelukan dengan Nini, kini dirinya yang bergantian mencium tangan Beliau-Beliau. "Rafif mana Om?" tanyanya pada Om Arif ketika mendudukkan dirinya di kursi samping Ayah. Rafif adalah anak pertama Tante Della yang seumuran dengannya.


"Di kamar kayaknya, iya Ma?"


"Iya, suruh Rea panggilin, Pa." suara keras Tante Della dari arah dapur.


Tak lama Nduk Khafa dan Rea ikut mendekat. "Dek, minta tolong panggilin Abang." perintah Om Arif pada Rea. Tanpa menjawab Rea pun menjalankan perintah. Sedangkan Nduk Khafa sedang mencium tangan Nini dan Tante Della.


"Sini, duduk." serunya pada Tsana yang tampang terbengong di dekat dapur. Terasa aura kecanggungan dari Tsana. Tsana pun mendudukkan diri sederet dengannya, namun ada space satu kursi. "Kek, Yah, Om, ini!!" ucapnya kikuk dengan menunjuk kearah Tsana.


"Ck! mosok kudu aku seng ngenalne, San." celetuk Andri yang duduk di seberang, membuat Kakek terkekeh.


"Aa', ini gimana, ngenalin calonnya masak cumak 'ini' doang." kekeh Tante Della datang membawa makanan. Ia hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya. Canggung. Ini pertama kalinya memperkenalkan seorang hawa di hadapan keluarga besar Ayah. Itupun langsung menjadi calon istrinya.


"Namamu siapa Neng?" Tante Della duduk di samping Tsana.


"Tsana Jihaan Tsabita, bisa di panggil Tsana atau Bita." Ucap Tsana sambil menyapu pandangan.


"He em padahal Aa' lho cuek bebek." suara sedikit medok dari Nduk Khafa yang juga ikut bergabung. Ia memutar bola mata malas, sedangkan yang lain hanya terkekeh. Sebenarnya ia menanti jawaban Tsana. Tapi melihat Tsana yang tampak dengan senyum kakunya, sudah di pastikan Tsana tidak tahu jawaban apa yang akan di berikan.


"Loh, sampeyan mboten semerep to Nduk, Lek Hus-hus anu teng Aa'?" celetuk Andri membuatnya menatap Andri tajam. "Ndri!!" tegurnya.


"Anu nopo to Mas Andri iki." Heran Nduk Khafa. Bahkan tegurannya tidak menghentikan godaan mereka terhadapnya. Semua yang ada disini tampak menyimak, meskipun hanya sedikit tahu tentang arti percakapan Andri dan Nduk Khafa.


"Ck! Nduk Aniya mboten up to date. Hus-hus kan sampun ngeten kaleh Ghassan." Ucap Andri sambil memperagakan telunjuk kanan kiri bersatu. Ia mendelik ke arah Andri. Sedangkan Andri menatapnya dengan tampang polos.


"Heh!!" kini giliran Tsana menegur Andri. Membuat Andri dan Nduk Khafa tergelak.


"Hayo, hayo, makan dulu, nanti di lanjut lagi." suara lembut dari Nini menghentikan gurauan mereka. Ingatkan dirinya untuk menjahit mulut Andri. CK!


****


"Emh, San. Kamu yakin?"


Pertanyaan dari Tsana membuatnya berhenti sejenak mengunyah buah. Sekarang tinggal ia, Andri dan Tsana yang masih berada di meja makan. Selepas makan tadi, sudah sempat berbincang-bincang mengenai pernikahannya dengan Tsana.


"Eh, sek, sek, aku tak ndek jeding disek." pamit Andri padanya. Melihat gerak-gerik Andri, ia tahu Andri hanya pura-pura izin ke kamar mandi. "San, tahan, urung sah." ucap Andri lirih lalu langsung beranjak, ia hanya melirik dan berdecak pada Andri.


"San!"


Ia berdehem, menelan kunyahan di mulutnya. "Iya?" melirik sekilas.


"K-kamu yakin mau nikahin aku." ujar Tsana lirih namun masih ia dengar.


"Kenapa harus ragu." jawabnya santai.


"Aku gak punya apa-apa di banding kamu. A-aku gak pantas San." Ia mendengus mendengar ucapan Tsana. Ia jadi tahu Tsana sekarang dalam mode insecure nya.


"Aku memilih orang yang tepat bukan yang pantas, 53." Ucapnya lalu beranjak dari kursi, berjalan meninggalkan Tsana yang termenung di meja makan. Lama-lama ia di sana, khawatir membuatnya khilaf, apalagi ia tahu Tsana membutuhkan dirinya untuk meyakinkan tentang pernikahan.


****


Bagaimana sampai sini?


Sudah dapat jawaban kan 53 itu siapa?


Padahal di part-part sebelumnya, aku sudah mengkode lewat ucapan Andri. Kalian inget kan kalau Andri dari dulu memanggil Nduk Khafa dengan Aniya?


Hihi, tapi kalian masih menebak-nebak ragu.