GHASSAN

GHASSAN
1



Selamat Membaca


 


 


 


 


Ini sudah tahun ke dua, Ghassan Khaliqul Abraham menjadi mahasiswa teknik sipil di salah satu Universitas Yogya. Awalnya, ia ingin berkuliah di dekat rumahnya saja, supaya setiap hari ia bisa pulang. Atau sekalian jauh, dan tidak bisa seenaknya pulang.


 


 


Pernah sempat ia mengajukan untuk beasiswa keluar negeri, waktu itu ia meminta tanda tangan surat persetujuan Abi. Yang kebetulan juga Bunda ada juga. Bunda hanya berpesan, kalau dirinya boleh ke luar negeri tapi Magister. Akhirnya ia mengurungkan untuk mengambil beasiswa itu.


 


 


Deep talk dengan Abi dan Bunda, selalu menjadi hal yang paling ia sukai. Bagaimana tidak, Abi dan Bunda memperhatikan sedetail mungkin untuk masa depannya. Setelah perdebatan yang cukup alot. Ia memilih universitas di Bandung dan Yogya. Sebenarnya Ia hanya menginginkan di Yogya saja, namun Bunda kekeh untuk dirinya masuk yang Univ. di Bandung. Abi nya juga menambahkan kalau di Bandung kan bisa sering bertemu Ayah.


 


 


Itu, satu hal yang paling ia hindari. Ia sebenarnya menolak keras untuk kuliah di Bandung. Ia tidak mau membebani pikirannya lagi, ia tidak mau mencampuri urusan Ayah lagi, apalagi ia tidak mau berurusan dengan istri dari ayahnya lagi.


 


 


Dan akhirnya keinginannya terkabulkan. Ia masuk jalur SNMPTN di Yogya dengan prodi teknik sipil. Benar-benar lega. Untung saja ia tidak di terima di Bandung. Sampai waktu, ia diingatkan Bunda, untuk memberitahukan kabar bahagia itu pada Ayah. Jujur saja ia lupa kalau tidak di ingatkan Bunda.


 


 


Hanya lewat pesan singkat ia mengabarkan. Bukannya ia tidak ingin dekat dengan Ayah. Namun selalu saja ketika ia ingin bersama Ayah, selalu ada saja gangguan. Terutama pada istri Ayahnya itu.


 


 


 


 


****


 


 


 


 


Kelas baru saja selesai, setelah pembagian kelompok dan tugas. Ia membereskan notebooknya, dan buku pendukung mata kuliahnya.


 


 


"Ngantin? luwe aku." ucap Andri yang sedang menunggunya. Ia hanya menjawab dengan anggukan. Setelah itu mereka berjalan keluar ruangan.


 


 


Andri Wijaya, teman satu kelas sekaligus satu kamar di asrama, sama-sama orang Jawa Timur juga. Ia dan Andri bersahabat semenjak awal semester satu. Karena ia cocok dengan kepribadian Andri. Meskipun, ya terkadang Andri kelewat cerewet seperti Bunda yang mengomel jika mendapatinya begadang sampai hampir pagi.


 


 


Satu hal yang juga ia sukai dari Andri, meskipun sekarang jamannya, cewek cowok saling berdekatan, atau berpacaran. Andri tidak melakukan seperti itu, kalau hanya komunikasi sekedarnya, pernah, tapi kalau jalan berdua-duan Andri tidak pernah. Lagi pula, Andri juga lulusan pesantren.


 


 


"Andri !!" Seru seorang perempuan berhijab menghentikan langkahnya. Ia hanya melihat sekilas. Lalu mengedarkan pandangannya.


 


 


Jujur saja, ia buta soal teman-teman perempuan sekelasnya. Ia hanya tahu nama yang tertera di absensi saja. Tanpa mengenal wajah mereka masing-masing. Kalaupun kelompoknya ada perempuan, ia selalu bertanya pada Andri.


 


 


"Eh, hus hus. Kenawhy ?"


 


 


"Ih, kebiasaan deh. Tsana, Tsana, bukan hus hus."


 


 


 


 


"Rencana anak-anak entar ngerjain tugas Prof. Bambang di JAR Cafdis. Kamu bisa kan Ndri ? dan emh, Ghasaan kamu bisa kan ? atau kalau ada acara besok juga gak papa, kan gak ada kuliah besok."


 


 


"Pripun Gus ?"


 


 


Tatapan tajam langsung ia hadiahi pada Andri. Membuat nyali Andri seketika menciut. "Nanti setelah jum'atan." jawabnya.


 


 


"Owh oke, nanti aku kasih tau di grub. Boleh minta nomernya ?" tanya Tsana


 


 


"Andri aja, sama."


 


 


"Hah ?"


 


 


Andri berdecih pada Ghassan, mana ngerti Tsana kalau jawabnya singkat-singkat. Dan akhirnya ia memilih untuk menjadi juru bicara Ghassan. "Eh, hus, hus, nomer ku aja yang dimasukkin grub, toh kita satu kamar."


 


 


"Oh, gitu. Ya udah aku duluan ya, makasih. assalamualaikum." Tsana berlalu dari hadapannya.


 


 


"Waalaikumsalam warohmah."


 


 


"Sepisan nyeluk Gus neh, ra tak jak neh." Setelah itu ia langsung berlalu dari Andri. Terdengar Andri mengejarnya.


 


 


Dari awal Andri ikut pulang ke rumah, Andri sudah tahu kalau dirinya tinggal di lingkungan pesantren. Apalagi pesantren Darussholah, salah satu pesantren yang terkenal di daerah Jawa Timur. Meskipun sahabatnya sudah tahu, tapi ia sangat menekankan pada Andri, kalau memperlakukannya layak bersahabat saja, tanpa memandang latar belakang.


 


 


"Eh, eh. Khilap, maaph yak !!"


 


 


"Hmm, rawon."


 


 


"Duh, wassalam lah." Ia langsung terkekeh kecil.


 


 


 


 


*****


 


 


 


 


Masih awal-awal nggeh, jadi sabar pelan-pelan akan klimaks sendiri, hehehe.