
*Vote dulu nggeh!!
Selamat Membaca
Hari sudah berganti, Ghassan dan Andri tak pernah absen untuk mengunjungi Kakeknya Tsana. Alhamdulillah sekarang Beliau sudah menjalani rawat jalan di rumah.
Mengendarai motor matic, kini Ghassan dan Andri meng- cross check alamat yang di berikan Mas Mu'adz. Tidak perlu menggunakan bantuan maps, Andri sudah hapal. Pasalnya Andri pernah mengunjungi Firman di asramanya.
Sekitar dua puluh menitan, kini sudah sampai di gerbang pesantren. Ghassan masih memandangi gapura yang bertuliskan 'Pondok Pesantren Miftakhussalam'. Ia dan Andri mendekat ke pos satpam, menanyakan kebenaran alamat ini. Satpam pun mempersilahkan ia dan Andri untuk masuk ke dalam ruang tamu.
Sambil menunggu ketua pesantren datang, Ghassan menyapu pandangannya. Tepat di papan struktur organisasi pesantren, ia mengamati dengan jelas, merekam dalam otaknya. Tidak mungkin tiba-tiba mengambil gambar tanpa persetujuan dari pihak pesantren.
"Assalamualaikum "
Seorang laki-laki yang umurnya diatasnya, dengan senyum ramah menyapa dirinya dan Andri.
"Waalaikumussalam."
"Maaf, ada keperluan apa nggih?"
"Saya Ghassan, tujuan saya kesini untuk mencari alamat." Ia langsung menunjukkan sebuah foto alamat yang tertera disana. Laki-laki itu melihat dengan seksama, terlihat berulang kali mengernyitkan dahi.
"Ini alamatnya benar Mas, tapi nama pesantrennya bukan ini. Mungkin ada kekeliruan? dari saya di pesantren ini, setahu saya nama pesantrennya tetap Miftakhussalam." papar laki-laki itu sesekali mencermati alamatnya lagi.
"Kalau boleh, apa saya bisa sowan ke ndalem?" Ia menyambut gawainya.
"Boleh Mas, tapi kebetulan Abah Yai ada acara, yang di ndalem hanya Bu Nyai. Kalau mau, monggo saya antarkan?"
********
Bangunan berbentuk seperti rumah joglo, namun sudah tersentuh dengan nuansa modern. Sambil menunggu Bu Nyai, Ia menyapu pandangannya, melihat ukiran di kayu-kayu jati yang membentuk asma Allah di mengitari atap. Meskipun tidak adanya pendingin ruangan namun hawa semilir sangat dirasakan.
"Assalamualaikum"
Suara halus menginterupsinya, lalu menjawab salam Beliau. Dengan sekilas ia melihat wanita paruh baya duduk di sofa single. Laki-laki tadi yang membawanya menceritakan sedikit tujuannya datang kesini kepada Bu Nyai.
"Ngapunten, coba saya lihat dulu Mas."
Ia menyerahkan gawainya yang sudah terbuka menampilkan foto yang tertera alamat. Ia mengamati perubahan wajah Bu Nyai yang tegang ketika melihat gawainya.
"Ini mungkin ada kekeliruan nama pesantrennya Mas." Bu Nyai mengembalikan gawainya, dengan perubahan mimik yang tidak seperti pertama kali menyapa tadi. Ia hanya menatap datar.
*******
Malam hari, ia keluar ke market terdekat untuk membeli beberapa barang yang memang habis. Ia sendiri, sedangkan Andri sudah terlelap dari tadi. Sebenarnya ia tidak bisa tidur, mungkin kebiasaan tidur hampir tengah malam jadi di jam sepuluh seperti ini, ia belum menguap sama sekali.
Belum sampai di market, ia melihat seseorang yang di kenal sedang berjalan di trotoar. Ia kemudian menepi lalu menghampiri.
"Eh!!"
"Mau pulang? " tanya Ghassan dengan tatapannya pada gawai setelah mematikan mesin motornya.
"I-iya San. Kenapa?"
"Jangan pulang sendirian malem-malem gini. Bahaya."
"Iya kan emang kerjaanku selesainya malem. Ya udah aku pulang dulu iya San, takut Mbah nunggu. Ass—"
"Tunggu, bentar lagi mobilnya dateng." interupsinya
"Eh, gak usah San. Aku gak mau ngrepotin kamu lagi, udah cukup kemarin kamu bantuin aku. Makasih ya San dan maaf aku belum bisa ganti uang kamu."
Ia hanya mendengar tanpa menyahut ucapan Tsana. Sebenarnya ia tidak nyaman, berdua dengan lawan jenis di pinggir jalanan yang sepi seperti ini. Ia bersyukur mobilnya sudah datang.
"Cepet masuk, salam ke Mbah." ucapnya sambil membuka pintu mobil.
Tsana dengan cepat-cepat memasuki mobil. Ia mengetuk kaca depan. "Pak, antarkan sesuai alamat iya."
"Iya Mas siap."
"Makasih sekali lagi San. Assalamualaikum."
Perlahan mobil yang membawa Tsana melaju membelah jalanan sepi. Sedangkan dirinya masih mematung, ia masih terbayang dengan senyum manis dari Tsana. Sebanarnya tadi ia tidak sengaja menoleh ke arah Tsana.
Astaghfirullah, kenapa berdebar?
******
Assalamualaikum, hai hai bagaimana kabar semuanya?
lama tidak UP nggeh ?
Maaf nggeh kalau lama, ada urusan di dunia nyata sih, hehe
Gimana masih kangen sama Aa' Khaliq?
Ghassan Khaliqul Abraham
Andri Wijaya
Tsana Jihaan Tsabita