GHASSAN

GHASSAN
15



*Vote dulu nggeh!!!


Selamat Membaca


Setelah kejadian semalam, Bunda masih belum percaya kalau ia tidak tahu siapa pengirim sticky note itu. Jadilah sampai pagi, ia masih merasakan hawa dingin dari Bunda. Abi? tentu juga ikutan.


"Bunda cantik, sampun to? Aa' beneran mboten semerep." Ghassan menghampiri Bunda yang sedang memasak, sedangkan Mas Mu'adz terlihat membantu Bunda memotong sayuran.


"Preett!!" sahut Mas Mu'adz


"Ck, bantu talah Mas."


"Binti tilih Mis." Mas Mu'adz semakin mencibirnya


"Awas ae lek Mas Mu'adz ngunu, Aa' emoh ngewangi."


"Untung aku gak ngunu." Meminta bantuan pada Mas Mu'adz tampaknya percuma, malah semakin membuatnya dongkol. Ia duduk di samping Mas Mu'adz dan ikut membantu memotong sayuran.


"Nda, Mas mantun niki wangsul teng pondok nggeh, sungkan mpun ngeropoti Kang-kang seng gantosi."


"Perak nggeh mantun sarapan to Mas, sekalian ngrentosi Abi?"


"Nggeh Nda." Mas Mu'adz menjeda, "Dek, lek enek opo-opo kabari, seng penting Abah Nahrowi ketemu, seng laine nyusul."


"Sokey. Bunda, mantun niki Aa' teng Nduk Khafa nggeh? kangen."


Terdengar kompor di matikan, Bunda duduk di seberang. "Aa' wangsule kapan?"


"Benjeng Insyaallah Nda, pripun? Bunda sampun maafin Aa' kan? mboten nyatru Aa' maleh kan?"


"A', Bunda mboten nyatru Aa', cumak enten sedikit rasa kecewa. Biasane Aa' mesti cerito nopoae teng Bunda. Nopo Bunda mpun mboten nyaman maleh di jak cerito A'?"


Ia langsung berdiri menghampiri Bunda, memeluknya dari samping. "Mboten Bunda, saestu mboten ngoten. Aa' selalu nyaman cerito kaleh Bunda. Cumak bagian niki, kebetulan Aa' supe Nda. Ampun ngoten nggeh. Aa' suayang teng Bunda." jelasnya sambil mengecup pipi Bunda


"Mas Mu'adz pualing suayaang teng Bunda." Mas Mu'adz juga mengecup pipi Bunda. Ia berdecih, Mas Mu'adz tidak mau mengalah.


"Sok mben, lek sampun simah opo iyo sek manja teng Bunda." gumam Bunda yang masih di dengarnya.


"Hmm, ternyata manja-manja an teng mriki. Pantes Abi salam mboten enten seng jawab. Hush, hush."


Ia dan Mas Mu'adz seketika melepaskan Bunda karena mendapat usiran dari Abi. Sudah bukan menjadi rahasia lagi, kalau Abi memang sifatnya sedikit posessive. Meskipun dengan para putera-puterinya. Katanya Abi, Bunda hanya untuk Abi, kalau mau seperti Bunda, cari saja istri sendiri.


******


Sampai di pesantren Adz-dzikro, tempat menimba ilmu Nduk Khafa. Ia memakirkan mobilnya. Ia memakai mobil karena jaraknya yang lumayan jauh. Ia turun dengan membawa tas makanan berwarna navy dan beberapa kantong kresek.


Setelah menyerahkan kartu mahrom, ia menunggu Nduk Khafa di ruang tamu. Sambil menunggu, ia bertukar chat dengan Andri. Meskipun pandangannya mengarah ke gawai, namun pendengarannya masih menangkap bisik-bisik orang yang membicarakannya. Padahal style bajunya tidak ada yang salah. Cuma kemeja abu-abu yang di biarkan terbuka dengan daleman kaos putih lalu berpadu dengan celana jean's nya. Bagian mananya yang membuat dirinya menjadi bahan ghibah.


"AA' ASSALAMUALAIKUM." Pekik adiknya ini dengan jalannya yang dipercepat.


Ia langsung mendongak sambil tersenyum melihat wajah cerah milik adiknya. Ia langsung memeluk adiknya ini dengan erat. Ia benar-benar kangen dengan si krucil satu ini. Benar si krucil, ia masih menganggap adiknya ini masih kecil, masih sama seperti dulu yang selalu meminta di temaninya kemanapun. Kalau bersama Mas Mu'adz, tiada hari tanpa beradu mulut. Pasti ada aja yang di perdebatkan. Tapi terkadang juga Mas Mu'adz suka mengusili Nduk Khafa. Ia tahu, bukan berarti sikap Mas Mu'adz tidak sayang dengan Nduk Khafa, malah menurutnya sayang sekali.


"Kangen Aa'. " gumam Nduk Khafa sambil melepas pelukannya.


"Ayo teng jawi mawon A'. " ajak Nduk Khafa.


Ia menuruti ajakan adiknya ini, sambil menenteng tas dan kresek yang tadi ia bawa. Sampai di gazebo di bawah rindang pepohonan. Nduk Khafa yang semangat membuka tas, yang sudah pasti Nduk Khafa tahu kalau itu dari Bunda.


"Hmm, masakane Bunda mesti top. Aa' sampun maem?"


Ia terkekeh sambil tangannya mengusap kepala adiknya ini, "Mpun maem Aa', maemen kabeh mpun."


Lalu adiknya ini mulai makan dengan lahap, pasalnya masakan yang di bawakan Bunda ini adalah favorit adiknya ini, tahu lontong. Ia hanya menggeleng kepalanya, melihat dari perilaku, mungkin mengira kalau adiknya ini masih Tsanawiyah, padahal bukan.


"Alhamdulillah, tahu lontonge Bunda marakne pingin wangsul." ucap Nduk Khafa setelah menegak minumannya.


"Angsal salam teko Mas Mu'adz, lek preian seng nyusul Mas Mu'adz."


"Loh, Mas Mu'adz nggeh wangsul pindah no ndek wingi. Ish, berarti Nduk seng mboten enten mambengi." Ucap Nduk Khafa dengan cemberut


"Halah, minggu depan kan wes prei to Nduk. Ojo mecucur ngunu talah."


"Tapi kan, mboten saget ngumpul A'. Kadung Mas Mu'adz kaleh Nduk teng nggriyo, Aa' mboten enten." Nduk Khafa mengerucutkan bibirnya.


"Ish, tenan lo nggeh, pokoknya gak mau tau." gerutunya sambil menata wadah yang di gunakan makan tadi.


"Hmm, wes, ayo sowan disek. Terose Mbah Yai Imam gerah?"


"Riyen A', Nduk tak teng kamar riyen, ndheleh niki." Ia hanya mengangguk sambil mengkancingkan kemejanya satu per satu.


"Ayo A'!!" Ia pun menghampiri adiknya itu, "Oh, nggeh engken tak kenalne Ninge, uayu A', Nduk seneng. Menawi jodoh kan Nduk tambah seneng." papar adiknya itu sambil terkekeh.


Ia hanya menggeleng dengan mengusap kepala adiknya, membalas senyuman adiknya ini. Aneh-aneh saja, ini mau sowan kenapa jadinya malah ajang mak comblang.


Sudah masuk ke ndalem, tinggal menunggu dzuriyyah ndalem datang.


"Assalamualaikum, Ning Khafa?"


"Waalaikumsalam, aaa... Mbak Kiya, kangen." ucap Nduk Khafa yang sudah berpelukan dengan Ning itu.


Ia mendongak dengan sekali tatapan, dalam hatinya membenarkan ucapan adiknya ini. Ning nya cantik dan terlihat anggun. Ia pun bergumam menjawab salamnya.


"Wau ajenge teng Mbak Kiya, eh, Aa' nyambangi." adu Nduk Khafa


"Mboten nopo-nopo Ning, kan sak niki sampun ketemu."


"Oh, nggeh. Aa' ajenge sowan, Mbah Yai sare mboten Mbak?"


"Mboten, mboten. Monggo, kulo aturaken." Ia mendongak lalu mengangguk. Berjalan di belakang Nduk Khafa dan Ning yang dipanggil Nduk Khafa dengan sebutan 'Mbak Kiya'. Sepertinya memang mereka berdua sudah saling akrab, karena ia tahu, Nduk Khafa bukan tipe cepat sekali akrab dengan orang lain, kecuali jika memang orang tersebut membuat Nduk Khafa nyaman jika berada di dekatnya.


******


Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Sampai rumah sudah menjelang Ashar, setelah menyambangi Nduk Khafa tadi. Di rumah sedang sepi, terdengar suara Abi di pengeras suara masjid sedang maknani kitab. Kalau Bunda, mungkin di jam seperti ini lagi sema'an Al-Qur'an.


Ia mengotak-ngatik gawainya, sampai ada panggilan video masuk dari Ayah. Tak berpikir panjang, ia pun menerima panggilan itu. Meskipun ia masih nyaman berbaring di ranjangnya.


"Nggeh, Assalamualaikum Yah." salamnya


"Waalaikumsalam A', dimana ini A'?"


"Aa' lagi di kamar Yah, kebetulan pulang. Ada apa Yah? Are you okay? " Ia bisa melihat wajah lesu Ayah di seberang sana.


"No!! perceraian Ayah sudah masuk pengadilan."


"Ayah nyesel dengan keputusan Ayah sendiri?"


" Selama ini, Ayah selalu mangkir jika di tanya apa alasan Ayah tidak menceraikan Safira. Karena Ayah tahu, itu hanya sifat berontak dari Safira karena memang Safira korban dari broken home. Setiap Ayah dan Safira pulang ke rumah orang tuanya, orang tuanya selalu ribut-ribut. Makanya Ayah sabar menghadapi Safira, menghadapi sifat ke protektifannya, karena Ayah berharap, tidak semua rumah tangga berakhir seperti kedua orangtuanya. Tapi sampai di titik ini, Ayah memang sudah menyerah. Dan sekarang imbasnya ke adik kamu, yang sampai sekarang Ayah masih mencari keberadaannya."


Jadi sebab ini, yang menjadi penampilan Ayahnya berantakan. "Mungkin dia butuh menenangkan diri Yah."


"Tapi adikmu gak biasanya seperti ini A', Ayah khawatir kalau adikmu mengakhiri hidupnya lagi."


Ia menghela nafasnya sejenak, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada adik tirinya itu. Ia agak ragu kalau trauma adik tirinya sudah sembuh, pasalnya ia pernah memergokinya sewaktu di cafe dulu.


"Ayah, tenang dulu iya. Insyaallah tidak terjadi apa-apa. Mending Ayah istirahat dulu. Ayah juga butuh tenang. Biar nanti Aa' bantu cari keberadaannya."


Setelah berbincang-bincang dengan Ayah. Ia akhirnya mengetahui jawaban Ayah yang selama ini ia pertanyakan. Ia merasa bersalah, selama ini menghindari Ayah karena sikap Beliau yang menurutnya terlalu mempertahankan biduk rumah tangga yang memang sudah tidak sehat menurutnya.


Ternyata karena itu? Sungguh Ayah orang yang benar-benar sabar. Semoga ini menjadi awal kebahagiaan Ayah.


******


Bagaimana Part ini?


Oh nggeh, mau mengingatkan lagi nih.


Jadi dua cerita MU'ADZ dan GHASSAN ini saling berkesinambungan tapi bisa di baca terpisah.


Terkadang aku ngasih kode mengenai cerita MU'ADZ di lapak GHASSAN, begitupun sebaliknya.


Ghassan Khaliqul Abraham


Khafa Yamaniyyah Shiddiq