
******
"Eh, bentar, bentar. Ini bukannya lo ya?" celetuk Jalyn yang membalikkan macbook ke hadapannya.
Sekilas saja ia tahu, kalau memang itu dirinya. Sewaktu ada acara beberapa minggu lalu. Yang ia tidak mengerti, Jalyndra kok bisa dapat foto itu.
Andri menatapnya, ia berusaha untuk tidak tegang. Karena selama ini tidak ada yang tahu kalau ia bekerja di luar jadi mahasiswa.
"Bener lo kan?" todong Jalyndra
*******
Selamat Membaca
Ghassan yang menjadi atensi sekarang, memilih untuk diam dan tidak menanggapi. Justru ia beranjak untuk ke kamar mandi. Tak memperdulikan tatapan mereka.
Kalau seperti ini, semuanya berpikiran kalau dirinya sombong, angkuh, congkak. Ah, sudah biarkan orang menilai dirinya sesuka hati. Ia tidak peduli.
Ia juga tidak menginginkan semua orang mengenalnya. Cukup orang-orang terdekatnya saja yang boleh mengenalnya.
Setelah selesai, ia kembali ke tempat semula. Bisa dilihat, semua terlihat sudah biasa-biasa saja. Apa mungkin Andri mencoba menjelaskannya? ia tidak tahu, nanti ia bisa tanya pada Andri.
"Alhamdulillah, udah selesai tinggal ngasih nama kelompok!!" celetuk Tsana
Ia langsung melihat jam di pergelangan. Sudah hampir jam tiga sore. Ia membereskan barang-barangnya, kemudian di masukkan kedalam tas punggung. Tinggal macbook-nya yang masih di pakai Tsana.
"Emh, Ghassan!! ini nama kamu yang bener yang mana? Ghassan Khaliqul A., apa Ghassan Khaliqul Ab. Shiddiq?" Tanya Tsana.
Mendengar itu, seketika ingatannya sewaktu kecil muncul. Dahulu ketika ia akan Ujian Nasional Madrasah Ibtidaiyah, semua murid di perintahkan untuk mengumpulkan biodata lengkap, termasuk nama lengkapnya.
Karena ketidaktahuannya, dan rasa penasaran. Akhirnya ia bertanya pada Abi dan Bunda, yang kebetulan selesai makan malam.
"Bi !! benjeng Aa' keng ngumpulne biodata dhamel ujian. Tapi Aa' bingung."
Bunda mengelus kepalanya, "Bingung nopo sayang? Bunda ewangi."
"Aa' bingung Bun, namine Mas Muadz kaleh Nduk Khafa enten Shiddiq e, gadane Aa' tok seng mboten enten."
"Dinten kapan ngumpulne A' ?"
"Kaleh dinten benjeng Bi !! Namine Aa' di tambahi Shiddiq angsal Bi ?"
Ia melihat bergantian Abi dan Bunda yang saling berpandangan, seperti berbicara lewat tatapan.
"A', Aa' harus ingat, sekecil apapun yang di berikan orang lain, harus kita hargai. Sien kan seng maringi nama Aa' kan Ayah. Jadi cobi benjeng tangklet Ayah riyen nggeh?" Abi memberi pengertian.
"Tapi engken lek mboten angsal pripun Bi? Aa' kan pengen sami kaleh Mas Muadz kaleh Nduk Khafa."
"Ampun su'udzon A', di cobi riyen nggeh!!" ucap Bunda.
Ghassan kecil hanya mengangguk pasrah. Keesokan harinya setelah pulang sekolah. Ia meminta untuk telfon pada Ayah. Kebetulan yang dirumah cuma Abi saja, Bunda di rumah sakit.
"Assalamualaikum Ayah !!" sapa nya dengan riang
"Waalaikumussalam warohmah, Aa' Ayah kangen!!"
"Ayah, Ayah. Besok kan di suruh ngumpulin biodata buat UN. Tapi Aa' bingung."
"Bingung apa sayang?"
"Kata Abi, yang memberi nama Aa' itu Ayah. Jadi Aa' minta persetujuan nih!!"
"Nggeh Yah!! Kan nama Mas Muadz dan Nduk Khafa ada Shiddiq nya."
"Iya, terus?"
"Aa' kan juga pengen Yah!! Masak nama Aa' beda sendiri. Kata Abi, Aa' harus menghargai pemberian orang. Kan yang ngasih nama Aa' kan Ayah. Jadi boleh gak di kasih Shiddiq juga ?"
"Oh gitu!!" Ayah menjeda, nampak berfikir. Ghassan kecil bisa lihat karena wajah Ayah nampak di seberang sana.
"Gimana Yah?"
"A', Aa' bukan berbeda dari Mas Muadz dan Nduk Khafa. Aa' itu istimewa, kan keliatan keren A'."
"Tapi Aa' mau nya sama, Yah?"
"Gini deh A', nama Aa' itu sudah terdaftar di catatan negara. Jadi tidak boleh seenaknya menambah, mengurangi atau mengganti. Jadi nama Aa' tetap itu kalau untuk mengurus sekolah. Kalau di luar urusan sekolah, Ayah setuju saja kalau mau nambahin Shiddiq. Jadi tambah bagus nama Aa', ada dua nama kakek di belakangnya. Tapi sebelum itu di bolehin gak sama Abi?"
Abi yang berada tidak jauh darinya, langsung ia tanyakan.
"Bi, pripun?" Abi mendekat, dan berbagi layar dengannya.
"Maaf ya Gus !! Aa' mintanya aneh-aneh. Kalau tidak dituruti juga gak apa apa Gus!! Toh, Aa' masih belum cukup umur, jika harus memahami semuanya."
"Jangan gitu Mas Iqbal. Aa' ini kritis sekali, mangkanya ia menginginkan hal yang sama dengan Mas dan Adik nya. Justru saya yang merasa tidak enak sama Mas Iqbal, sampai Aa' meminta hal seperti itu."
"Tadi sudah saya kasih pengertian kok Gus!! Insyaallah Aa' sudah mengerti. Terimakasih dan Maaf ya Gus !!"
"Loh, gitu lagi!! padahal sudah diingatkan loh. Jangan lagi berterimakasih dan meminta maaf terus. Sepertinya butuh air sum-sum nih!! hehe."
"Air Zamzam Gus !!"
"Itu kalau di Makkah sana, beda hal kalau disini. Adanya air sum-sum alias air sumur."
"Haha, njenengan ini ada-ada saja Gus."
Setelah lama berbincang-bincang dengan Ayah. Akhirnya selesai juga.
Abi menghadap ke arahnya. "Aa', Aa' boleh pakai nama embah kung kapan saja. Tapi ampun supe seng di sanjangi Ayah wau. Fahim?"
"Na'am, insyaallah laksanakan Bi."
Mulai dari situ, ia jarang sekali memakai nama asli. Nama asli hanya ia pakai pada dokumen-dokumen penting saja. Karena tidak menuntut kemungkinan orang-orang akan tahu kalau dirinya penerus Abraham.
"San! Ghassan!! Yee malah bengong."
Ia sedikit tersentak, mendengar panggilan Tsana. Entah berapa lama ia mengingat kejadian itu.
"Terserah mau pakek yang mana." pungkasnya.
*********
Ghassan Khaliqul Abraham
Andri Wijaya
Tsana Jihaan Tsabita
Masih mau lanjut gak ?
Vote dulu dan komen sebanyak-banyaknya yuk !!