
Selamat Membaca
Restoran mewah, lokasi meeting kali ini. Menuju ke ruangan VVIP, Ghassan dan Andri diantar oleh pelayan. Sampailah mereka di depan pintu, lalu pelayan itu membuka pintunya.
Terlihat Kakek, Ayah dan Tante sudah berada disana. Dan ada orang yang membelakanginya. Mungkin Mr. Dalbert dan asistennya.
"Assalamualaikum." Ia mengucap salam dengan tersenyum tipis.
Semua orang disini berdiri, seperti menyambutnya. Ia pun langsung bersalaman dengan Mr. Dalbert terlebih dahulu. Seperti sudah tahu kebiasaannya, asisten Mr. Dalbert hanya sedikit membungkuk untuk menyapa, karena asisten Mr. Dalbert seorang wanita. Lalu ia beralih mencium tangan Ayah, Kakek dan Tante secara bergantian. Kemudian duduk.
"Wow, Bagaimana kabar mu son? Kau ingat aku?" Tanya Mr. Dalbert dalam bahasanya.
"Tentu saja Paman." Ia tersenyum tipis.
"Wah, kau sudah besar sekarang. Kau sekarang lebih kelihatan mirip Luna."
Ia hanya tersenyum mendengar ucapan Mr. Dalbert. Ia masih ingat jelas kalau Mr. Dalbert adalah sahabat Bunda. Waktu kecil Bunda pernah memperkenalkannya pada Mr. Dalbert. Ia juga masih ingat ucapan Mr. Dalbert dulu.
"Kalau saja seiman. Aku pastikan your Mom jadi milik ku."
Meskipun masih kecil, ia mengingat itu dengan epik. Karena memang Mr. Dalbert dulu selalu senang menjahilinya. Dulu mana ngerti maksud ucapan Mr. Dalbert. Semakin beranjak dewasa, ia tahu apa yang dimaksud. Semacam cinta Mr. Dalbert terhalang keyakinan. Entahlah ia tidak tahu juga.
Tak perlu berbasa-basi lebih lama, meeting pun di mulai. Semua tampak tenang dalam meeting kali ini. Hanya membahas hubungan kerja sama antara ABH (Abraham Bhakti Husada) dengan MH (Melbourne Hospital). Tak terasa meeting berlangsung hampir satu jam setengah. Dan sekarang hanya berbincang-bincang santai seperti teman lama yang baru bertemu.
"Selamat son, Your Mom memang luar biasa." Ucap Mr. Dalbert
Ia mengernyitkan dahi. Emang Bunda kenapa? perasaan bukan hari ulang tahun Bunda.
"Ibu mu baru saja masuk dalam jajaran dokter di SG Hospital." imbuh Mr. Dalbert
"Seriously!!" pekik Tante Della-adik Ayah.
SG Hospital, salah satu rumah sakit terbaik dunia yang bertempat di Singapura. Untuk mengajukan kerjasama di sana saja sulit. Apalagi untuk menjadi dokter disana. Karena yang pasti pihak mereka memilih yang benar-benar kompeten.
Tante Della, yang selama memegang kendali rumah sakit ABH. Berulang kali menawarkan kerjasama dengan SG Hospital, namun selalu mendapat penolakan. Padahal rumah sakit ini, salah satu rumah sakit terbaik di Indonesia. Setelah masa jabatan tante Della, ia gantikan. Sampai sekarang ia belum menawarkan kerja sama dengan SG Hospital.
Dering gawai miliknya, memecah kesunyian di ruangan ini. Ia melihat pemanggil adalah Bunda. Terlihat semua menatapnya. Dengan gerakan isyarat, ia meminta izin untuk mengangkat telefon. Sepenting apapun meeting, sesibuk apapun yang ia lakukan, kalau panggilan dari Bunda tidak pernah ia abaikan.
"Assalamualaikum Bunda !!" Sapanya dengan suara lembut. Ia mengedarkan pandangannya, Tante Della mengisyaratkan untuk mengeraskan volumenya. Ia pun menurut. Menaruh gawainya di atas meja. Lalu mengaktifkan tombol loadspeaker.
"Waalaikumsalam A'. Aa' kok belum tidur? begadang ya? emang banyak ya tugasnya sampai belum tidur. Kan ini weekend A', ayolah istirahatkan sejenak."
Ia menggaruk-garuk dahinya, Bunda dalam mode cerewetnya. Untung Bunda berbicara dengan bahasa Indonesia, kalau berbicara dengan bahasa Jawa kromo inggil bisa di pastikan tidak ada yang mengerti, kecuali ia dan Andri.
"Bunda, Aa' masih meeting!! nanti kalau sudah selesai Aa' telfon lagi nggeh?" ucapnya dengan lembut
"Loh, Aa' sekarang lagi di Jakarta? mboten pamit ih ke Bunda. Ya udah Bunda tunggu —"
"Eh, bentar-bentar Lun. Jangan di tutup." Tiba-tiba gawainya di ambil Tante Della.
"Loh Teh, maaf aku ganggu Aa' meeting. Lanjutin aja Teh."
"Iya Teh, ada apa?"
"Kok bisa tembus SG sih Lun?" tanya Teh Della penasaran, sepertinya pertanyaan sama untuk semua orang yang di ruangan ini.
"Oh, itu. Cuma kebetulan aja Teh, hehe. Alhamdulillah rezeki juga."
"Kebetulan gimana?"
"Iya Teh, kebetulan pihak mereka mempercayaiku."
Terlihat Mr. Dalbert menginterupsi, meminta bicara dengan Bunda. Gawainya sekarang berada di hadapan Mr. Dalbert.
"Luna, jangan bilang karena waktu itu?" ucap Mr. Dalbert dengan logat Inggrisnya.
"Dalbert? kau ada di sana juga. Wah, sepertinya ada rapat penting. I'm so sorry." ucap Bunda di seberang sana
"Tidak masalah, meeting sudah selesai. Ini hanya sekedar berbincang-bincang. Jadi benar karena waktu itu?" tanya Mr. Dalbert pada Bunda.
Waktu itu? Entah kapan yang dimaksud Mr. Dalbert. Sepertinya semua yang ada disini tampak menyimak obrolan mereka.
"Alhamdulillah, iya Dalbert. Sebenarnya sudah lama tawaran mereka masuk, tapi aku menolaknya. Kau tahu lah bagaimana aku dulu. Dan beberapa bulan lalu, pihak mereka menawariku lagi. Dan kebetulan juga di setujui suami ku. So, aku ambil."
Mr. Dalbert bertepuk tangan beberapa kali. "Wow, kau selalu mengagumkan Luna. Ternyata masa terpuruk mu waktu itu, tidak membuat otak cerdas mu juga ikut terpuruk. Kau tahu kan!! bagaimana MH terus-terusan menawari kerjasama, tapi pihak mereka tak menggubris sama sekali. Congrats dear !!" papar Mr. Dalbert
"You'r welcome Dalbert." ucap Bunda
"Oke lah, istirahatlah dear. I miss you so much. Sampaikan salam ku pada suamimu, aku ijin jadi suami keduamu."
"Mulut kau Dalbert !! hmmpptt — ABI, ihh !!" Kesal Bunda di seberang sana tapi di akhir suara terdengar lirih. Suara Bunda seperti ada yang membungkamnya. Entah dengan apa Abi membungkam Bunda.
"HA-HA-HA." Mr. Dalbert tergelak
"Hukuman!!" Masih terdengar samar-samar suara dari Abi di seberang sana.
Ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Abi dan Bunda pasti lagi bermesraan di seberang sana. Tidak tahu kalau sambungan telefon lagi di keraskan. Ia melirik ke arah Ayah, wajah Beliau tampak muram. Ia sebenarnya dari dulu sudah tahu apa yang tengah di rasakan Ayah, bahkan sampai sekarang pun masih sama. Ayah tidak merasakan kenyamanan dalam kehidupannya sekarang. Ia bisa merasakan kalau Ayah masih begitu mencintai Bunda.
Dengan segera ia mengambil ponsel, kemudian mengucap salam dan mematikannya. Sebelum Abi dan Bunda semakin menebar kemesraan yang lebih di ruangan ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Luna?" tanya Kakek pada Mr. Dalbert.
"Tidak ada masalah Mr. Abraham. Hanya mantan menantumu itu sungguh luar biasa. Disaat banyak beban, otaknya tetap brilliant."
Braakkk...
Dengan kasar pintu di dobrak dari luar. Semuanya menoleh ke arah sumber suara.
"JADI INI YANG NAMANYA MEETING, HANYA MEMBAHAS WANITA UDIK ITU!!
******