GHASSAN

GHASSAN
22



*Vote dulu nggeh!!


Selamat Membaca


"Sido milu wingi nane?" tanya Andri setelah menyesap kopinya.


Siang ini berada di kantin Fakultas bersama Andri. Bukan untuk kuliah, melainkan mengurus nilai yang belum keluar. Hampir satu kelas mempunyai problem yang sama. Sebenarnya, Ia masih lelah, karena baru kemarin pagi, ia pulang. Ikut Bunda ke Singapura sekalian liburan keluarga. Dan tiba-tiba dapat info untuk segera ke kampus, jadi sore langsung berangkat ke Jogja.


"Hmm, baru wingi isuk teko."


"Zyela yo sido melok?"


"Enggak lah, kan wes balek karo Ayah kae." jawabnya sambil mengedarkan kedua netranya. Meskipun liburan semester, kampus tetap ramai tapi tidak seramai hari efektif.


"Eh iyo, wingi kapan yo, Jaka tekok Zyela iki sopo mu kok sepupune kenal karo awakmu."


"Sepupu?" tanyanya tidak percaya


"He em, jare Jaka ngunu kok. emang Zyela ora ngomong?"


Ia menggeleng. "Ora iki. Alah yowes bene." Acuhkan saja, toh tidak ada hubungannya dengan dirinya.


"Oey!!"


Suara Andri keras menyapa orang di belakangnya dengan melambaikan tangan. Ia menoleh ternyata Jaka dengan setelan santainya tanpa sepatu. Jaka duduk di sebelah Andri. Ada yang aneh dari tatapan Jaka padanya. Lebih tak bersahabat padanya. Terkesan sinis.


"Ngapain? nyari gebetan lagi?" sindir Andri. Sudah jadi hal umum, Jaka sering kali jalan dengan perempuan berbeda-beda. Terkenal fuckboy nya Fakultas Ekonomi bahkan juga sampai terkenal di Fakultasnya atau bahkan satu kampus. Yang sering kali menegur adalah Andri. Bukannya ia tidak ingin menegur juga, namun rasanya kalau tidak akrab tiba-tiba menegur malah nanti jadinya canggung. Berbeda dengan Andri yang memang orangnya blak-blakan.


"Yee.. enggak lah, musim liburan no cewek yes rebahan." ujar Jaka santai dengan terkekeh.


"Hadeh, tobat. Kena karma tau rasa." dengus Andri.


Ia masih mendengar perdebatan kedua laki-laki ini, sesekali ia menyesap coklat panasnya. Dalam benaknya ia masih bertanya, apa yang salah pada dirinya?


"Mana ada, yang ada karma terkena gue." Bantah Jaka santai.


"Ck, pakboy!!" cibir Andri


Padangannya masih mengarah pada Andri lalu beralih pada Jaka. Tepat pada Jaka, yang menatapnya dengan sorotan yang sulit ia mengerti. Kenapa ini anak? Ia menaikkan kedua alis, seolah bertanya ada apa?


"Ehem, San, gue mau tanya serius." Ucap Jaka sambil menegakkan badannya.


"Apa?"


"Lo kenapa PHP in Ale? eh, maksud gue Jalyn." Tatapan Jaka berubah mengintimidasi padanya.


"Enggak ada yang PHP in siapa, dan mehapein siapa." jawabnya.


"Wah, gue kira lo tipe-tipe good boy. Denger!! lo boleh San, cari cewek buat jadiin PHP an lo, tapi gak Ale juga." Tegas Jaka dengan penekanan.


"Sorry Jak, kayaknya ada salah paham." jawabnya agak bingung. Ia tidak paham dengan ucapan Jaka tentang PHP in Jalyn. Kapan dirinya memberi janji pada Jalyn? seingetnya tidak ada.


"Tanya aja noh sama sahabat lo!" Jaka masih di liputi emosi.


"San!" Andri menatapnya penuh tanya.


Ia menggeleng keras. "PHP in Jalyn apa? beneran gak paham." jelasnya tenang.


"Halah, sok sok polos. Lo tau, kenapa Jalyn akhir-akhir ini deket dengan kalian? padahal sebelumnya enggak?" Ketus Jaka.


Benar, memang akhir-akhir ini, Jalyn selalu mendekat ke circle nya dengan Andri. Entah itu sekedar nongkrong di cafe, mengerjakan tugas bersama, ke perpus pu tak jarang janjian bersama dan juga sering keluar makan bersama.


Ia menggeleng keras, "Sorry nih! kalau bisa, ngomongin baik-baik. To the point aja." Tegasnya. Memang ia tidak suka mendengar orang yang berbicara terlalu bertele-tele. Mending to the point saja tanpa ada pengantar terlebih dahulu.


Jaka menghela napas kasar beberapa kali. "Pesen es sana, biar adem lo. Dateng- dateng ngajak ribut Ghassan." ucap Andri


Menuruti Andri, Jaka memesan minuman dingin. Lalu meminumnya. "Sorry, sorry, gue lost control. Ale, sahabat gue, gue gak pengen dia sakit hati. Dari pertama kenal, gue gak pernah di curhatin dia masalah cowok. Baru-baru ini, dia kayak exited nyeritain lo, sekaligus nangis-nangis gara-gara lo, San. Apa lo selama ini gak nyadar Ale suka sama lo?"


"MBLO!! LO APA-APAAN SIH?" Suara keras dari cewek yang jadi objek pembicaraan, terdengar dari arah belakangnya. Jalyn berjalan ke arah Jaka.


"GUE CURHAT BUKAN UNTUK LO BEBERIN!! LEMES AMAT TU MULUT!!" Jalyn masih dengan suara kerasnya, membuat penghuni kantin mengalihkan perhatiannya.


"Eh, eh. Duduk, duduk, gak enak diliatin." Andri mengintruksi Jalyn.


Ia segera berdiri dan duduk di samping Andri. Secara tak langsung mempersilahkan Jalyn dan Tsana untuk duduk. Namun Jalyn melenggang pergi, kemudian Jaka berlari menyusulnya.


Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa ini kesalahannya? kesalahan yang tidak ia sadari. Bingung sendiri jadinya. Padahal komunikasi intens dengan Jalyn hanya sekisar satu malam saja. Itu pun tidak ada yang membahas mengenai perasaan. Tapi kenapa malah melenceng jauh begini masalah yang di timbulkan. Ia menghela napas kasar. Selain terkena omelan Bunda, ia juga terkena ketusan dari Jaka. Astaghfirullah!!


"Enek opo seh, dirimu karo Jalyn? PHP piye? sak ngertiku dirimu ora ngunu kuwi."


Ia menggeleng, "Gak ngerti pisan aku."


"Eh, aku pulang duluan ya." Pamit Tsana. "Assalamualikum."


Ia bergumam menjawab salam Tsana, ia sampai tidak sadar Tsana masih di sini. Ia melihat punggung Tsana sampai mengecil hingga tak terlihat. Ia harus secepatnya menyelesaikan masalah ini. Takut berlarut-larut malah jatuhnya tidak baik. Ia segera mengetikkan pesan untuk Jalyn, kalau dirinya ingin berbicara.


Besok sore, ia sudah pulang lagi ke rumah, karena jatah liburannya masih lama, sekitar kurang sepuluh harian lagi. Jadi mau tidak mau, malam ini sudah clear.


*******


Ghassan Khaliqul Abraham


Andri Wijaya


Jaka Ardiansyah


Jalyndra Alera H


Tsana Jihaan Tsabita