
Sebelumnya mohon maaf kalau author terlambat up, karena ada kesalah ponsel sehingga membuat akun author nya sempat hilang (tidak bisa buka). Plus data yang udah di siapkan untuk di up juga hilang 😥 dan syukur masih bisa di buka lagi. Ikutin terus ya.
Rio dan Mitha keluar dari ruangan kerjanya, cukup lama mereka membahas masalah perkembangan cafenya. Dan sesuai permintaan Ririn ( mama Rio) mereka memutuskan untuk makan malam bersama. Awalnya Tania merasa nggak enak, namun lebih nggak enak kalau harus meninggalkan mereka. Tania terdiam dan berharap tidak ada perbincangan apa-apa yang terjadi diantara mereka, apalagi dengan Mitha.
Makan malam berjalan dengan hening nya, namun keheningan itu terhenti oleh perkataan Ririn.
"Mitha selesai makan kamu nggak usah pulang lagi, kamu nginep aja disini nanti pakai pakaian Tania, ini udah terlalu larut" seketika perkataan Ririn membuat Tania merasa kaget, namun tidak dengan Mitha, dia merasa menang, ya ini lah kemauan nya.
Pandangan Tania mengarah pada Rio, namun pria itu hanya menampilkan ekspresi datar, 'aku berperang dengan diriku sendiri" gumam Tania.
"Tidak perlu Tante, saya pulang aja, nggak enak kalau nggak pulang, entar tetangga liat omongan nya nggak enak" ucap Mitha seakan menolak.
'hari ini di suruh nginep, besok-besok di suruh tinggal disini sebagai pengganti nya Tania" gumam Mitha
"Tidak perlu sayang, kalau kamu tidak suka di kamar tamu, kamu boleh di kamar nya Tania" ucap Ririn " boleh kan sayang" lanjut nya lagi meminta persetujuan dari Tania.
"Saya tidak terbiasa Tante, tidur bareng orang lain, tapi kalau dianya mau sih nggak papa juga" ucap Tania
"Eh tidak usah Tante, saya tidur di kamar tamu juga nggak papa kok" ucap Mitha
'sepertinya dia penghambat untuk aku masuk ke rumah ini" kata Mitha dalam hati.
Namun Tania melihat jelas ekspresi sinis dari wajah nya Mitha, berbeda dengan Rio yang selama ini percaya dengan Mitha, namun tidak menyadari perubahan nya.
"Ya udah kalau gitu sayang, kamu tidur nya di atas aja, di sebelah kamar Tania ya" ucap Ririn tersenyum karena merasa Mitha adalah orang penting bagi Rio.
Awalnya Mitha Bekerja dengan Rio memang sangat terpaksa oleh keadaan, dia baru saja tamat SMA namun tidak memiliki biaya untuk melanjut ke perguruan tinggi, Bekerja dengan Rio adalah hal yang sangat di syukuri nya, karena sangat membantu ekonomi keluarga, apalagi Rio tidak pernah hitung-hitungan masalah uang, selagi kinerja nya masih maksimal. Namun perlahan dia merasakan kebaikan nya Rio, dia akhirnya tau kalau dia pewaris keluarga besarnya, karena Eriska sudah memiliki usaha sendiri, dan tidak mungkin dia akan ikut mengurus usaha orang tua nya. Hal itu lah yang mendorong Mitha untuk tetap ingin bersama Rio dan berharap lebih dari asisten.
Selesai makan Tania membersihkan meja makan, dan menyuci piring bekas makan mereka, lalu memutuskan untuk kembali ke kamar.
To Prilly
Kayak nya Mitha itu orang yang harus di perhatikan baik-baik.
To Tania
Mitha? Asisten nya Rio?
To Prilly
Iya, aku merasa ada sesuatu yang dia rencanakan.
To Tania
Hahaha, itu mah masalah kecil, Lo santai aja sama dia
To Prilly
Rio lebih banyak menghabiskan waktu dengan dia, dan kesempatan nya untuk tidak di awasi lebih banyak. Hanya sebentar saja, gerak-geriknya sudah sangat mencurigakan.
To Tania
Mau tidak mau, kamu harus sering-sering ikut dengan Rio, lupakan gengsi, dia mulai perbincangan sedikit langsung aja di respon dengan baik
To Prilly.
Bagus juga ide Lo.
Tania keluar dari kamar berdiri di balkon kamar nya dengan kamar Rio, berharap bisa melihat Rio. Seperti yang di duga pintu kamar Rio terbuka dan terlihat jelas kalau Rio sedang sibuk dengan laptop yang di hadapan nya.
Tania pergi ke dapur berniat menyiapkan teh hangat, dan di bawa ke kamar Rio lewat pintu balkon.
"Di minum dulu" ucap Tania meletakkan nampan berisi teh nya di meja Rio,
"Kalau mau masuk permisi dulu dong" ucap Rio karena kaget.
Tania menghela nafas nya " ya udah kalau keberadaan ku tidak di terima, aku keluar dulu" ucap Tania
"Nia" panggil Rio menghentikan langkah nya.
"Kenapa?" Ucap Tania
"Kamu mau ngapain" ucap Tania melihat Rio yang mengunci pintu.
Rio mengaktifkan kedap suara di kamar nya. "Kenapa belakang ini sikap kamu dingin banget sama aku" ucap Rio setelah duduk di kursinya dan mengahadap Tania yang duduk kasur miliknya.
"Aku yang dingin, atau kamu?" Ucap Tania dingin
"Oke, aku salah karena aku terlalu sibuk, nggak pernah ada waktu buat kamu" ucap Rio penuh penekanan
"Buat apa bayar asisten mahal, kalau kerjaan juga kamu yang ngerjai" ucap Tania tanpa mikir.
"Mereka punya tugas nya tersendiri Nia.., tidak semua pekerjaan boleh di handle oleh mereka sendiri, apalagi urusan keuangan" ucap Rio dengan lembut.
"Lagian aku bukan pacar kamu, wajar aja sih kalau kamu itu nggak mentingin aku" ucap Tania.
"Kamu lebih dari sekedar pacar" ucap Rio tegas. Yang mampu menutup mulut Tania, karena tidak mampu berkata apa-apa lagi.
"Kalau ada masalah, langsung di ungkapkan, bukan malah diam" ucap Rio memindahkan posisinya duduk di sebelah Tania.
"Aku iri sama temen-temen aku" ucap nya sendu
"Kenapa?"
"Mereka selalu buat instastory bahagia bareng pacar masing-masing, bahkan Intan yang pacar nya jauh juga sempet datang kesini, Sela yang pacar nya juga sibuk selalu nyempetin waktu buat Sela, walaupun hanya sekedar nganterin makanan buat kami di kantor, tapi aku jangan kan di ajak jalan, di tanya kabar aja nggak pernah" ucap Tania lirih.
Rio melilit kan tangan nya di leher Tania, dan merapatkan kepala mereka.
"Aku minta maaf" ucap Rio membisikkannya di telinga Tania.
"Aku nggak mau maafin" ucap Tania yang membuat Rio melotot
"Kok gitu?"
"Aku nggak Nerima maaf-maaf" ucap Tania tegas.
" Ya udah, aku janji akan luangkan waktu yang banyak buat kamu, ngajak kamu kemana yang kamu mau-"
"Ya udah aku mau ke raja Ampat"
"Aku belum selesai" ucap Rio mendengar perkataan Tania yang memotong perkataan nya.
"Ya udah, kamu nggak mau kan" ucap Tania ngambek.
"Tapi nanti, kalau kita udah tamat sekolah" ucap Rio gemas
"Masih lama dong" rengek Tania.
Rio hanya tersenyum melihat tingkah polosnya, sebenarnya mudah kalau hanya membujuk Tania, tapi menemukan waktu nya yang sulit.
"Emang nggak bisa nunggu tamat?" Ucap Rio memastikan.
" Ya udah" ucap Tania manyun
"Bibir jangan di maju-maju in, entar angsa kesal" ucap Rio
"Kenapa angsa yang kesal?" Tanya Tania dengan polos
"Iya lah merasa saingan nya makin banyak" ucap Rio yang mendapat lemparan bantal dari Tania.
"Tau ahk, aku mau tidur" ucap Tania berdiri dan berjalan ke arah pintu balkon
"Lain kali kalau masuk ke kamar aku jangan begitu" ucap Rio yang baru menyadari pakaian Tania.
"Kalau di dalem boleh?" Ucap Tania tertawa
"Siapa yang ajarin sih?" Rio menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa kalau Tania sekarang aneh.
Tania sudah menghilang di balik pintu, Rio kembali memeriksa kondisi keuangan cafe nya. Tiba-tiba listrik di komplek mereka mati.
AAAAAKKKKHHHHHHH