Friendship Goals

Friendship Goals
pulang



woi makan yok" teriak Tania sampai di kelas menghancurkan kenyamanan kelas nya itu.


Semua orang menatap kearah pintu yang tidak lain adalah Aldo, Andi, Esra, Prilly, Intan, dan Dea. Biasanya yang setia di kelas hanya mereka berlima, karena yang lain memilih di luar dengan keramaian. Berbeda dengan mereka berlima, kalau sudah Keluar kelas pasti sudah malu-maluin.


"Dari mana Lo berdua" tanya Andi penasaran


"Tadi aja, melow. Sekarang happy" ucap Prilly


" Pacaran dong" Tania santai.


" Tumben Lo berdua pacaran, biasanya baju hantam" ucap Intan sinis.


" Bukan sama dia, sama Dimas" ucap Tania ikutan duduk di pojokan kelas melihat teman-temannya mempunyai stok makanan banyak.


"Serius?" Tanya Aldo tak percaya melihat kearah Rio.


" Iya lah" ucap Rio santai.


"Dimas yang mantan Lo waktu di asrama ya Ni?" Tanya Andi kepo.


" Iya, anak kamar 12" ucap Tania sambil memasukkan makanan ke mulut nya.


" Trus Lo kok biasa aja" tanya nya lagi pada Rio.


" Emang harus kenapa, harus marah? Harus nonjokin si Dimas" ucap Rio santai.


" Biasanya kan emang gitu" sahut Aldi.


" Kami kan luar biasa" Tania sinis.


"Serah Lo berdua deh" ucap Andi.


"Gue juga mikir tadi, nggak biasanya Rio sama Tania berduaan" sindir Dea.


"Biasa kok, dikamar " sahut Tania lagi


Membuat semua orang melihat kearah mereka bergantian.


"Kenapa?" Tanya Rio heran.


"Ngapain di kamar?" Tanya Prilly penuh penyelidikan.


"Ya elah, masih percaya aja sama mulut nya dia" ucap Rio bersandar ke dinding.


"Iya juga ya" ucap esra yang dari tadi nyimak.


***


"liburan nya jadi nggak?" Tanya Prilly memastikan


" Nggak ahk, gue kangen Ama emak gue" jawab Tania dan mendengar itu Rio melirik ke arah nya tak percaya.


" Satu orang nggak ikut, mending nggak jadi" ucap Dea lagi.


" Kalau emang mau pergi, pergi aja kali. Gue nggak maksa buat ikut, lagi kalau bareng kalian banyak waktu" ucap Tania lagi


"Iya juga sih ya udah kita pergi aja deh" Dea makin senang.


"Plin-plan banget hidup Lo" ucap Esra menatap sinis.


" Tau ahk, gaje Lo semua" Intan meninggalkan mereka keluar kelas


****


"Kamu beneran mau pulang kerumah ibu" tanya Rio saat mengantar Tania pulang.


"Ya iyalah. Gue kangen sama ibu" ucap nya lirih


"Masuk dulu yuk" lanjutnya sadar mereka masih di depan rumah.


"Ya udah" Rio mengikuti Tania masuk ke rumah.


"Tante Silvi mana?" Tanya nya melihat rumah sepi.


"Kerja mungkin, biasanya juga nggak pernah di rumah" jawabnya sambil meletakkan tas nya di sofa.


" Aku ganti baju dulu ya, bentar" Tania pamit dan di balas oleh anggukan.


"Kenapa" tanya Tania mendapati Rio sedang melamun


"Nggak papa" Rio tersenyum manis.


" Kok diam aja"


"Lah kamu kan pergi, masa aku ngomong sendiri" Rio mengangkat alisnya sebelah.


"Oh iya" ucap Tania membenarkan.


"Jadi kamu kapan pulang nya" tanya Rio tanpa basa-basi.


"Besok, aku udah pesan tiket pakai uang tabungan aku" jawab nya semangat


" Emang nggak di beliin sama kak Tiara, atau ibu gitu" Rio heran.


"Biar jadi kejutan" ucap nya bangga.


Rio hanya manggut-manggut mengerti maksud Tania.


Grup chat.


Tania : see you next Week all.


Esra : masih subuh kok udah berisik aja sih, mau kemana?


Dea : astagah belum libur udah kangen aja Lo


Tania : wkwk, udah di bandar gaes, soalnya nanti takut nggak sempat ngabarin kalian semua, makanya kabarin nya sekarang


Esra : kok pagi amat Lo


Dea : tau tuh, kayak pesawat tutup aja kalau siang. Kan kita nggak bisa nganterin kamu


Tania : biar nanti pas nyampek rumah masih pagi, jadi orang rumah belum kemana-mana.


Esra : dua orang lagi mana sih?


Dea : masih tidur lah, emang pernah bangun sepagi ini?


Esra : iya juga ya kan


Dea: lah tu orang kemana, kok nggak nyahut lagi.


Esra : dah berangkat mungkin.


Rumah Tania.


Tania sampai di depan sebuah rumah, yang menurutnya tampak berbeda. Rumah yang kini semakin besar dan semakin indah.


Gue nggak salah alamat kan ya, gumam nya sendiri.


"Eh non Tania, pagi-pagi udah Dateng neng" sapa pak satpam saat membuka gerbang rumah nya.


" Eh iya mang, orang rumah ada kan?" Tanya nya penasaran.


"Tuan dan nyonya dan non Tiara juga ada neng, mari saya bawakan kopernya.


"Nggak usah mang, saya aja" ucap nya yang udah terbiasa mandiri sejak diasrama.


"Aku pulaaaaaang" teriak nya saat membuka pintu.


Mendengar suara yang nggak asing, membuat Tiara heran. Sepengetahuan adiknya tidak mungkin pulang, karena tidak ada kabar kalau dia akan pulang.


"Siapa bik?" Tanya Andini penasaran.


" Saya lihat dulu ya nyonya" sahut bik Ima.


"Nggak usah, lanjut aja, biar saya yang kesana"


" Ayah, ibu, kakak" teriak Tania lagi, kesal tidak ada yang menyambut kepulangan nya.


Tiba-tiba ada yang memeluk dia dari belakang belakang.