Friendship Goals

Friendship Goals
Rio dengan orang lain



Sudah hampir sebulan Tania dan Sela sibuk dengan belajar nya karena harus mengikuti olimpiade beberapa hari lagi, Tania sebenarnya malas mengikuti begituan, tapi karena sudah dipilih oleh pihak sekolah, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab, karena sebenarnya dia anak yang cerdas. Selama mengikuti pelajaran tambahan untuk olimpiade, dia jarang punya waktu main sama temen-temen nya yang lain, dan pasti nya selama itu juga dia nggak pernah ketemu Rio.


Tanpa mereka sadari jam sudah menunjukkan pukul 18.29.


"Pantes gue capek banget" keluh Tania sambil menyandarkan kepala nya ke meja.


"Iya ya" ucap Sela lemas.


"Ya udah, kalau lelah kita pulang aja, di paksakan juga nggak baik" kata buk Lina guru pembimbing mereka.


"Baguslah" ucap Tania.


"Laper nih, makan yuk guys" ajak David salah satu teman mereka


"Hayuks, meluncur" ucap Sela semangat


"Gue nebeng sama siapa nih" tanya Tania


"Berlagak nanya Lo, yang kosong cuma motor gue" ketus Sela.


"Selo kali" ketus Tania


"Jadi nggak?" David geram


"Jadilah" jawab mereka bersamaan.


"Kita kemana nih" tanya Andre bingung


"Oh iya ya, main jalan aja" Tania dengan polos nya


"Ikutin gue aja, gue tau ada caffe keren disini, makanan nya juga enak" ucap David sambil menjalankan motornya.


Sampai di tempat tujuan, mereka langsung masuk. Tania dengan semangat tidak lagi memperhatikan nama caffe tempat mereka makan.


Pesanan mereka datang, lapar atau doyan mereka makan dengan lahap, dan tak sempat berbicara sepatah kata pun.


"Akhirnya, gue kenal juga sama lho semua" ucap Sela setelah makan


"Emang kalau lho lapar nggak kenal orang ya" tanya Andre.


"Nggak fokus" jawab Sela


Mereka pergi memang hanya berempat, jadi nggak ribet, karena caffe nya sangat ramai Mereka memutuskan untuk langsung pulang.


David, Andre, dan Tania sama-sama terfokus melihat ke arah pojok caffe yang tempat nya cukup istimewa karena meja nya jauh dari yang lain.


"Rio" ucap Tania tak sadar


"Gue pikir gue salah orang Ni" ucap Andre ikutan kaget


"Emang ada Rio di sini?" Sela polos


"Tau ahk, balik aja yuk" Tania langsung berdiri dan keluar dari caffe tersebut


"Harusnya kita kesana, nanya ke dia" Andre kasi saran


"Emang lho nggak di rumah dia lagi?" tanya Sela lagi


"Tante gue kan lagi disini, ngapain gue ke rumah dia?" Tania kesal.


"Ya udah yok, balik aja" ucap David cuek.


"Ya udah" sahut Sela


Sampai di rumah Tania langsung ke kamar, membersihkan diri, lalu memilih untuk tidur, karena seharian lelah dengan buku-buku nya.


Paginya seperti biasa, dia di anterin Pak Min supir Tante nya Silvi. Karena kalau Tante nya di rumah dia nggak pernah lagi berangkat bareng Rio.


Seperti biasa, Tania langsung masuk ke lab bahasa, dia mencoba melupakan hal yang di lihatnya kemarin di caffe dan mencoba fokus dengan belajarnya.


Hari berganti hari, ini adalah hari olimpiade mereka. Mereka akan berangkat menuju tempat tujuan.


"Hari ini perwakilan dari sekolah kita, akan berangkat mengikuti olimpiade se propinsi dan diadakan di sekolah negeri di kota ini, baik lah, mari kita bawa doa untuk teman-teman kita, dan tetap kasi semangat untuk team yang menjadi perwakilan sekolah kita" terdengar pengumuman dari kepala sekolah


****


"Tania ikut olimpiade ya?" Tanya Andi melihat ke arah team yang akan pergi.


"Iya, udah hampir sebulan nggak ketemu sama dia" ucap Rio lemas


"Lagian Lo kan sibuk juga, sama caffe lho" ucap Aldi lagi


"Iya juga sih" kata Rio membenarkan


"Tania nggak tau ya kalau lho kerja" tanya Aldi lagi


"Nggak, soalnya kalau dia di rumah, dia sibuk sama mama juga, aku sibuk kerja dari kamar, kalau nggak aku pamit keluar" jawab Rio menjelaskan


"Emang dia nggak kepo?" Tanya Andi penasaran


"Nggak tuh, dia biasa-biasa aja" jawab Rio


"Biasanya cewek tuh nggak suka, kalau cowoknya pergi sendiri" ucap Aldi


" Dia orang nya santai, nggak mau di kekang, dan nggak mau mengekang" jawab Rio santai


"Lho hati-hati deh sama orang kayak gitu" ucap Aldi


Rio hanya tersenyum sinis menanggapi perkataan nya.


****


Sementara di ruangan olimpiade semua peserta sedang berjuang, guru pendamping beserta team yang mendukung pun jantungnya seperti hampir meledak.


Tania dan juga team nya bersaing dengan sangat serius dan jujur.


Tak terasa perlombaan demi perlombaan selesai dan ternyata sudah sore.


Saatnya pengumuman hasil olimpiade di bacakan oleh team juri.