Friendship Goals

Friendship Goals
minta maaf



"Eh tau nggak ternyata cafe tempat kita nongkrong itu, owner nya anak sekolah sini loh" ucap salah seorang siswa dengan teman nya saat Tania lewat.


"Ya iya lah, emang Lo nggak pernah liat kalau Rio ada disana" jawab siswa satunya lagi.


"Ngapain ngomongin dia, dia milik gue, emang siapa sih yang bisa nolak gue" ucap salah satu dari mereka.


Tania geram lalu menoleh kearah orang itu. Sissy, iya dia Sissy teman seangkatannya nya. Orang yang berlagak palik cantik. Dengan sifat kecentilan nya Yang dibuat hanya semata-mata untuk mencari perhatian.


"Barang bekas emang cocok nya di buang ke tempat sampah kok" ucap Prilly tersenyum ke arah Tania.


Tania manaikkan alisnya, merasa bingung apa arti perkataan Prilly.


"Rio kan barang bekas Lo, wajar di buang ke tong sampah Sissy" jawab nya tetap berjalan tapi tersenyum sinis.


"Rio nggak segampang itu loh, bisa langsung Nerima Sissy gitu aja" bela Tania


" Ya udah kita lihat aja".


*****


"Kok Lo berdua bisa barengan?" Tanya Intan melihat mereka berdua masuk.


"Ada gembel, nginap depan rumah gue semalem, latihan jadi anak yatim katanya" ucap Tania mengejek


"Nggak tau diri amat sih, udah di temenin juga" Prilly tidak terima


"Bisa nggak sih, sehari aja nggak usah berisik, besok-besok di kantor pada kangen" protes Dea.


"Aduh kenapa harus magang sih" Esra kesal.


"RIP boci" Intan menyandar kan kepala nya ke meja


"Boci apaan boci" tanya Dea


"Bobo ciang" sahut Intan tersenyum sinis.


"Gaje tau nggak" sambar Tania.


"Kata Aldo, kamu berantem ya Ni sama Rio?" Tanya Esra yang masih penasaran.


"Makanya kmaren ikut gabung bareng kita. Jangan pacaran Mulu Lo" sahut Prilly ketus


"Diem, gue nanya Tania"


"Bukan berantem sih, cuma tau diri aja" jawab nya santai sambil duduk


"Maksud nya?" Esra makin bingung


" Ya iya, kita kan emang nggak pernah pacaran, suka-suka gue dong kalau nggak mau lagi ke rumah dia" Tania mencoba untuk tetap santai


"Kayak nya Lo marah deh sama Rio"


"Urusin aja itu si Aldo, ribet amat sih" ucap Dea menghentikan pertanyaan Esra.


"Tau tuh" dukung Intan.


"Yang belain gue siapa" ucap Esra melihat teman-temannya tidak ada yang mendukung dia.


" Bodo amat" jawab mereka bersamaan.


*****


"Tumben lama?" Tanya Andi melihat Rio seperti tidak bersemangat.


"Tadi ada cewe, kurang kerjaan ngalangin jalan gue" jawab nya kesal.


"Syukur masih ada cewe yang mau sama Lo" sindir Aldo


"Belagu banget Lo" Rio makin kesal.


"Makanya kalau ada masalah di selesai in, jangan di diemin balik, entar di embat orang tau rasa Lo" sindir Aldo lagi.


"Ya Lo tau lah, gue sibuk banget, gue harus full di cafe baru gue, mana sempat gue nemuin Tania. Mana orang nya susah banget lagi buat di bujuk" jawab nya frustasi.


"Ya udah carik aja duit nya, duit nya dapat, cewe nya ilang" ucap Andi sambil tertawa.


"Inget bro, ntar lagi magang, Lo juga nggak tau kan dia magang dimana, Lo mau nyarik juga nggak bakalan tau nyarik nya dimana" ucap Aldo sambil duduk si sebelah Rio.


Rio menghembuskan nafas nya kasar.


"Sekarang bukan cuma Nia yang jadi masalah. Prilly juga" jawab nya sendu


"Prilly itu baik, kalau emang niat Lo baik. Tapi Prilly pedes, kalau orang terdekat nya Lo sakitin" jelas Aldo.


" Tau dari mana Lo?" Rio memutar kepala nya menoleh ke arah Aldo.


"Dari cewe gue lah, soal nya gue kmaren denger dia ngomong gitu, makanya gue tanya Esra" jelas Aldo


"Lo fokus aja sama Tania, kalau Tania udah baikan, Prilly ngga jadi masalah" lanjut nya lagi.


******


Malam hari nya Rio sengaja mempercepat menutup cafe nya. Dan setelah semua kerjaan nya selesai dia melajukan mobil ny ke rumah Tania.


"Permisi" ucap Rio berkali-kali


" Maaf, cari siapa ya" tanya bi Ima asisten di rumah Tania. Karena semenjak dia disitu, Rio tidak pernah lagi datang kesana.


"Saya Rio bi teman nya Tania, Tania nya ada?" Tanya Rio


"Sebentar saya panggil den, silahkan di tunggu" ucap sang bibi karena sesuai perintah Silvi. Orang yang datang kerumah tidak boleh di persilahkan masuk gitu aja.


"Ada apa?" Tanya Tania bersandar di pintu.


"Kamu nggak nyuruh aku masuk dulu?" Tanya Rio gemetar.


"Kalau ada hal penting di bilang aja" Tania duduk di kursi depan di sebelah Rio.


"Aku mau minta maaf" ucap Rio sendu.


"Atas dasar apa?" Ucap nya datar.


"Maafin aku Ni, aku terlalu sibuk, sampai-sampai di saat liburan aku nggak pernah ngabarin kamu. Dan yang kamu lihat di rumah aku itu salah paham, aku sama Mitha sedang membicarakan masalah cafe bukan yang lain" Rio menggenggam tangan Tania namun Tania langsung menarik nya.


"Harus nya dari awal aku peka ya Ri, kamu nggak mau pacaran sama aku, kamu lebih mentingin cafe dari pada aku, kamu bahkan menolak untuk di jodoh kan sama aku. Semua itu udah jelas. Dan masalah Mitha kamu nggak perlu minta maaf. Soal nya aku yang nggak tau diri, cemburu pada orang yang jelas-jelas bukan siapa-siapa aku. Jawab Tania sambil menahan air matanya