
" kangen banget makan beginian" Tania sangat senang karena dia bisa makan bersama dengan keluarganya apalagi dia bisa memilih makanan favoritnya.
"Makanya kalau jauh-jauh jangan kelamaan dek, kamu semenjak kerumah mama nggak pernah pulang" ucap Riska yang juga ikut makan bersama mereka.
" Kakak juga nggak pernah pulang" ucap nya santai membuat semua orang memandang ke arah Riska
"Tapi kan, papa mama sering kesini dek" ucap Riska bangga
"Nggak kangen sama Rio ka?"
"Kangen banget malah" ekspresi wajah Riska tiba-tiba datar
"Kok kamu nggak aja Rio kesini?" Tanya Ferdi memandang ke arah Tania.
" Dia juga nggak pengen ikut yah" bela nya
"Kalau nggak diajak, mana mau ikut" Andini mengomel
"Nikahin aja Bu, biar kemana aja bareng" Tiara menyindir
"Apaan kamu, nikah-nikah aja" omel Ferdi pada Tiara
"Tau nih si kakak, kak Tiara sama kak Riska aja belum nikah" Tania bangga merasa menang
"Kok aku di bawa-bawa sih dek" Riska manaikkan alisnya heran
"Biarin aja Ris, namanya juga anak kecil" Tiara tertawa
" Semenjak Eriska disini, kita seperti gantian anak ya buk" ucap Ferdi tertawa merasa lucu
"Iya ya yah, Tania di rumah Ririn, Riska di rumah kita" Ririn ikutan tertawa merasa kalau perkataan suami nya benar
"Aku kan tinggal sama Tante Silvi bukan sama Tante Ririn" Tania merasa aneh.
"Kan kalau Tante Silvi pergi, kamu sama Tante Ririn juga" ucap Tiara
"Kata papa, Rio sama Tania Nggak jadi di jodohin ya yah?" Tanya Riska, karena sering tinggal bersama, menganggap mereka juga orang tuanya sendiri, apalagi tinggal jauh dari orang tua kandung nya.
" Iya, soalnya Rio bilang gitu, kalau jodoh, tanpa di jodohin tetap jodoh katanya" jawab Ferdi santai
"Tapi kan biar lebih pasti aja yah" ucap Tiara meyakinkan. "Emang kalian nggak saling suka?" Tanya nya lagi pada Tania.
Mendengar itu Tania tiba-tiba teringat, kalau Rio yang dulu dia kenal sudah berubah, dia nggak pernah lagi merasa kalau Rio itu spesial dalam hidup nya, nggak ada bedanya sama orang lain, itu lah sebabnya dia merasa sangat kehilangan, semenjak Dimas tamat.
"Biasa aja sih ka, akur-akur aja kok" ucap nya meyakinkan mereka semua
" Bagus deh" ucap Andini senang.
***
Tania yang sudah mengantuk mengambil ponsel nya diatas malas, karena merasa berisik
Esra : besok kumpul di rumah gue, jangan pada telat
Dea : Dateng malam ini boleh nggak? Numpang tidur soal nya malas bangun kalau libur
Intan : jemput gue napa?,
Prilly : bareng gue aja yaelah
Intan : ricko jadi ikut kan?
Prilly : jadi dong
Intan : jemput gue ya, besok aja nggak usah malam ini
Dea: ya elah, manja banget sih
Intan : itu namanya hemat biaya, kan mobil bokap gue minyak nya nggak berkurang nganterin gue.
Prilly : dasar, temen sendiri kok di manfaatin
Tania : dah malam, pada mau kemana sih, heboh banget
Esra : mau liburan lah, kan Lo sendiri yang nggak mau ikutan
Tania: Rio ikut nggak?
Esra : kata Aldo belum pasti
Tania : tuh bisa tanya Aldo 😝
Dea : berisik amat sih
Prilly : tau ni orang
Intan : perasaan yang paling berisik itu elo Pril
Tania : tau tuh
Prilly : nggak berisik nggak asik.
*****
Rumah Esra tampak sudah ramai pagi ini, ricko, Prilly, Intan, dan Dea sudah kumpul. Namun belum ada tanda-tanda kalau Aldo dan yang lain akan datang.
"Tuh mereka udah Dateng" ucap Esra melihat mobil Aldo memasuki halaman rumah nya setelah menunggu sekitar setengah jam.
" Sampek berlumut gue nungguin Lo pada" Prilly sewot melihat ketiga orang itu turun dari mobil.
" Sorry guys, tadi ada urusan di cafe" Rio merasa nggak enak
" Eh siapa?" Tanya Andi melihat ricko
" Kenalin, ricko pacar gue, kmaren kan gue dah bilang ngajakin dia, gimana sih" sewot Prilly panjang lebar.
lalu mereka bertiga bergantian menyalami Ricko
"Ya udah berangkat yuk" ajak Aldo.
"Gue bareng mobil ricko aja ya" ucap Intan
"Ya udah gue juga" ucap Dea
"Mati kutu dong gue, masa sendirian di mobil Aldo, gue juga ikutan deh" sewot Esra
" Kan ada aku" ucap Aldo menarik Esra ke mobil nya
Mereka berangkat beriringan menuju danau yang tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu sekitar dua jam dan disajikan pemandangan yang sangat sejuk mereka sampai ke tepi danau yang cukup luas.
"Gue merasa ada yang ketinggalan deh" ucap Intan di sela-sela permainan mereka. Membuat semuanya yang sedang asik bermain air melihat ke arah nya.
"Oh Rio, katanya mau tinggal disana aja" ucap sambil melihat Rio hanya duduk di atas batu di bawah pohon.
" Bukan Rio maksud gue" ucap Intan kesal
"Lah trus, kita kan disini semua" tanya Dea merasa aneh
" Kok sepi?" Intan semakin bingung
" Ya sepi lah, Tania Nggak ada, biasanya kan yang buat rame gue ama dia" ucap Prilly yang tidak bersemangat karena tidak ada Tania.
"Dari pada ribut, mending foto yuk" ajak Esra
"Nggak ahk, ntar kecantikan Lo hilang, tertutupi sama kecantikan gue" Prilly berjalan ke arah Rio
"Yeee, cantikan gue juga" Esra sewot
" Masalah cewek nggak ada yang lain ya, selain rebutan paling cantik?" Andi merasa teman-teman nya pada aneh. ". Yang namanya orang kalau di lahirin jadi cewe kan cantik, kalau ganteng itu cowok" lanjut nya lagi
"Terserah deh" ucap Esra sambil mengatur kamera ponsel nya bersiap untuk ber foto.
Di sisi lain Prilly tampak serius berbicara dengan Rio.
" Lo kenapa?" Tanya Prilly melihat Rio yang tampak lesu
"Emang harus gimana?" Tanya Rio heran
" Tania butuh kepastian Rio, dia kadang merasa nggak seberuntung orang lain, kalau liat teman-teman nya jalan sama cowok" ucap Prilly to the point
"Emang harus gimana Pril?" Tanya nya heran dengan nada menekan
" Bukan berarti karna Lo yakin bakal di jodohin sama dia, Lo bisa biarin dia gitu aja" ucap Prilly sambil berjalan meninggalkan Rio.