Friendship Goals

Friendship Goals
Kembali kerumah Rio



"makanan gue udah jadi" teriak Dea datang dari dapur.


Ya hari ini mereka sengaja berkumpul di rumah Prilly, karena tidak bisa bertemu setiap hari.


"Masak apaan lu?" Tanya Intan


"Spaghetti" jawab nya Singkat.


"Ya elah, di rumah Prilly di kasi makanan instan Mulu " keluh Intan


"Syukur di kasi makan Lo, nggak tau diri amat jadi gembel" ucap Esra menarik mangkuk Dea


"Nggak usah ngambil punya gue juga dong " sewot Dea menarik kembali mangkuk nya


"Huuuh" Tania datang dan menghembuskan nafas nya kasar.


"Dari mana lu?" Tanya Dea penasaran


"Berak" jawab nya santai


"Jijik banget gue, lagi makan juga" Dea mengangkat mangkuk nya pergi.


"Lah, trus gue mau makan apa dong" ucap Esra sadar kalau Dea sudah pergi.


"Kok cuma Dea yang di kasi makan?" Tanya Tania


"Kalau mau ambil sendiri, masak sendiri, emang Lo siapa, makan aja harus di anterin" ucap Prilly yang tiba-tiba datang.


"Serem banget ni rumah, heran gue" gerutu Tania pergi.


Ternyata di dapur asisten di rumah Prilly sudah menyiapkan banyak makanan buat mereka. Tania memilih makanan yang dia suka. Dia dagang ke rumah tamu membawa nampan berisi 5 mangkuk dengan jenis makanan yang berbeda-beda.


" Woppss, babu tau diri nih, bawak in makanan buat gue" teriak Intan menyambut kedatangan Tania.


Tania mendengar itu mendadak tuli. Dia sengaja duduk di pojok ruangan menjauh dari Intan.


"Ini tempat sampah memang bisa nampung semua ya" ucap Dea menuangkan spaghetti sisa miliknya ke dalam mangkuk tania.


"Emak Lo menangis melihat ini" sewot Tania kesal.


"Kenapa?"


"Di kasi makan ampek gedek, malah nggak tau sopan santun" ucap nya kesal. Di sahuti oleh tawa mereka semua.


Setelah merasa kenyang Tania kembali duduk di depan tv dengan yang lain.


"Simpan tu mangkuk" ucap Prilly menarik baju Tania yang sedang mencari posisi ternyaman untuk rebahan.


"Besok" jawab nya singkat.


"Ntan, gue kan babu lo, itu makanan yang gue bawa tadi masih banyak sisa nya" ucap Tania


"Udah gue kira, mana mungkin Lo bisa makan sebanyak itu" Intan merasa menang dan bergegas ke pojok ruangan tempat Tania makan.


Dan jelas, yang satu mangkuk yang bersih, tiga mangkuk tidak di sentuh, dan satu mangkuk masih bersisa.


"Kalau intan mah semua nya habis" ucap Esra mendekat ke Intan.


"Bilang aja mau" ketusnya lagi


"Eh abis makan jangan lupa simpen mangkuk nya ke dapur" teriak Tania.


"Ya elah, kan tadi gue mager pergi dapur, makanya nunggin Lo ngambil. Malah di suruh balikin" ucap Intan tersadar.


"Lo abis makan udah ngemil lagi" ucap Prilly melihat Dea membuka bungkusan cemilan.


"Ya ampun, gue makan di rumah Lo, ngga buat Lo jadi miskin priiil" sahut nya penuh penekanan


Mereka melanjutkan ritual tidak jelas nya di rumah Tania hingga merasa lelah dan memilih untuk pulang.


*****


Dirumah Rio


"Riooo" teriak Ririn melihat Rio masuk kerumah.


"Ya ampun ma, kenapa sih harus teriak-teriak. Anak nya pulang bukan di sambut dengan lembut, malah di teriakin" ucap Rio sambil duduk di sofa, karena merasa lelah setelah bekerja seharian.


"Kamu kan janji mau bawa Tania ke rumah hari ini" sewot Ririn duduk di sebelah Rio.


"Hufft" Rio menghembuskan nafas nya dengan kasar. Entah alasan apalagi yang harus dia buat agar lepas dari pertanyaan Mama nya. Sedangkan hubungan nya dengan Tania saat ini sedang renggang.


"Kata Silvi dia lagi di luar negri, berarti Tania sendirian di rumah, kita harus jemput Tania sekarang" Ririn menarik Rio dengan paksa.


Mata Rio melotot melihat perlakuan Mama nya. 'bagaimana mungkin aku jemput dia bawa mama, bagaimana penilaian nya tentang aku' gumam Rio tak percaya.


Saat ini tak ada hal yang mampu dia lakukan selain mengikuti kemauan Mama nya. Dia melajukan mobil dan berhenti di depan rumah Tania.


Sementara Tania baru aja mau masuk sepulang nya dari rumah Prilly.


"Nia...." Ririn berlali langsung memeluk Tania erat.


"Tante" ucap Tania tak percaya, namun menatap Rio dengan sinis.


"Kamu ikut ya nak sama Tante, kamu kenapa?, Kok nggak pernah main kerumah tante?" Tania mendapat serangan pertanyaan dari Ririn


"Kan Tania harus magang Tante, buat laporan ke sekolah" ucap Tania mencari alasan.


"Tapi-"


"Nggak ada tapi-tapian, ayok sekarang" Ririn menarik tangan Tania.


"Iya-iya Tante, tapi Tania ngambil keperluan untuk besok dulu ya" ucap Tania


"Ya udah Tante tunggu" ucap ririn memaksa


"Tunggu di dalem aja Tan" ucap Tania


"Mau minum apa Tante?" Ucap Tania saat mereka masuk.


"Nggak usah minum, kamu ambil keperluan kita Langsung pulang" ucap Ririn dengan wajah memohon


"Ya udah, tunggu disini ya Tan, aku naik dulu" ucap Tania sembari meninggalkan ibu dan anak itu.


"Aduuuuh, gimana nih. Tante maksa aku ikut kerumah nya lagi, kan nggak enak sama Rio, apalagi nanti di tanya-tanya" Tania mengacak-acak rambut nya saat berada di kamarnya.


Mau tidak mau, Tania harus turun karena jika tidak, bukan hanya Ririn yang akan jadi masalah, semua keluarga nya juga ikut menyerang nya nanti.


"Sudah siap Tante" Tania membawa ransel nya menemui Ririn.


"Oh ya udah, kita bergi aja, Tante udah pamit kok sama bibik" ucap Ririn bahagia.


Sepanjang perjalanan rasanya sangat canggung dengan keadaan, hanya Ririn yang terlihat bersemangat. Namun walaupun begitu dalam hati Rio dia juga merasa bahagia, namun tak tahu apa yang akan terjadi setelah ini.


"Kita makan dulu ya nak, ke restoran Deket sini aja" ucap Ririn pada Rio.


Mereka berhenti di sebuah restoran, keadaan tetap sama, tak ada yang memulai pembicaraan jika bukan Ririn yang bertanya pada mereka berdua.


"Aku langsung masuk ya Tan" ucap Tania sesampainya mereka di rumah.


"Ok sayang, good night ya" ucap Ririn dengan penuh senyuman.


" Rio juga ya ma" ucap Rio dingin


"Oke" ucap Ririn yang juga tersenyum pada Rio.


Tania dan Rio beriringan naik ke lantai atas, karena kamar mereka bersebalahan. Tak ada perbincangan apapun diantara mereka. Tania masuk ke kamar nya, langsung membersihkan diri.


"Kangen banget sama kamar ini" gumam nya melihat kamar nya tidak ada yang berbeda namun ada beberapa barang yang di tambahi oleh Ririn jika merasa rindu dengan Tania, biasanya akan menghabiskan waktu di kamar Tania.


Sedangkan di kamar Rio, dia masih merasa bersalah "bahkan dia di depan gue, gue nggak berani bilang apa-apa" gumam nya sendiri.


Chat grup..


From Tania


Gue di paksa sama nyokap nya Rio, ikut kerumah dia.


From Esra


Bagus dong, sekalian kalian bisa menjelaskan apa yang terjadi, jangan diam-diaman Mulu ngga enak liat nya


From Prilly


What? Apa-apaan begitu. Ngajak Lo kerumah dia mesti pake bawa nyokap segala.


From Intan


Aku setuju sama Esra


From Tania


Bukan mau nya Rio sih Pril, tapi mau nya nyokap nya dia


From Dea


Ya udah, nikmatin aja


From Prilly


Awas aja ya, kalau si Rio buat yang macem-macem lagi


.


From Esra


@prilly aneh banget sih, Jadi temen jangan terlalu over.


From Intan


Bukan over juga sih Es, kalau bukan kita yang saling perhatian, siapa lagi yang merhatiin kita


From Dea


Ya wajar aja sih Ntan, kan dia di perhatiin sama Aldo.


From Prilly


Salah ya, kalau gue terlalu sayang sama Sabahat sendiri.


From Tania


Bukan salah Pril, aku malahan seneng kamu peduli sama aku