
Sebenarnya Tania juga tidak tau dia mau kemana, yang dia tau dia hanya ingin sendiri. Dia berjalan kearah belakang sekolah, mengingat dulu dia kenalan dengan Dimas disana. Dia sampai ke halaman asrama. Dia mengingat kalau dulu Dimas sering mengajari dia belajar, bermain gitar, dan banyak hal di tempat itu.
Dia duduk dan diam di bangku halaman depan asrama. Tiba-tiba ada orang duduk di sampingnya.
"Ternyata kamu disini, aku nyarik in kemana-mana" ucap Dimas lembut.
" Trus kok lo tau gue kesini" tanya Tania menahan kesedihannya.
"Dari Rio" jawab nya tenang
"Rio?" Tania terkejut.
Dari mana Rio tau aku disini gumam Tania.
"Iya tadi dia ngikutin kamu, mulai pisah dari yang lain" ucap Dimas sendu
"Nia, kita hanya berpisah di sekolah. Kita juga bakalan bisa ketemu lagi, kamu jangan sedih lagi ya, kan kita bisa komunikasi, bisa temenan lagi kayak biasa" ucap Dimas mengelus rambut Tania karena melihat Tania sedang menahan tangisnya.
"Gue belum siap, ini kedua kalinya gue pisah sama Lo, dan ini bukan perpisahan kayak dulu" Tania menangis
"Dulu Lo dengan tega ninggalin gue di sini sendiri, dan sekarang Lo pergi lagi, gue nggak mungkin bisa ketemu lagi sama orang kayak Lo" tangisan Tania pecah. Yang membuat Rio yang bersembunyi di belakang mereka tidak tega.
"Nia, gue nggak pernah kenal sama seorang Tania yang ngeluh, gue nggak kemana-mana, Lo masih bisa ketemu gue, lagian gue ninggallin Lo nggak sendiri, ada Rio buat Lo" ucap Dimas ikutan sedih.
Tiba-tiba Rio datang, memeluk leher Tania dari belakang.
"Kalau kamu nangis, nanti Dimas ngga bisa fokus loh ujian nya" ucap Rio lembut sambil duduk di sebelah Tania.
Tania hanya mengangguk dan melihat ke arah Rio.
"Tetap jadi kakak gue yang dulu ya" ucap nya lirih.
"Gak mau gue, dulu gue mau jadi kakak nya orang yang ceria, yang selalu happy, yang selalu berjuang, bukan kakak nya orang cengeng" ucap Dimas menarik telinga nya. Yang membuat Rio tertawa.
"Iiiihhhhhh, jahat banget sih" ucap Tania memukul dada Dimas.
" Bukan mau lihat kamu nangis-nangis" lanjut nya lagi.
"Apa an tuh?" Tanya Rio penasaran
"Wah kalung, keren banget, thanks kakak ku yang paling baik" ucap Tania nggak percaya.
"Dulu kami pernah ke mall bareng, dia ngeliatin kalung yang mirip lah, cuma aku nyarik yang sama persis nggak ada. Niat nya kmaren mau ngasi pas valentine atau waktu dia ulang tahun, tapi mama udah nyiapin yang lain duluan, aku tunda aja" jelas Dimas.
"Rugi bro, paling cuma di simpen, emang seorang Tania pernah pake aksesoris begituan, kondangan aja pake kaos" ucap Rio tertawa
"Resek banget sih kalian berdua" teriak Tania yang membuat keduanya semakin tertawa.
" Ya udah, gue mau ke kelas gue, gue titip tukang nangis ke Lo ya" ucap Dimas berdiri dan memukul pundak Rio. mengingat masih ada acara dengan teman sekelasnya.
"Aman" ucap Rio pergi.
"Semangat yaaa, jauh dari gue" teriak Tania. Dan hanya di balas oleh anggukan.
"Kelas yuk" ucap Tania sambil memasukkan kotak yang di berikan Dimas ke dalam tas nya.
"Nggak ahk, pengen berduaan" ucap Rio lagi
" Males banget berduaan sama Lo" ucap Tania hendak berdiri
"Besok gue nikahin Lo, biar tau rasa". Ucap Rio sambil menarik Tania.
"Pintar ngelawak ya sekarang" ucap Tania membuat keduanya tertawa.
"Kantin yuk laper gue" ajak Rio
" Ke kelas dulu, ngajak yang lain" jawab Tania
" Serah deh" Rio nurut, karena bosan berdebat.