
Prilly yang duduk di cabang pohon menoyor kepala Tania, sementara teman-teman nya yang memperhatikan mereka hanya tertawa.
"Di bilangin juga, ada burung nya" ketus Prilly
"Ya kan, gue cuma mau ngambil" Tania lebih ketus
"Tau ahk, turun lho, nyesel gue ngajak lho" Prilly bersandar.
"Males ahk, disini adem" ucap Tania ikutan bersandar.
"Anak gadis, main nya di atas pohon" kata seorang siswa yang sedang lewat.
"Suka gue lah, apa rugi nya sama lho" kata Tania lalu melirik kebawah ternyata yang lewat adalah Aldo bersama Rio.
"Hahaha, rasain lho" ucap Prilly dengan bangga nya
"Jangan main di panas-panas" kata Rio sambil tetap berjalan meninggalkan mereka
"Bodo ahk, main lagi yuk" ajak Tania
Merek kembali bermain, bahkan pelajaran sudah selesai, dan anak-anak yang lain sudah pulang, mereka nggak peduli kalau mereka bahan perhatian semua orang yang lewat.
Sampai akhirnya, sela mengambil bola mereka, dan dikembalikan ke guru olahraga.
Mereka duduk, dan tersadar kalau sekolah udah sepi karena udah pulang semua.
"Padahal masih seru" ucap Esra
"Tau tuh, sela nggak asik banget" ketus Intan
"Bodo ahk, gue mau balik" Tania meninggal mereka yang duduk di lapangan
Lalu semua nya beriringan kelas, untuk mengambil tas masing-masing.
Ternyata Rio sudah duduk di kelas menunggu Tania, karena keasikan main, Tania nggak dengar kalau Rio manggil.
"Ngapain disini" tanya Tania
"Mandi" jawab Rio asal.
"Air nya mana" otak Dea yang mulai tidak berfungsi
"Ahk, serah lho deh" kata Prilly sambil mengusap wajah nya
"Heran gue" ucap Dea lagi
"Bye" kata Tania sambil meninggalkan teman-teman nya dan menarik Rio keluar.
akhirnya mereka pulang, beriringan.
pagi ini weekend, mereka nggak masuk sekolah, Tante Ririn sudah berangkat keluar kota pagi-pagi tadi.
Jam menunjukkan jam 10.10 pagi tapi dia belum melihat Tania keluar, dia mengetuk pintu kamar nya tetapi nggak juga di buka.
dia berlari ke balkon, dan mencoba membuka kamar Tania lewat pintu balkon, ternyata pintunya nggak di kunci
Rio masuk, dan melihat Tania tidur pulas tapi wajah nya sangat pucat, karena demam.
Rio berlari ke luar dan memanggil salah satu ART untuk membawakan alat kompres dan juga obat.
setelah semua nya datang, Rio meminta mereka membuat kan bubur untuk sarapan Tania.
Rio mengangkat kepala Tania, dan meletakkan nya di paha nya, sambil mengompres kening nya. karena merasa ada yang berbeda, Tania pun terbangun.
"kenapa" tanya Tania hampir nggak kedengaran
"diam aja, jangan banyak gerak" kata Rio
"kmaren aku juga udah bialng, jangan main di terik matahari" sewot Rio.
Tania hanya diam. setelah sarapan nya selesai, Rio menyuapi Tania makan. lalu memberi kan obat.
Tania yang sedang tidur memutar badan nya, lalu melingkar kan tangan nya di pinggang Rio, kepalanya menghadap perut Rio. Rio hanya mengelus-elus kepala Tania dengan lembut, dan membiarkan nya tidur.
karena merasa kaki nya kram dan dia ngantuk, dia memindahkan kepala Tania ke bantal. Belum sempat dia pergi, Tania meletakkan tangan nya diatas kaki Rio, Rio yang sedang mengantuk, memperbaiki posisi nya lalu tidur di samping Tania, karena dia takut kalau Tania terbangun dan butuh apa-apa dia tidak ada.
Rio terbangun karena sudah menjelang sore, dan menghadap Tania, Tania sendiri masih tidur, dengan posisi nya di dada Rio.
"Nia, bangun yok, mandi dulu biar segar" kata Rio setelah mengecek panas nya mulai reda
"mmmhhhh" Tania memutar tubuh nya manja.
"ngapain tidur disini?" tanya Tania setelah membuka matanya
"kan tadi jagain kamu, kalau aku pergi, aku takut kamu butuh apa-apa, makanya aku nggak ninggallin kamu" ucap Rio lembut
"makasi ya" Tania tersenyum
"Tante mana?" tanya Tania
"udah berangkat tadi pagi, papa mintanya tiba-tiba, ada acara katanya" ucap Rio mengelus rambut Tania
" kamu mandi gih, biar badan nya nggak lemas" lanjut Rio
"Ok" Tania tersenyum lalu meninggalkan Rio di kasur.