
Tania berdiri di balkon depan kamar nya setelah kepulangan teman-temannya. Karena hari sudah sangat sore langit sudah tampak berubah warna menjadi kuning tua.
'senja itu indah, siapa pun yang melihat nya pasti tertarik dan nyaman. Namun senja tidak pernah lama. disaat Senja pergi semuanya menjadi gelap. Namun gelap itu akan di temani bintang-bintang.
Gumam nya sendiri
'layak nya aku, siang menggambarkan aku dengan kehidupan sebelum bertemu Rio. Senja adalah kebahagiaan saat bersama Rio, sangat indah, namun sesaat. Dan bintang ada lah sahabat ku yang aku sadari saat Rio tidak ada"
Gumam nya lagi tanpa terasa airmata mengalir di pipinya.
"Nia....." Panggil seseorang dari kamar nya
"Ngapain balik lagi? Minggat?" Tanya nya heran saat melihat Prilly ada di kamar nya dengan membawa barang-barang nya.
"Ortu gue ada urusan keluar kota, gue mau numpang soalnya kan Lo jugak ngga ada temen" ucap nya santai sambil merebahkan diri nya di kasur.
"Kenapa harus kerumah gue, rumah Intan Deket, rumah mertua Lo juga Deket" tanya nya menaikkan alisnya.
"Ya gue dah bilang, Lo kan juga nggak punya temen, makanya gue kesini, kalau ke rumah Ricko entar gue khilaf" jawab nya sambil tertawa
"Gaje Lo"
"Gue numpang mandi ya, baju mana? Gue nggak bawa baju nih" ucap nya sambil membuka lemari Tania
"Serah, carik aja sendiri" ucap nya meninggalkan Prilly di dalam kamar nya.
Yah begitu lah, suatu hal yang tidak bisa di paksakan. Oranglain merasa nyaman saat berada di rumah nya menjadi salah satu kebahagiaan tersendiri baginya. karena tidak semua orang nyaman dengan kita. demikian sebalik nya, kita tidak mungkin bisa nyaman dengan semua orang.
"Kita senasib ya Ni, punya orang tua rasa yatim" Prilly menemui Tania setelah keluar dari kamar mandi.
"Lo aja yang Yatim, gue belum sanggup" ucap nya sambil tertawa mengejek
"Lo pikir gue sanggup?"
Tania hanya tertawa mendengar ucapan sahabat nya itu.
"Makan di luar yuks" ajak Tania
" Ya udah ahk, gue mau masuk" Tania meninggalkan Prilly di balkon
******
"Adek' Lo nggak jadi pindah kesini?" Tanya Prilly saat mereka hendak tidur
"Dia kan masih mau tamat SMP, nanti baru masuk ke sekolah kita"
"Oohh, ya udah gue mau tidur, jangan Deket-deket" ucap nya sambil membalikkan Badan membelakangi Tania.
"Kalau nggak mau Deket, tidur di kamar tamu gih"
"Maaf, gue nggak merasa sebagai tamu" ucap nya menekan
Tania tidak menjawab perkataan sahabat nya itu, kerena percuma, di jawab juga hanya menang di dia.
"Nia, Rio nggak kesini?" Ucap nya membalik kan badan ke arah Tania.
"Mau ngapain kesini, kan bukan rumah emak dia" jawab nya santai
"Minta maaf kek, nganterin mie ayam kek, seblak kek, apa kek" gerutu nya panjang lebar
" Ricko itu ya, kalau gue ngambek ada aja yang dianterin kerumah, kadang kalau gue laper, gue jadi ngambek biar di anterin bakso" ucap nya panjang lebar.
"Prilly plis, Rio bukan Ricko, dan Ricko adalah ricko. Rio tidak bisa berubah menjadi ricko" ucap nya tak kalah panjang.
"Ya udah sih, nggak usah nge gas" Prilly membalas dengan tatapan sinis nya.
"Pril lo mau dengar suatu fakta nggak?" Tanya Tania setelah beberapa saat mereka terdiam
"Paan?"
"Kalau gue itu lebih cantik dari Lo" ucap nya lagi sambil menahan tawa nya