Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 8



Sudah beberapa hari Dira menjadi pengasuh Reyhan di rumah itu dan hari ini ia memiliki jam kuliah sehingga untuk beberapa jam ke depan ia tidak akan bersama Reyhan.


Saat ini masih jam 6 pagi ia bermaksud mengurusi Reyhan pagi itu juga karena dua jam lagi ia harus berangkat kuliah.


Saat ini dengan santainya Dira membuka pintu kamar Reyhan ia mengira pria itu belum bangun dari tidurnya.


Cklek! Pintu kamar terbuka.


"Aaaa!!" Dira berteriak karena ulahnya sendiri saat ini Dira melihat Reyhan hanya mengenakan boxer bahkan perban di matanya pun tidak ada tampaknya ia habis mandi sedangkan Reyhan juga nampak terkejut karena ulah Dira.


Brakk!!


Pintu itu tertutup dengan kasar muka Dira memerah sempurna saat ini ia meringsut di depan pintu itu karena terkejut mendapati Reyhan seperti itu.


Cklek!!


Pintu terbuka dan membuat Dira hampir terjungkal.


"Bos pakai bajumu dulu," kata Dira menutup wajahnya.


Kemudian Reyhan memegang kerah baju Dira bagian belakang kemudian menyeret Dira masuk ke kamarnya.


"Bos, lepaskan aku! Pakai baju bos dulu," kata Dira sambil meronta namun tidak ada daya dan terus di seret Reyhan masuk ke dalam kamar itu dan akhirnya pintunya tertutup.


"Aaaaa!!!" teriak Dira dan membuat pelayan yang lewat di lantai satu rumah itu menengok ke atas.


.


.


.


Dira dengan raut kesal memilah baju yang akan di kenakan oleh Reyhan dengan wajah yang masih memerah.


Reyhan juga begitu saat ini ia melipat kedua tangannya sambil duduk di atas kasur kamarnya tetapi saat ini tubuhnya di tutupi oleh selimut tebal.


"Dira cepat sebelum aku membuka selimut ini," kata Reyhan datar.


Sebenarnya Reyhan begitu kesal karena ulah Dira, sebelumnya tidak ada gadis yang pernah melihat Reyhan hampir tidak berbusana selain bundanya tetapi entah mengapa ia tidak bisa marah dengan gadis itu dan malah mengerjainya untuk memilahkan pakaiannya padahal ia bisa sendiri.


Biar pun banyak pengasuh yang telah mengurusnya namun tidak ada satupun dari mereka yang pernah melihat Reyhan tidak menggunakan pakaian seperti itu.


"I-iya bos sebentar," kata Dira gugup karena pertamakalinya ia memilahkan baju untuk Reyhan bahkan Reyhan adalah pria yang pertamakali Dira urusi seperti suaminya sendiri, biasanya melakukan semuanya sendiri kalau soal pakaian.


Dan tentu saja Dira tidak pernah terpikir melakukan hal tersebut.


Saat Dira di seret Reyhan masuk ke kamarnya Dira langsung mendapat perintah terbaru dari Reyhan.


Karena ia sudah melihat tubuh Reyhan yang tidak mengenakan pakaian mulai sekarang ia akan menjadi pengurus yang benar-benar akan mengurus seluruh keperluan Reyhan termasuk memilahkan pakaiannya.


Awalnya Dira menolak namun Reyhan tampaknya mengancam dirinya saat itu juga jika ia tidak menuruti permintaan bosnya itu dan membuat Dira hanya menelan ludahnya pahit.


Reyhan mengancam Dira, ia akan menciumnya jika Dira tidak menuruti perintahnya dan akhirnya Dira hanya meringsut pasrah mengiyakan.


Padahal saat itu Reyhan hanya bercanda, biasanya tidak ada gadis yang pernah menolaknya jika ingin di cium dirinya dan biasanya malah para gadis itu menyerahkan dirinya pada Reyhan, tapi Dira berbeda lebih baik ia mati daripada harus menyerahkan diri pada seorang pria yang bukan siapa-siapanya.


Tentu saja itu semua hanya sebuah tes untuk para gadis-gadis itu, tentu saja hal itu merupakan tes juga untuk Dira apakah di sama seperti gadis lainnya tetapi nyatanya berbeda dan setelah itu para gadis-gadis itu tidak ada yang benaran di cium dirinya oleh Reyhan.


Entah karena apa, di tolak untuk pertamakalinya atau ada alasan tertentu Reyhan tidak menyukai penolakan Dira barusan.


Sedangkan Dira ia tidak akan terima ciuman pertamanya itu di ambil oleh Reyhan menurut Dira siapapun yang menciumnya kelak harus menjadi pasangan hidupnya.


Hal itu tentu saja membuat Reyhan penasaran dengan Dira. Ia merasa gadis itu takut ketika bersama dirinya, bukan hanya sekedar panik dari detak jantungnya tapi juga dengan tangan gadis itu yang selalu dingin bila Reyhan tidak sengaja menyentuh tangannya.


Seandainya Dira tahu rencana Reyhan yang sebenarnya hanya main-main dan melakukan tes, pasti ia akan langsung mencaci-maki pria itu. Meskipun hanya main-main tetap saja Dira tidak menyukainya.


.


.


.


"Ini bos bajunya." Dira menaruh pakaian Reyhan di pangkuannya.


"Bantu saya memakainya juga." pinta Reyhan.


"Oh ayolah bos, boskan bisa pakai sendiri, boskan udah gede." Dira akhirnya merengek.


"Berani ngelawan perintah," ancam Reyhan dengan nada memaksa.


"Oke baiklah bos," akhirnya Dira pasrah dengan kenyataan dan sekarang ia berharap ini semua cuma salah satu mimpi buruknya dan mencubit lengannya tapi semuanya merupakan sebuah kenyataan yang sedang benar-benar terjadi.


Wajah Dira memerah saat membantu bosnya itu menggunakan pakaiannya ia menyesali telah memasuki kamar itu  tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Sudah terlanjur mau di apa. Dira membantin.


"Bisa kamu bantu aku memperban mataku." pinta Reyhan kali ini tampak ia tulus meminta tidak seperti tadi begitu memaksa dan Dira hanya bisa mengiyakan permintaan Reyhan, ia tidak tega.


Saat ini wajah Reyhan tanpa perban bagi Dira begitu tampan di tambah lagi saat ini Dira berharap Reyhan membuka matanya yang selalu ia tutup itu.


"Perbannya ada di dalam laci nomor dua." Reyhan menunjuk laci yang berada di sebelah ranjangnya sambil memandang lurus ia sudah hafal betul dengan isi kamarnya itu.


Dira membukanya dan kemudian membantu Reyhan memerban matanya lebih tepatnya Diralah yang melakukannya ia melakukannya dengan tulus, hati-hati dan lembut.


Setelah selesai ia meminta izin pada Reyhan.


"Bos, maksud aku hari ini datang pagi-pagi ke kamar bos, aku mau minta izin pergi kuliah, hari ini ada mata pelajaran kuliahku," kata Dira menjelaskan.


"Jadi bos, kamu bisa minta sekarang apa yang kamu butuhkan sama aku, sebelum aku berangkat." ucap Dira.


"Bisa kamu ambilkan topiku di dalam lemari," kata Reyhan.


"Untuk apa?" tanya Dira.


"Tadi kamu tanya aku butuh apa, itu aja yang aku perlukan sekarang." jelas Reyhan.


"Memang bos mau kemana?" tanya Dira.


"Dira gak usah banyak tanya, turuti aja perintahku,"  kata Reyhan dan Dira mengangguk kemudian mencarikan Reyhan sebuah topi dan akhirnya menemukan sebuah topi yang cocok  dengan pakaian yang Reyhan kenakan yaitu warna hitam.


Reyhan menaruh rambut hitamnya yang cukup panjang di depan wajahnya sehingga separuh wajahnya tertutup oleh rambut itu tujuan ia melakukan itu agar menutupi perban yang menutupi matanya.


Kemudian Dira memberikan topi yang di carikannya pada Reyhan dan setelah menerimanya Reyhan langsung mengenakannya.


Saat melihat penampilan Reyhan seperti itu Dira langsung kagum karena sekarang ia terlihat seperti pria yang tidak buta dan walaupun hanya separuh wajahnya yang terlihat dia tetap terlihat tampan di mata Dira.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 dan saatnya sarapan pagi, Reyhan tidak ingin makan di ruang makan dan tentu saja Dira harus menyiapkan sarapan Reyhan dan membawa ke kamarnya.


Saat ini Dira membawa dua gelas susu dan dua pasang roti tawar yang sudah di beri selai awalnya Dira hanya mengambilkan untuk Reyhan saja tetapi bunda dan ayah Reyhan menyuruhnya untuk mengambil bagian sarapannya juga kemudian Dira hanya menurutinya.


Dira memberikan satu pasang roti tawar kepada Reyhan dan satunya lagi untuk dirinya.


Setelah selesai sarapan Dira membersihkan seluruh bekas makanan yang berada di kamar itu dan membawanya kedapur.


Setelah selesai Dira ingin berpamitan pada Reyhan untuk berangkat kuliah.


Ternyata saat menuju kamar Reyhan untuk berpamitan kebetulan Reyhan menuruni tangga.


"Bos aku izin pergi kuliah dulu yah," Dira sudah bersiap-siap pergi.


"Dira hari ini aku akan ikut mengantarmu kuliah," kata Reyhan datar dan membuat Dira melongo bingung.


"Hee?!" satu kata yang menyatakan Dira yang kebingungan serta keterkejutannya dan heran pada bosnya itu yang mau-maunya mengantar dirinya pergi kuliah padahal saat ini ia berencana untuk pergi sendiri.


Bersambung...