Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 24



Tetapi tampaknya Reyhan ingin lepas kendali, kekuatannya tidak terkontrol aura hitam menguar dari tubuhnya.


Dira yang merasa suasana telah berubah dengan langkah tertatih dan sekuat tenaga berdiri awalnya ia terjatuh tetapi ia berusaha bangkit dan akhirnya berhasil berlari dan menerjang Reyhan dalam pelukannya.


Kehangatan terasa mengalir ketubuh Reyhan.


"Reyhan sadarlah," kata Dira memeluk Reyhan erat.


"Sadarlah," kata Dira kemudian Reyhan mulai bisa mengendalikan dirinya kembali.


Dira melemas tenaganya habis Reyhan membalas pelukan Dira akhirnya Dira merosot jatuh di pangkuan Reyhan, Dira menangis.


"Reyhan kamu jangan begitu lagi, aku takut," kata Dira.


"Dira aku juga takut rasanya gelap dan dingin, aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, Dira terimakasih kau telah memberikanku kehangatan yang tulus," kata Reyhan.


"Dira tetaplah disisiku," kata Reyhan mengeratkan pelukannya.


Dira masih di pelukan Reyhan sambil mengangguk mengiyakan, ia merasa begitu lemas akibat pertarungan itu.


"Terimakasih," gumam Reyhan.


Tiba-tiba berang-berang yang di tolong mereka datang seolah-olah menggoda ia berteriak-teriak riang melihat Dira dan Reyhan yang sedang berpelukan.


Wajah kedua orang itu memerah, sedangkan berang-berang itu berguling-guling imut di rumput di hutan itu.


Mereka menghentikan adegan peluk-pelukan mereka.


"Dira kamu gak papa?" tanya Reyhan dan Dira mengeleng.


"Aku tidak akan apa-apa selama ada di sisimu," kata Dira sambil tersenyum.


"Tapi," kata Dira murung kemudian memegang pergelangan tangan Reyhan.


"Shht," ringis pria itu.


"Pasti kau akan sering terluka," kata Dira kemudian membalut luka Reyhan.


"Karena melindungiku." lanjut Dira pandangan wajahnya menyendu ia tidak tega melihat Reyhan yang terus-terusan terluka karena melindungi dirinya tidak lama air matanya menetes, ia menangis lagi merasa bersalah pria itu terluka karena dirinya.


"Dira, kamu adalah diriku yang lain jika kamu terluka berarti diriku yang terluka, maka dari itu jagalah dirimu baik-baik," kata Reyhan menghapus air mata Dira.


"Reyhan karena bagimu aku dirimu yang lain maka kamu juga diriku yang lain maka dari itu jaga juga dirimu baik-baik dan jangan terluka terus-terusan karena aku. Terimakasih kamu telah mau mencintai dan menyayangiku apa adanya," kata Dira, Reyhan tersenyum penuh arti.


.


.


.


Cukup sudah penderitaan mereka selama beberapa tahun terpisah, rasa sepinya hati.


Rasa sakit yang mereka derita akibat memikirkan apakah orang yang mereka sayang baik-baik saja.


Dan deraian air mata kesedihan yang terus mengalir. Akhirnya terobati, saat ini mereka bisa merasakan kembali kehangatan yang telah lama hilang.


Meskipun pertemuan mereka di dunia nyata cukup singkat, tetapi cinta mereka begitu besar mengalahkan pertemuan mereka yang singkat itu dan membuat mereka bisa saling melengkapi.


"Kalau begitu, beri aku kecupan kasih sayang," kata Reyhan berkata manja membuat mood Dira berubah drastis malu juga jengkel karena gaya Reyhan yang kekanak-kanakan saat bersama Dira.


"Oke, tutup matamu." ucap Dira dan Reyhan mengikuti perintah, Dira tersenyum jahil.


Kemudian ia melepas sepatu yang ia gunakan dan menaruhnya di kedua pipi Reyhan.


"Cium ini pria mesum," kata Dira gemas pada Reyhan kemudian Reyhan membuka matanya.


"Teganya," kata Reyhan terdengar menggemaskan sedangkan berang-berang yang mereka temukan hanya menonton aksi mereka yang terbilang sudah tidak romantis itu.


"Kamu memang gak sayang aku?" tanya Reyhan manja.


Dari dulu sampai sekarang Dira tidak sanggup melihat senyum Reyhan yang menawan, wajahnya tambah memerah sekarang.


"Dira kamu kenapa?" Reyhan bingung melihat wajah Dira yang merah padam, Dira menunduk malu.


"Oh aku tahu," kata Reyhan mulai menebak.


"Kamu gak sanggup yah liat senyumanku yang mempesona," kata Reyhan dengan tebakan yang tepat dan membuat Dira menutup wajahnya yang memerah.


"Kamu malu?" tanya Reyhan menggoda.


"Nggak," bantah Dira.


"Kalau gitu tatap mata aku dong," goda Reyhan.


Dira tidak mau melihat mata Reyhan karena memang saat ini dirinya tengah berbohong.


"Iya aku terpesona sama kamu. Jadi, sebaiknya kamu berhentilah sekarang menggodaku." akhirnya Dira mengaku, Reyhan tersenyum penuh arti.


Reyhan tidak mau berhenti dan terus menggoda Dira sehingga pada akhirnya gadis itu salah tingkah dibuatnya.


"Reyhan cukup!!!" teriak Dira kesal pada akhirnya sedangkan berang-berang yang mengikuti mereka langsung mengangkat wajah kaget kemudian mengeluarkan suara khasnya.


Reyhan akhirnya menghentikan perbuatannya sambil mengelus-elus kepalanya yang terasa berdenyut akibat di jitak Dira.


Dira mulai mengobati luka-luka yang di derita hewan itu karena menolongnya, tentunya setelah mengobati luka-luka Reyhan. Ia tidak mungkin melakukan hal lain sebelum Reyhan dulu yang ia urus.


"Reyhan bisakah aku bertanya," kata Dira.


"Tanyalah aku akan menjawabnya," kata Reyhan.


"Bagaimana kamu bisa lepas dari genggaman Demon Sriver?" Tanya Dira. Dan tanpa basa-basi Reyhan menjelaskan.


"Semejak aku di culik, aku memang sangat amat dipenuhi oleh kebencian. Apalagi ketika mendengar dirimu saat itu telah mati," kata Reyhan mulai bercerita.


Sampai sebegitu marahnya kah ia saat itu. Batin Dira menatap Reyhan, ia tidak percaya akibat dirinya yang terluka bisa merubah pria itu menjadi seorang yang jahat.


"Aku saat itu benar-benar dipenuhi oleh dendam dan kegelapan. Yang aku ingin lakukan hanyalah membunuh dan membunuh. Demon sriver sempat hampir menguasai diriku sepenuhnya." Ucap Reyhan masih bercerita.


"Aku di ajarkan menjadi mesin pembunuh Demon sriver, aku membunuh tanpa ampun. Ketika ada Sriver atau siluman yang membuatku marah aku akan menghabisi mereka semua dalam sekejap mata." Kata Reyhan.


"Aku di ajarkan bertarung dan cara menggunakan kekuatanku. Sampai akhirnya aku bisa bertarung seperti sekarang. Tapi dibawah kendali Demon sriver itu sendiri, aku tidak bisa berkutik dan apapun yang ia perintahkan akan selalu aku turuti." Ucap Reyhan menjelaskan, mengingat hal itu ia menyentuh kepalanya frustasi.


"Jadi apa yang akhirnya membuatmu lepas dari genggaman Demon sriver padahal saat itu ia menguasaimu dan mengendalikanmu?" Tanya Dira.


"Aku mulai sadar saat ia membunuh seorang manusia di hadapanku, saat itu ia berkata kepadaku 'Inilah tugas yang akan kau lakukan, membunuh manusia karena kau seorang curses,' katanya saat itu yang benar-benar hampir mencuci otakku."


"Lalu ia berkata lagi, 'Bunuhlah manusia, karena orang yang kamu sayangi sudah tidak ada di antara mereka. Tidak ada lagi manusia yang perduli padamu karena dia sudah mati.' Dia tidak menyadari perkataannya itu justru membuatku tersadar akan satu hal, aku bukan harus menghabisi manusia. Tapi yang aku harus habisi itu adalah dirinya. Aku menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar bisa lepas dari genggaman makhluk itu."


"Dan tibalah waktunya, saat itu ia memerintahkanku untuk membunuh manusia yang telah datang ke dunia ini. Bukannya membunuh, aku malah menyerang Demon sriver dan berhasil melarikan diri. Aku memang masih dalam kendali Demon sriver saat itu, setengah diriku masih mengikuti perintahnya."


"Tapi aku teringat akan janjiku padamu untuk selalu bertahan hidup karena aku yakin di dunia kita kau masih hidup Dira, aku juga yakin kamu akan menepati janjimu. Jika aku menyerahkan seluruh akalku, aku akan mati dan itu adalah akhir bagi dunia ini. Dira saat itu kau lah yang menyelamatkanku. Hingga saat ini aku bisa terlepas dari jeratan Demon sriver itu berkat kamu yang selalu ada di hatiku," kata Reyhan.


"Jadi apa yang terjadi dengan manusia yang kamu selamatkan?" Tanya Dira dan Reyhan menggeleng.


"Aku tidak tahu Dira, orang itu pergi begitu saja dariku mungkin ia merasa terancam karena diriku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan orang itu aku sedang melawan diriku sendiri yang setengah sadar untuk tidak membunuh. Ia berhasil kabur dan aku terlepas dari jeratan Demon Sriver," kata Reyhan.


"Reyhan," gumam Dira ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, Dira tidak tahu seberapa beratnya ia menanggung beban kutukan yang ia miliki.


Untuk mencairkan suasana Reyhan memberanikan diri memegang berang-berang itu, kemudian setelah mengelusnya Reyhan malah ketagihan untuk mengelusnya.


"Dira, bulunya lembut." ucap Reyhan terus-terusan mengelus binatang itu.


"Baru tahu kamu," kata Dira tersenyum menanggapinya.


Bersambung...