Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 30



Di sebuah pondok kosong,


"Sudah tiga hari gadis ini tidak sadar-sadar, apa dia baik-baik saja?" tanya Alna pada Atan.


"Keadaannya sudah cukup membaik, luka-lukanya juga sudah hampir pulih. Mungkin dia akan bangun sebentar lagi." jelas Atan pada Alna.


"Kakak, aku ingin jadi penyihir sepertimu kau begitu ahli dalam segala hal," kata Alna kagum pada Atan.


"Jika kau berusaha dan berjuang keras pasti cita-citamu itu akan tercapai," kata Atan sambil tersenyum.


Atan dan Alna adalah penyihir pengembara, tujuan utama mereka adalah mengalahkan sang Demon Sriver. Mereka berdua mencari berbagai macam ilmu dalam pengembaraan mereka. Mereka berdua bukanlah saudara, tapi mereka memiliki ikatan sama seperti saudara.


Atan memerhatikan langit yang telah menggelap, tampaknya ia mempunyai firasat yang buruk akan hal itu.


"Kekuatan gelap tampaknya telah menyebar, apa yang akan terjadi pada dunia ini?" tanya Atan pada dirinya sendiri, membayangkan hal-hal buruk.


"Kakak ada apa?" tanya Alna dan kaget saat menatap langit, saat ini ia merasakan aura kegelapan yang begitu pekat di sekitar.


"Kebencian sekarang terasa begitu kuat," kata Alna, karena keahliannya adalah merasakan aura yang ada di sekitar ia begitu terpengaruh oleh keadaan itu sampai-sampai badannya terasa merinding bahkan ia sampai memeluk dirinya sendiri.


"Alna sebaiknya kamu masuk ke dalam dan jaga gadis itu," pinta Atan.


"Umm," Alna mengangguk.


Saat ini Alna memandangi gadis yang tengah tertidur lelap itu.


"Kapan kau bangun, kita harus pergi dari tempat ini. Kebencian telah menyebar," kata Alna mengajak sang gadis yang tertidur lelap berbicara.


"Aku berharap, semoga saja ada seseorang yang bisa menghalau kehancuran pada dunia ini, seseorang yang bisa melawan kekejaman kekuatan hitam curses," gumam Alna berharap.


Tidak lama kemudian salah satu jari gadis itu bergerak, Alna tersenyum senang melihatnya.


"Kakak! Kakak! Tampaknya gadis itu akan sadar," teriak Alna girang, akan kesadaran gadis yang tidak di kenalnya itu.


"Benarkah?" tanya Atan, kemudian ingin mengecek keadaan gadis itu.


Alna terlihat begitu senang.


"Alna kau tidak seperti biasanya, kenapa kau begitu bahagia saat gadis ini akan sadar? Dari banyaknya orang yang sudah kita tolong hanya gadis ini yang membuat kau bahagia seperti ini," kata Atan bertanya.


"Entahlah kak, mungkin dia adalah manusia wanita pertama yang aku temui, aku merasa sekarang memiliki teman." jelas Alna.


"Alna, apakah kau tidak berpikir dia akan meninggalkan kita setelah dia sadar?" tanya Atan dan Alna menggeleng.


"Tidak kak dia bukan gadis seperti itu, mungkin sekarang kita akan terus berjuang bersamanya." jelas Alna.


"Dan lagi aku merasa, ketika bersamanya kita bisa berharap banyak padanya." jelas Alna.


"Tapi dia hanya manusia biasa, yang ada dialah yang akan bergantung pada kita," kata Atan mengeluarkan pendapatnya.


"Entahlah kak, firasatku mengatakan dia bukan gadis seperti itu, tapi tetap saja kita harus melihat kedepannya." jelas Alna lagi.


"Baiklah, aku percaya padamu Alna." kata Atan.


"Kakak, apakah kakak masih takut pada wanita?" tanya Alna.


"Hah?!" kaget Atan ada keringat yang keluar dari pelipisnya.


"Yah, aku masih trauma pada mereka tapi kau pengecualian, kau itu seperti adik bagiku." kata Atan tersenyum.


Atan adalah seorang pria yang mudah menarik perhatian wanita, hampir semua gadis tertarik oleh pesonanya, auranya yang begitu hangat dan cerah membuatnya semakin menarik.


Tapi ia memiliki trauma berat pada wanita, ketika ia masih kecil ia hampir di bunuh oleh bibinya sendiri, semejak kecil Atan sudah yatim piatu.


Dan yang merawatnya adalah bibinya, setiap hari ia disiksa oleh kekerasan dan akhirnya ia hampir di bunuh tetapi ia berhasil melarikan diri dan hasilnya sekarang adalah ia memiliki trauma mendalam pada para wanita.


Sedangkan kisah pertemuannya dengan Alna adalah lima tahun yang lalu, saat itu ia menemukan Alna kecil yang menangis tersedu di sebuah desa yang telah hancur lebur, tampaknya hanya dialah yang selamat dalam insiden itu.


Atan membawanya dan mengobati lukanya, awalnya Atan ingin meninggalkan Alna ketika gadis itu telah sembuh. Tetapi sebuah insiden membuat Atan tetap terus bersama dengan Alna.


Alna, memiliki kemampuan dapat merasakan aura di sekitarnya, saat itu Atan mempercayai seorang penjahat yang ia kira baik. Karena Alna adalah seorang wanita, penjelasan Alna pada Atan hanyalah di anggap angin lalu olehnya.


Atan saat itu tersudutkan oleh sang penjahat, tapi Alna datang hampir mengorbankan nyawanya untuk Atan.


Alna adalah gadis pertama yang pernah membela Atan dan itu begitu menyentuh hatinya, saat itu Alna hampir sekarat.


Tapi ucapan terimakasih Alna pada Atan dan pernyataan balas budi atas segala sesuatu yang telah Atan lakukan padanya, membuat Atan semakin kuat dan akhirnya kekuatan yang terpendam di diri Atan bangkit.


Akhirnya setelah kejadian itu, mereka berdua menjadi rekan yang saling mempercayai satu sama lain.


"Kakak, kalo kakak trauma pada wanita. Kakak anggap saja aku ini bukan wanita," kata Alna polos saat itu, ia begitu menginginkan Atan mengakuinya.


"Bagiku kau tetaplah wanita, tapi kau itu pengecualian dari yang lain, karena saat ini kau adalah adikku," kata Atan akhirnya mengakui keberadaan Alna.


.


.


.


Gadis yang mereka tolong akhirnya membuka matanya walaupun secara perlahan, mata sayu gadis itu akhirnya terlihat.


Tapi ada satu permasalahan selama beberapa saat gadis itu tersadar ia tidak pernah berbicara sama sekali, Atan dan Alna kebingungan. Memaksanya bicara pun percuma, ia tetap bungkam.


Alna dapat menebak gadis itu saat ini begitu terpukul akan sesuatu hal tapi ia tidak tahu pasti apa penyebabnya, saat Atan akan melakukan hipnotisnya agar gadis itu berbicara. Ternyata sihir seperti itu tidak ada pengaruhnya baginya, ada sesuatu yang melindungi dirinya. Dan mereka tahu gadis itu bukan orang biasa.


Akhirnya mau tidak mau Atan dan Alna menunggu, gadis itu mau berbicara pada mereka. Karena Alna yakin gadis itu adalah gadis yang baik, buktinya Alna yang selalu mengajaknya berbicara walaupun ia tidak menanggapi, tapi Alna tahu gadis itu mendengarkannya. Karena sesekali gadis itu menoleh ke arah Alna ketika ia berbicara.


Dan ketika Alna menyentuhnya, gadis itu tampak seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi ia tidak tau harus berkata apa.


Dan lagi ia selalu menghabiskan makanan yang di sediakan Alna tanpa menyisakannya sedikit pun.


Akhirnya Alna bertekad bersabar untuk menunggu gadis itu mau bicara padanya.


"Namaku Alna dan lelaki yang duduk disana, dia Atan. Menurutmu dia tampankan? Tapi sayang dia takut pada wanita kecuali aku, padahal aku ingin dia terlihat akrab dengan wanita karena dia kakakku." jelas Alna, tapi gadis itu hanya menatap pria itu kosong ia membayangkan orang lain.


"Jika kau sudah bisa menceritakannya, kau bisa menceritakannya padaku. Karena aku tidak sabar untuk mendengarkan ceritamu," kata Alna tersenyum pada gadis itu.


"Reyhan," gumamnya gadis itu lirih sambil menatap Atan.


Bersambung...