Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 17



Beberapa tahun kemudian...


Di Arzahitonia.


Trang!


Cring!


Prang!


Suara pedang beradu saat ini seorang pria berjubah bertarung dengan siluman lipan raksasa.


Bast!


Akhirnya siluman itu terpotong dan menjadi debu terlihat bahwa yang membunuh makhluk itu adalah seorang yang mengenakan jubah yang hanya menampilkan kedua bola matanya dan mata pria itu berwarna oranye, tampak mata pria itu berkilat kemudian pedang yang ia pegang menghilang secara ajaib, ia melesat bagai kilat dan tiba-tiba menghilang entah kemana.


Dunia Manusia, Bumi.


Seorang gadis berambut panjang sepinggang, berkulit putih, mata berwarna hitam dan memiliki sebuah tanda bintang di telapak tangan kanannya sedang berjalan sendirian.


Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai berkibar di tiup angin namun wajahnya tidak menampakkan ekspresi sama sekali.


Ia sedang membawa barang belanjaan dan memasuki daerah rumahnya, sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya tetapi ia tidak ingin ambil pusing dan lebih memilih tidak menghiraukannya.


Nadira nama gadis itu ia tinggal sendiri di sebuah kompleks sunyi sejak beberapa bulan yang lalu berpisah jauh dari orang tuanya dan mencari kerja paruh waktu, ia tahu saat ini dirinya tidak aman.


Ia sering merasakan dan hampir celaka akibat ulah makhluk yang dapat mengendalikan aura hitam itu, demi menjaga keluarganya ia pergi dan tidak ingin melibatkan keluarganya.


Orangtuanya awalnya melarang tetapi Dira sudah tidak bisa di hadang lagi, Dira dia sangat menyayangi orangtuanya lebih dari nyawanya sendiri. Oleh sebab itu, ia menjauhi keluarganya demi keamanan keluarganya. Saat ia masuk di dalam rumahnya ia buru-buru menutup pintu rumahnya.


Brak!


Suara pintu di dobrak Dira tidak begitu kaget kemudian ia bersembunyi di samping lemari entah mengapa tanda bintang ditangannya memanas.


"Shh," ringisnya pelan sambil menggenggam tangannya.


"Gadis kecil kau ada dimana? Kau tidak akan bisa bersembunyi dariku, tinggal kau orang terakhir yang perlu aku habisi," kata suara seorang wanita Dira merapatkan dirinya di dinding di samping lemari pakaian di kamarnya, ia tersentak kaget ia baru menyadari semua orang yang selamat telah di habisi oleh makhluk itu.


Brak!


Lagi-lagi pintu di dobrak kali ini pintu kamar Dira yang terbuka secara paksa.


"Hei, keluarlah percuma kau sembunyi aku akan menemukanmu!" ucap wanita itu dingin.


Dira di tempat persembunyiannya memegang sebuah tongkat yang ada di situ.


Ketika wanita berjubah itu muncul di hadapannya ia langsung mengayunkan tongkatnya kemudian mendorongnya kuat.


Saat akan memukul wanita itu lagi Dira tiba-tiba langsung terpental dan menghantam dinding begitu saja.


Bruk!


"Argh!" rintih Dira.


"Berani-beraninya kau padaku! Percuma saja kau melawan gadis kecil," bentak wanita itu geram kemudian membuka tudung jubahnya dan memperlihatkan wajah yang tidak asing bagi Dira.


"Cih! Rupanya kau masih ingat denganku." ucapnya sambil meludah, karena saat Dira memukulnya tadi tepat mengenai wajahnya dan membuat wajah cantik itu membiru seketika dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Kau telah melukai wajahku yang cantik ini, kalau begitu akan ku hancurkan wajahmu itu sebelum kubunuh kau," kata Ilsa menghadap kaca dan menatap wajahnya yang terluka, aura hitam keluar dari telapak tangannya dan membuat Dira terhempas ke dinding dan kali ini dengan tubuh yang melayang. Sakit itu lah yang Dira rasakan, tapi dia tidak ingin merasakan  sakit itu sekarang dan memilih melawan wanita itu.


Ketika akan menghantam Dira dengan kekuatannya untuk menghancurkan wajah Dira, Dira teringat sesuatu ketika melihat kaca yang berada di sampingnya entah berhasil atau tidak rencananya itu bagi Dira sekarang tidak salah untuk mencoba, tepat saat kekuatan itu akan menghantam Dira kaca yang ia lihat barusan ia ambil dan ia taruh dihadapannya. Dan kekuatan itu terpental kembali ke pengirimnya namun kaca itu pecah dan menggores pipi Dira.


Dira bersyukur rencananya berhasil dan ingin lari dari tempat itu namun pintu kamar Dira malah tertutup dan Dira tidak bisa membukanya.


"Mau kemana kau bocah, kau telah menghancurkan wajahku kau harus bertanggung jawab!!" suara Ilsa berubah menjadi parau dan kukunya berubah memanjang, matanya berubah merah dan sekarang ia berubah menjadi monster yang mengerikan.


Dira hanya menelan ludahnya, ia takut tetapi ia bahkan tidak bisa mengekspresikan rasa takutnya itu bahkan berteriak pun ia tidak bertenaga, baginya saat ini tidak ada waktu untuk takut, Ilsa yang berubah menjadi monster itu mengeluarkan kekuatannya menyerang Dira.


Kemudian dengan berani Dira mendobrak jendela kamarnya dan berhasil keluar dari kamar itu yang sekarang mengalami ledakan, ia ingin meminta tolong pada warga sekitar tetapi hal itu bagi Dira malah hanya akan membuat orang-orang bisa celaka karena dirinya.


Kemudian Dira berlari ke dalam hutan demi menghindari kekacauan sambil memegang telapak tangannya yang memanas akibat simbol bintang itu.


"Hosh! Hosh!" Dira sudah terengah-engah berlari.


"Dengarkan aku manusia, tidak ada manusia yang akan selamat ketika sudah mengetahui keberadaan kami para Sriver.  Belum lagi kau manusia yang telah menggagalkan rencana tuan Demon  Sriver, bocah laki-laki yang seharusnya sekarang menjadi kaki tangannya malah menjadi orang yang akan menghancurkannya gara-gara kau, kau harus dihabisi!!" ucap Ilsa yang sekarang terus mengejar Dira sambil menyerangnya.


Reyhan, apa dia masih hidup. Batin Dira setelah itu ia terpelanting akibat serangan Ilsa saat ini ia berada di pinggir jurang.


"Selamat tinggal bocah," Ilsa mengeluarkan kekuatannya menyerang Dira, Dira menundukkan wajahnya pasrah.


"Maafkan aku, kalau tidak bisa menepati janji." Dira pasrah dengan keadaannya sekarang karena berdiri saja saat ini ia tidak sanggup tampak salah satu kakinya sedang terkilir begitu juga dengan sebelah tangannya.


Bum!!


"Arggh!" rintih Ilsa kesakitan.


Ternyata sebelum sempat menyerang Dira ia di serang oleh seorang laki-laki misterius terlebih dahulu.


Suara ledakan itu membuat Dira yang sudah tidak berdaya mendonggak melihat kejadian itu.


"Kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang tengah berdiri dihadapan Dira.


Dira hanya menatapnya datar tidak ada ekspresi kemudian ia menggeleng dan berusaha berdiri tetapi tetap saja Dira tidak sanggup.


"Jangan memaksakan diri," ujar pria tidak dikenal itu sambil tersenyum dan sedikit lengah.


"Setidaknya aku bisa membunuhmu," kata Ilsa dalam kehancurannya dan menyerang ke arah Dira pria itu melindungi Dira kemudian ia langsung menyerang Ilsa lagi dan merubah makhluk itu menjadi debu.


Dira yang tampaknya tidak sanggup lagi berdiri memasrahkan diri karena sekarang tanah tempat Dira berpijak di pinggir jurang retak dan membuat Dira terjatuh, pria yang menolong Dira ingin meraih tangan Dira dari pinggir jurang namun sudah terlambat untuk meraihnya, Dira hanya memejamkan matanya pasrah.


Seandainya ini bukanlah akhir bagiku, jika ia masih hidup aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, Aku sungguh merindukannya, aku ingin bersamanya dan melakukan segala hal bersamanya serta membuktikan bahwa aku tidak apa-apa. Tapi jika ini akhir bagiku, aku tidak ingin bertemu dengannya aku tidak ingin melihatnya bersedih. Batin Dira.


"Reyhan," gumam Dira air matanya menetes di udara.


Kemudian tanda bintang di tangan Dira berubah menjadi sebuah portal yang tiba-tiba mengirimnya hilang entah kemana.


Bersambung...