Eyes Of Curses

Eyes Of Curses
Part 23



"Dira kamu makan sekarang," perintah Reyhan.


"Yah tapi kamu makan juga, kamu juga belum makan apa-apakan? Lagian mana bisa aku makan ini semua sendiri," kata Dira tidak mau makan kalau Reyhan tidak makan.


"Oke aku juga makan, ayo kita makan sama-sama. Tapi ada syaratnya, kamu harus suapin aku," kata Reyhan memberi syarat sehingga wajah Dira memerah menahan malu.


"Kamukan bisa makan sendiri harusnya kamu makan sendiri," kata Dira tertunduk malu.


"Kamu tuh, padahal dalam hati mau juga," kata Reyhan tersenyum menggoda.


"Aku-," kata-kata Dira terpotong karena Reyhan menyuapkan ikan bakar yang mereka panggang ke dalam mulut Dira sehingga Dira terpaksa menghentikan ucapannya.


"Sebaiknya gak usah banyak ngomong, daripada banyak ngomong mendingan makan sekarang. Kalau ngomong terus kapan makannya, trus tuh karena kamu gak mau suapin aku. Lebih baik, aku yang suapin kamu." ucap Reyhan.


Hap!


Dira menyumpalkan ikan bakar itu kedalam mulut Reyhan.


"Kan yang ngajak aku ngomong duluan itu kamu," kata Dira.


"Dan kalau ceritanya kayak gini, bisa-bisa aku aja yang makan jadinya," kata Dira sambil tertawa melihat wajah Reyhan yang lucu ketika mengunyah.


Akhirnya mereka berduapun makan suap-suapan sambil tertawa bersama, walaupun awalnya menolak.


Mereka begitu romantis saat wajah Dira celemotan karena makanan itu Reyhan membersihkannya. Kemudian mereka berdua teringat ketika di dunia mereka, saat Dira membersihkan mulut Reyhan yang celemotan saat makan es krim.


Wajah Dira dan Reyhan sama-sama memerah. Meskipun, mereka sudah beberapa tahun tidak bertemu tetapi rasa cinta mereka tetaplah sama bahkan rasa yang ada pada mereka menjadi semakin besar saat ini.


Krasak! Krusuk


Adegan romantis mereka terganggu karena ada yang sedang bergerak-gerak di balik semak, Reyhan waspada dengan sekitar dan berdiri di hadapan Dira dengan pedang yang siap terhunus kapan saja.


Dira hanya menatap bingung semak belukar itu, tiba-tiba muncul seekor berang-berang yang terluka Reyhan bersiap menebasnya.


"Reyhan tunggu!" teriak Dira ia pun tidak jadi menebas binatang itu.


Dira dengan tertatih berdiri mendatangi binatang itu.


"Dira hati-hati, aku mencium bau siluman pada binatang itu," kata Reyhan berjalan di samping Dira yang tertatih itu kakinya masih belum kuat.


"Apa dia siluman?" tanya Dira berjongkok mengelus-elus kepala hewan itu.


"Sepertinya bukan tapi binatang ini habis di serang oleh siluman," kata Reyhan menjelaskan dan Dira mengangguk.


"Kalau begitu akan aku obati lukanya, bukankah ini seekor berang-berang." kata Dira ia takjub karena baru pertamakali menyentuh binatang itu.


"Kamu ingin mengobatinya, kamu lupa yah kalau kamu sendiri terluka," kata Reyhan berjongkok langsung bertanya dihadapan Dira.


"Lagi pula aku juga sudah hampir sembuh hanya saja kakiku masih lemah, seandainya sudah gak lemah mungkin aku sudah sehat sekarang." jelas Dira, Reyhan hanya menarik nafas pasrah.


"Kenapa bisa ada binatang bumi di sini?" tanya Dira.


"Di dunia ini juga ada binatang bumi yang hidup biasanya ia di bawa para sriver atau siluman sebagai makanan mereka, tapi terkadang juga mereka dan teman-temannya tidak sengaja memasuki portal yang terbuka pada bumi." jelas Reyhan.


"Tapi, kalau begitu disini ada jalan keluar untuk pulang," kata Dira dan Reyhan menggeleng.


"Aku sebenarnya masih kurang mengerti dengan hal ini, tapi portal yang paling mudah di terbuka itu di bumi sedangkan di sini Arzahitonia portal untuk kembali ke bumi itu sangat jarang dan mungkin saja harus ada yang membukakannya untuk bisa kembali." jelas Reyhan.


"Mungkin saja binatang ini salah satu mangsa siluman yang terlepas," kata Reyhan.


"Kasihan, dia cukup jinak," kata Dira.


"Dan lucu, aku baru pertamakali memegang binatang seperti ini," kata Dira melanjutkan sambil mengelus-elus binatang itu.


"Kamu gak takut, nanti kamu digigit lagi," kata Reyhan.


"Binatang lucu kayak gini menakutkan? Ya, enggaklah!" kata Dira.


"Wah, jangan-jangan kamu lagi yang takut." ejek Dira.


"Enggak! Aku gak takut," kata Reyhan sok berani.


"Coba pegang!" perintah Dira.


"Gak ah aku geli," kata Reyhan.


"Tuhkan kamu takut," kata Dira.


"Aku tuh gak takut cuma geli," kata Reyhan.


"Sama aja, makanya jangan taunya cuma musnahin sesuatu." ucap Dira kesal.


"Pokoknya aku gak mau tau kamu harus pegang, kalau enggak yah berarti kamu gak berani." ucap Dira terpaksa Reyhan dengan segenap keberaniannya memegang hewan itu, ketika Reyhan memegangnya hewan itu mendengus, sontak saja Reyhan terkejut dan terjungkal kaget.


Krasak! Krusuk!


Terdengar lagi suara dari balik semak-semak.


Reyhan memasang aba-aba waspada karena ia mencium bau siluman sekarang.


Ketika Reyhan mendengar suara dari balik semak ia pun bersiap-siap dengan kuda-kuda bertarungnya.


"Dira berhati-hatilah," kata Reyhan memberi peringatan sambil berdiri di hadapan Dira dan Dira hanya mengangguk patuh sedangkan berang-berang yang bersama Dira tadi bersembunyi di belakang tubuh Dira sehingga membuat gadis itu tersenyum geli.


"Kamu juga harus berhati-hati," kata Dira khawatir pada Reyhan.


"Dira, kamu berani banget sih sama hewan kayak gitu ntar kalau di gigit gimana," kata Reyhan mengernyit  sambil berkata manis menghadap Dira sempat-sempatnya mereka berdua dalam keadaan genting seperti itu saling menggoda.


"Ah gak papa kok Rey, nanti kalau semua ini sudah berakhir kamu harus pengang hewan ini," kata Dira menatap tajam ke arah Reyhan dan Reyhan hanya menatap Dira hambar.


Grrrr!


Tiba-tiba seekor siluman serigala muncul dari balik semak, Reyhan bersiap-siap melancarkan serangannya.


"Oh ada manusia di sini, santapan yang lezat," kata siluman itu menatap Dira dan hewan yang bersembunyi di belakang Dira. Dira yang tidak tahu apa-apa malah takjub mengetahui ada serigala yang bisa bicara.


"Jangan pernah kau berharap jauh, langkahi dulu mayatku," kata Reyhan yang sekarang telah berada di depan siluman itu siap menghunuskan pedangnya.


Serigala itu berhasil menghindar.


"Oh seorang curses, kaki tangan Demon Sriver membantu manusia," kata siluman itu.


"Aku juga seorang manusia hanya saja aku mendapatkan kutukan," kata Reyhan geram mengeratkan cengkramannya pada pedangnya.


Bats!


Pedang meleset saat akan menebas makhluk itu.


"Lambat," kata siluman itu.


Srat!


Sebuah cakaran berhasil mengenai lengan Reyhan.


"Rey!!" Dira berteriak khawatir.


"Aku baru tahu kalau seorang curses punya nama sekarang," kata siluman itu.


"Dia memang punya nama tidak sepertimu dasar siluman jelek!" teriak Dira.


"Wah manusia, kamu banyak bicara sekali membuatku semakin tidak sabar untuk melahapmu," kata siluman itu.


"Tapi sebelumnya aku akan menghabisi curses itu dulu," katanya sombong Reyhan hanya tersenyum simpul.


Tampaknya cakaran siluman itu beracun dan membuat tubuh Reyhan melemah dan perlu waktu untuk pulih.


Saat siluman itu bersiap mencabik Reyhan, Dira melompat ke arah siluman itu dan mendorong kuat makhluk itu sehingga terpental bersama dirinya.


"Dasar manusia bodoh," kata siluman itu sambil mencekik Dira.


"Akhh!" rintih siluman itu ternyata berang-berang yang Dira tolong menggigit kaki siluman itu kuat sehingga leher Dira yang di cekik terlepas.


"Ukh!" rintih Dira memegang lehernya yang sakit.


Siluman itu mementalkan berang-berang itu dengan kuat.


"Kau makananku selanjutnya, mengantrilah terlebih dahulu," kata siluman itu mendatangi Dira yang terkulai lemas.


"Kau santapanku yang pertama," kata siluman itu. Saat akan menerkam Dira Reyhan begitu cepat mengambil Dira dari hadapan siluman itu, nyaris tidak terlihat.


Aura di tempat itu berubah sedikit mencengkam mata Reyhan berkilat marah cahaya mata Reyhan sedikit lebih menggelap.


"Jangan pernah kau berani melukainya atau pun menyentuhnya dengan tangan kotormu itu," kata Reyhan suaranya berubah parau seperti ingin lepas kendali.


Setelah meletakkan Dira di tempat yang cukup aman Reyhan dengan begitu cepatnya berada dihadapan siluman itu kemudian menyerangnya dengan membabi buta.


Bahkan makhluk itu tidak di beri ampun oleh Reyhan dan tidak diberi kesempatan untuk membalas serangan Reyhan yang begitu brutal.


Terakhir ia menghunuskan pedangnya ke leher makhluk itu sehingga makhluk itu hangus menjadi debu.


Tetapi tampaknya Reyhan ingin lepas kendali, kekuatannya tidak terkontrol aura hitam lagi-lagi menguar dari tubuhnya.


Bersambung...