
"Mutiara putih?" tanya Reyhan sepertinya tahu tentang hal itu.
"Aku pernah melihatnya, bukankah yang memilikinya itu Demon Sriver?" tanya Reyhan.
"Makhluk itu merebutnya dari bangsa peri lalu memusnahkan mereka, makanya mereka yang memegang pintu bisa juga membuka kunci untuk keluar dan masuk ke dunia ini." jelas Atan.
"Sepertinya mutiara putih itu yang ia tanamkan di mataku, mutiara itu ia rubah jadi hitam dan ia jadikan sebuah debu lalu ia memasukkan kemataku," kata Reyhan.
"Jadi, sekarang mutiara itu ada padamu." ucap Atan.
"Aku tidak tahu, sepertinya ia menyegel di mataku dan hanya dia yang bisa mengambilnya kembali." ucap Reyhan.
"Kalau begitu seharusnya kita melindungi Reyhan agar mutiara itu tidak jatuh ke tangan makhluk serakah itu lagi," kata Alna.
Percakapan itu akhirnya berakhir dengan mereka yang akhirnya menemukan titik masalah sebenarnya.
.
.
.
"Rey, aku akan mengembalikan sesuatu." ucap Dira menyentuh tangan Reyhan.
"Aku akan memberikan kembali apa yang kamu berikan kepadaku, aku tidak ingin menyulitkan dirimu." ucap Dira lagi.
"Tidak Dira kamu sangat membutuhkannya," kata Reyhan menarik tangannya.
"Tidak Rey, aku percaya padamu kamu pasti bisa melindungiku bagaimanapun caranya. Jika aku hanya melindungi diriku seorang tidak ada gunannya aku untuk bertarung." jelas Dira, Reyhan kehabisan kata-kata.
"Baiklah Dira, aku akan mengambilnya kembali tapi mulai sekarang kamu harus berjanji jangan pernah jauh-jauh dariku," kata Reyhan memberi syarat.
"Janji," kata Dira berjanji.
Mereka pun memulai ritual pengembalian kekuatan putih Reyhan, syaratnya mereka hanya duduk tenang dan konsentrasi, Dira dan Reyhan sama-sama memejamkan mata cahaya terang muncul dan seluruhnya menyerap kembali ke tubuh Reyhan dan Dira jatuh pingsan karena kelelahan.
"Dira," kata Reyhan memeluk tubuh Dira erat. Reyhan merasakan tubuhnya kembali pulih, ia sudah tidak merasakan aura hitam yang begitu kuat seperti sebelumnya.
.
.
.
"Jadi, Dira sekarang kamu tidak punya kekuatan apa-apa?" tanya Atan tiba-tiba muncul saat Reyhan dan Dira sedang duduk berdua.
"Iya," jawab Dira jujur.
"Sayang sekali padahal kamu itu gadis yang berbakat dalam bertarung," kata Atan, Dira tersenyum.
"Aku percaya pada Reyhan dia pasti akan selalu ada untukku meskipun aku lemah," kata Dira.
"Bawalah itu," kata Atan melemparkan sebuah belati.
"Untuk jaga-jaga. Belati itu sudah di selimuti mantra sihir, itu cukup melindungimu jika pria itu lengah, satu kali tusukan pas pada organ vital maka makhluk apa saja akan mati bahkan itu Demon Sriver sekalipun tapi belati ini cuma berlaku satu kali karena perlu setahun untuk bisa membuat benda itu berfungsi lagi." ucap Atan.
"Tapi mengapa kau memberikannya kepadaku?" tanya Dira.
"Karena kau tidak bisa membela dirimu jika dalam bahaya," kata Atan kemudian pergi.
"Kamu gak perlu cemburu, dia cuma teman bagiku." ucap Dira menyadari kecemburuan Reyhan.
"Iya aku tahu," kata Reyhan menjawab Dira.
.
.
.
Demon Sriver menyerang perkemahan mereka yang belum ada persiapan dalam pertarungan. Walaupun begitu mereka masih bisa menghabisi antek-antek Demon Sriver yang ikut bertarung. Tujuan mereka adalah untuk melindungi Reyhan agar kekuatan mutiara yang ada di matanya tidak direbut oleh Demon Sriver.
Mereka sibuk dengan pertempuran mereka masing-masing bahkan terjebak dengan pertempuran itu mereka akhirnya terpisah-pisah.
Atan dan Alna.
Luna, Argo dan Drako.
Dan tentu saja Reyhan dan Dira yang tidak terpisahkan. Mereka semua terjebak pada pertarungan mereka masing-masing.
Pertarungan saling bahu membahu, Reyhan yang melumpuhkan dan Dira yang menghabisi.
"Rey!!" Dira khawatir sambil memegangi Reyhan agar tidak terjatuh.
Demon sriver tiba-tiba muncul di hadapan Reyhan dan Dira. Hal itu cukup membuat mereka berdua terkejut dibuatnya.
"Akan ku ambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku kau tidak berguna," kata Demon Sriver mengarahkan tangannya tepat di depan wajah Reyhan.
Semua teman-temannya tidak ada yang bisa berkutik mereka pun kewalahan.
"Arrrgghh!!!" Reyhan masih berteriak kesakitan. Tiba-tiba tubuhnya melayang, Dira tidak bisa berbuat apa-apa karena ia juga harus melindungi dirinya.
Setelah melakukan ritual beberapa saat asap hitam keluar dari mata Reyhan, mata yang semula berwarna oranye itu berubah kembali menjadi warna hitam. Ia jatuh tersungkur tidak sadarkan diri.
Para Sriver-Sriver pembela Demon Sriver berhasil dilumpuhkan. Dira berlari ke arah Reyhan.
"Rey, kau tidak apa-apa?" tanya Dira menaruh tubuh Reyhan kepangkuannya.
"Di-ra, aku tidak bisa melihat apa-apa," kata Reyhan, sepertinya akibat mutiara itu di tarik paksa dari matanya Reyhan mengalami kebutaan total.
"Rey," hanya itu kata-kata yang di ucapkan Dira ia kemudian memeluk Reyhan erat, yang ia hanya perduli saat ini intinya Reyhan selamat.
"Hahahaha!! Akhirnya mutiara ini jatuh ke tanganku kembali, dasar makhluk tidak berguna. Aku akan menghabisi kalian semua," kata Demon Sriver itu ingin menggunakan kekuatan mutiara hitam.
Namun tepat saat akan menggunakan kekuatannya, seorang peri mengambil mutiara itu sangat cepat. Mutiara yang semula hitam berubah menjadi putih.
"Tidak!!!" Demon Sriver itu berteriak kencang tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ia kemudian kabur.
Semua makhluk-makhluk hitam bawahannya pun ikut mundur.
"Peri," kata mereka serempak.
"Kamu," kata Dira.
"Terimakasih karena telah menyelamatkanku waktu itu," kata Dira melanjutkan. Peri yang berjenis kelamin pria itu hanya tersenyum menanggapi Dira. Rambutnya putih dengan kuping runcing dan pupil mata berwarna hitam yang seperti kucing.
Ia berjalan ke arah Reyhan yang benar-benar sudah tidak dapat melihat, kebetulan pria itu sedang berada di pangkuan Dira.
Kemudian tanpa menjelaskan peri itu meletakkan mutiara putih itu di depan wajah Reyhan, perlahan kekuatan putihnya mengembalikan penglihatan Reyhan. Tapi karena itu warna mata Reyhan kembali menjadi berwarna oranye bukan hitam seperti sediakala yang merupakan warna asli matanya.
"Matamu akan selamanya berwarna demikian, biar bagaimana pun benda ini sudah lama mendiami matamu." jelas peri itu.
"Perkenalkan namaku Gravin," katanya memperkenalkan diri. Lalu mereka semua pun memperkenalkan diri mereka.
"Dan kamu aku pikir kau tidak selamat waktu itu, maafkan aku yang mengirimmu ke tempat ini, aku tidak memiliki cara lain untuk menyelamatkanmu." jelasnya pada Dira.
"Tak apa, aku malah berterimakasih padamu karenamu memberikan kunci masuk ke dunia ini aku akhirnya bisa bertemu kembali dengannya." ucap Dira, Reyhan mendekap erat tubuh Dira.
"Sebaiknya kita harus cepat mengalahkan Demon Sriver, jika tidak mutiara ini akan kembali menjadi hitam dan akan sepenuhnya di kuasai oleh Demon Sriver itu."
"Kita harus mengalahkannya sebelum bulan ke satu nanti malam."
"Karena saat bulan tidak terlihat semua menjadi gelap dan kegelapan itulah yang akan membuatnya menjadi semakin kuat." jelas Gravin
"Apakah kalian siap?" tanya Gravin.
"Tentu saja kami selalu siap," kata salah satu dari mereka dan semua mengangguk.
"Kau gunakanlah ini," kata Gravin menyodorkan sebuah pedang kepada Reyhan.
"Terimakasih," kata Reyhan menerima pedang itu.
.
.
.
Merekapun memulai perjalanan mereka untuk menuju markas Demon Sriver siang itu, sebelum malam hari tiba.
Perjalanan memakan waktu beberapa jam pun di mulai, akhirnya mereka menemukan markas Demon Sriver saat sore hari mampukah mereka mengalahkan Demon Sriver tepat pada waktunya.
.
.
.
Bersambung...