
Dira tersadar dari tidurnya, saat itu orang yang pertamakali di lihat oleh Dira adalah Atan. Ketika menyadari ia tengah di pangku seorang pria selain Reyhan ia buru-buru bangun.
Alna datang membawakan air untuk mereka minum, Dira pergi menjauhi Atan. Ia tidak ingin dekat-dekat dengan pria itu, ia terus memikirkan Reyhan.
Seandainya Reyhan melihat ketika Dira di pangku tadi, Dira tidak bisa membayangkan betapa cemburunya pria itu bahkan Dira tidak berani membayangkannya.
Sedangkan Atan, ada rasa tidak suka ketika melihat Dira menjauhi dirinya.
"Kak, kalian berdua itu cocok." ucap Alna memberikan penilaian. Atan tertunduk saat Alna mengatakan hal itu ada sebuah getaran yang ia rasakan di dadanya. Sedangkan Dira ia hanya sekedar tersenyum. Ia hanya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa.
Atan menatap ke arah Dira, gadis itu hanya menatap kosong ke depan angin berhembus menerbangkan rambutnya yang cukup panjang dan membuat pria itu cukup terpesona dengan Dira.
Dira menyadari jika Atan menatapnya ia pun membalikkan badan dan menatapnya balik tapi sontak pria itu membuang wajahnya ke arah lain.
Dira tidak merasakan perasaan apa-apa pada pria itu, tidak ada rasa yang spesial terhadap pria itu.
Dira, bagi Alna dan Atan adalah seorang gadis yang cukup misterius. Ekspresinya yang sulit di baca, tenang dan tidak panik dalam segala hal. Dan terkadang Alna menyadari gadis itu bingung dalam mengungkapkan ekspresinya sendiri.
.
.
.
Perjalanan mereka pun dilanjutkan, saat ini mereka tengah menuju markas Demon Sriver, mereka bermaksud mencari para pahlawan lain yang diramalkan sama seperti mereka untuk mengalahkan Demon Sriver.
Semakin lama, tempat yang mereka datangi menebarkan hawa yang begitu mencengkam.
Hawa kegelapan, kebencian, kesedihan, keputusaan dan semua hal yang bersifat negatif dan di penuhi kegelapan bisa saja merasuki pikiran dan perasaan mereka.
Dan tentu saja mereka bertiga terjebak dalam hawa kegelapan itu.
Alna ia merasakan ia saat ini tengah berada di masa lalu, ia melihat betapa berputus asanya ia ketika melihat orang-orang di desanya dibantai habis dan hanya meninggalkan dirinya.
"Akkhhh!!" Alna berteriak mengingat hal itu ia tersungkur sambil menangis.
"Alna!!" teriak Atan khawatir lalu mendatangi Alna.
Tidak lama kemudian Atan juga mengingat masa lalunya. Dimana ia di siksa oleh seorang wanita yang bahkan tidak pernah memberinya ampun dan tidak segan-segan menyiksa dan memukul dirinya, kebencian itulah yang Atan rasakan. Dan Atan pun tersungkur mulai tenggelam ke dalam masa lalu yang kelam.
Dira, saat ini ia tersungkur menutup kuping sambil menangis sesegukan. Ia mengingat Reyhan yang lenyap dan terpisah dengan dirinya, melihat semua kesedihan yang terjadi dengan dirinya bersama Reyhan.
"Hiks!" Dira mulai menangis.
.
.
.
"Hahahahahaha!!!!" di tengah keterpurukan mereka bertiga, Demon Sriver muncul dan seseorang berjubah hitam muncul tidak jauh dihadapan mereka.
"Bagaimana rasanya melihat penderitaan dan keputusasaan?" tanya Demon Sriver.
"Penyiksaan batin yang benar-benar menyenangkan. Dan tentu saja membuatku terasa begitu kuat." ucap Demon Sriver tertawa senang.
Perlahan Dira mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai mengingat masa-masa dimana ia bersama Reyhan mengalami kebahagiaan yang tentunya tidak kalah kuat dari kesedihannya. Kebahagiaan saat tertawa bersama, perasaan yang begitu hangat mulai Dira rasakan di dadanya. Dan terakhir ia mengingat mimpinya, keinginan besar untuk menolong Reyhan.
Perlahan gelang Dira bercahaya.
"Apa-apaan ini, kekuatan macam apa itu!" ucap Demon Sriver merasa terganggu.
Begitu pula dengan makhluk berjubah hitam yang berada di samping Demon Sriver.
Perlahan Alna dan Atan tersadar dari pengaruh kegelapan itu, mereka berdua mengingat kebersamaan mereka yang menyebabkan kebahagiaan yang tidak terbendung.
Dan halusinasi kegelapan akan masa lalu yang kelam berhasil mereka lalui.
"Boleh juga kalian bisa menghadapi, hawa kegelepan ini." kata Demon Sriver.
"Tapi, sayangnya tidak dengan kaki kanan setiaku. Kalian tidak akan selamat dari tempat ini," kata Demon Sriver kemudian menyuruhnya untuk menyerang.
"Serang gadis yang membawa cahaya itu!!" ucap Demon Sriver memberi perintah untuk menyerang Dira, karena menurutnya gadis itu adalah seseorang yang paling berbahaya ketimbang temannya yang lain sebab ia membawa kekuatan cahaya yang merupakan kelemahan dari Demon Sriver.
Dira di ikat oleh kekuatan kegelapan tapi gelang cahaya yang di kenakan Dira berhasil memutuskan ikatan itu.
Ketika makhluk berjubah itu akan menyerang Dira, Atan menangkis kekuatan itu.
"Mengganggu," kata Demon sriver, tiba-tiba makluk-makhluk aneh bermunculan dari dalam tanah.
"Kyaaa!!!" Alna berteriak ketika ada siluman yang hampir mencakarnya dengan sigap Atan muncul dan menolong Alna.
Dira bertarung menghadapi para siluman itu dengan pedangnya. Dan tidak sengaja cahaya pedang Dira mengenai mata makhluk berjubah hitam.
"Dia--," gumam Dira.
"Dira, awas!!" teriak Atan.
Srat!! Suara tebasan.
"Dira, ada apa? Apa makhluk itu menghipnotismu," tanya Atan.
Dira terduduk lemas, lalu menangis.
"Ka-kak Dira! Ada apa?" Alna datang menghampiri, Dira.
"Dia," Dira berucap.
"Kenapa kak? Ada apa dengannya, dia itu curses-kan dan tujuan kita adalah harus mengalahkannya terlebih dahulu." kata Alna namun Dira menggeleng membuat Alna tidak mengerti.
"Rupanya kau menyadarinya gadis manusia, tapi sayang kegelapan telah membunuhnya." kata Demon sriver.
Alna dan Atan tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Tidak, aku tidak percaya." ucap Dira mulai berdiri dengan segenap keberaniannya Dira menerjang para musuh-musuhnya.
"Hadapilah kenyataan manusia," Demon sriver menyerang Dira dengan kekuatannya, Dira ingin menangkisnya namun sayang kekuatan Demon Sriver lebih kuat sehingga membuatnya terpental menabrak batang pohon.
"Argh!!" Dira jatuh tersungkur.
"Kak Dira!!" Alna ingin mendatangi Dira tapi dicegat oleh siluman-siluman.
"Curses habisi gadis itu," kata Demon Sriver.
Dira menatap orang berjubah itu dengan mata sendu.
"Reyhan," gumam Dira lirih.
'Deg'
Di dalam kegelapan yang gelap seorang pria mendengar suara seorang yang dia kenal.
"Aku tidak takut mati ditanganmu, yang aku takut ialah kehilangan hatimu. Kuharap jika kau mengakhiri hidupku. Kau akan sadar Reyhan." gumam Dira ia tidak takut kemudian berdiri mendatangi Reyhan yang ingin menyerang.
"Dira!! Menghindar dari sana berbahaya Dira," kata Atan panik tidak bisa berbuat apa-apa sebab dia juga tengah menghadapi banyak musuh.
"Ghhh!" Atan terdorong oleh kekuatan siluman-siluman itu.
"Cerita sepasang kekasih yang amat tragis," kata Demon Sriver.
"Apa?!" kaget Atan dan Alna.
"Sepasang kekasih?" gumam Atan merasa cemburu. Entah mengapa kekuatan Atan meningkat drastis.
"Reyhan!!!!!" Dira berteriak sekencang-kencangnya sampai-sampai semua orang yang berada di situ mendengar jelas nama asli curses itu. Seketika kekuatan yang ingin menyerang Dira terbang meleset di sampingnya dan tidak mengenai gadis itu tapi cukup melubangi batang pohon yang ada di belakang Dira.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!" Demon Sriver panik.
.
.
.
Dalam alam bawah sadarnya di tengah kegelapan Reyhan melihat setitik cahaya ia mendatangi cahaya itu.
"Siapa?" tanyanya pada diri sendiri.
"Perasaan hangat ini, dari mana asalnya?" tanyanya.
"Reyhan!" pria itu mendengar sebuah suara, ia berusaha menoleh tapi sekelilingnya hanyalah kegelapan.
"Apakah asalnya dari sana?" tanyanya lagi melihat setitik cahaya itu. Ia mendekat kemudian menyentuh cahaya itu ia melihat wajah seseorang. Seorang gadis.
"Dira," gumamnya mengingat semuanya.
"Dira!!!" dan cahaya pun menelan dirinya.
.
.
.
Bersambung...